Ketika pertama kali menonton film “V for Vendetta”, ada sebuah pemahaman baru yang sangat menarik, bahwa sebuah pemikiran tidak akan pernah mati. Tubuh akan nampak renta seiring pertambahan usia, namun pemikiran memiliki ruangnya sendiri.

Berpikir adalah satu-satunya ekspresi yang mengakibatkan eksistensi seseorang nampak dengan sangat jelasnya. Dan dengan sangat cepat kita bisa sampai pada sebuah kesimpulan bahwa tidak ada kebebasan hayati di dunia ini melainkan kebebasan berpikir. Adalah pemikiran cemerlang yang membentuk sebuah peradaban.

Di tengah kemajuan pesat konstruksi pemikiran seperti sekarang ini, pertarungan pemikiran di Indonesia masih dalam tahap on going process. Di mana produksi pengetahuan secara konsepsional begitu derasnya mengalir dari era 1960-an, namun tidak dapat disangkal bahwa ekspresi pemikiran tersebut belum sepenuhnya teraplikasikan dalam program-program konkrit pengembangan masyarakat.

Salah satu tokoh yang memiliki kegelisahan tentang hal ini adalah Ahmad Wahib. Melalui torehan pemikirannya yang cemerlang, Wahib berhasil memberikan sebuah gambaran cerdas tentang cara pandang masyarakat terhadap hal-hal yang selama ini dianggap tabu menjadi perdebatan sarat makna.

Makna dari torehan pemikiran Wahib tersebut memberikan kita sebuah cara pandang berbeda. Dan dalam dimensi yang lain, kita seolah diajak untuk kembali mendalami arti dari pergulatan pengetahuan sepanjang hayat. Kita diajak belajar bersama walau dalam ruang yang berbeda, memperdebatkan sebuah tema-tema tertentu dalam luasnya alam pemikiran.

Akhirnya, lewat catatan hariannya kita bisa berkenalan, belajar dan berdebat dengan Wahib. Dia pun dengan sangat terbuka memberikan kita ruang untuk mengkritik buah pemikirannya. Sebuah pengalaman belajar yang tentu saja sangat berarti bagi kita yang telah mengkhatamkan catatan-catatannya.

Tulisan ini terinspirasi dari perkenalan penulis dengan Ahmad Wahib, sebagai sosok yang kritis dan teguh terhadap kebenaran. Keteguhan tersebut memberikan kita sebah pemahaman akan arti penting dari toleransi. Awal mula perkenalan tersebut diawali ketika penulis mengikuti Latihan Kader 1 (Basic Training) HMI di Komisariat Ushuluddin Cabang Yogyakarta.

Saat itu, melalui materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP-HMI) seorang pemateri mengutip pendapat Wahib tentang absolute entity. Secara tegas Wahib mengatakan bahwa dirinya bukanlah Nasionalis, bukan Marxis, bukan Katolik, bukan Sosialis, bukan Protestan, bukan pula Komunis. Dan dengan lantang ia berkata: “Aku adalah semuanya.” 

Sebuah pemahaman terhadap esensi kemanusiaan yang sangat mendalam ini mendorong penulis untuk selalu tidak merasa kenyang akan pengetahuan.

Dalam dimensi kehidupan apapun bentuknya, kita bisa dengan mudah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Berangkat dari keniscayaan tersebut seseorang akan berada pada dua pilihan yakni, menghargai perbedaan tersebut atau menolaknya.

Persoalannya sebenarnya bukan "apakah kita menghargai atau bertolak belakang", namun yang terpenting adalah penghargaan terhadap "perbedaan itu memberikan maslahat ataukah tidak?"

Begitupun sebaliknya, bertolak belakang dari perbedaan itu memaslahatkan atau tidak. Kedua pilihan terhadap perbedaan tadi sebenarnya akan menghantarkan kita pada pentingnya sebuah toleransi, terlepas dari pilihan apapun yang kita pilih.

Toleransi secara awam dapat dipahami sebagai apresiasi terhadap ragam perbedaan. Bentuk dari apresiasi tersebut bisa melalui ekspresi pola pikir dan juga pola laku. Secara garis besar polarisasi kehidupan dalam sebuah masyarakat tentu saja akan dihadapkan pada permasalahan yang dipicu oleh perbedaan.

Wujud konkrit dari toleransi dalam kultur masyarakat Indonesia adalah semangat gotong royong. Inilah sumbangsih masyarakat terhadap peradaban dunia. Oleh karenanya, sebagai masyarakat yang terbuka kita mestinya harus sudah terbiasa untuk dapat memposisikan toleransi sebagai sebuah ultimate goal dalam mengatasi persoalan kemasyarakatan.

Kehidupan yang toleran dapat tercapai dengan adanya kebebasan berpikir. Tapi, pengorbanan untuk memperoleh kebebasan akali seringkali sangat tinggi. Socrates dihukum mati karena ia bersikeras menjadi seorang ‘pengganggu’. Ia dengan teguh mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai berbagai hal kepada mereka yang ‘merasa’ mengetahui.

Galileo disiksa dan Bruno dibakar di atas api unggun, karena menentang kepercayaan-kepercayaan yang dianut umum pada masa itu. Spinoza dijuluki ateis, sedangkan Descartes terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan jiwanya.

Begitu pun Wahib, terbuang dari HMI, organisasi yang telah menjadi jiwanya oleh karena cita-cita pembaharuannya. Wujud manusia yang diingankannya adalah Insan Cita, di mana keutuhan dari manusia harus menjelma secara konkrit dalam kehidupan sosialnya.

Perlu dicatat, Wahib telah memberikan sumbangsih dalam mengarahkan kita pada kebebasan berpikir yang hayati. Di mana torehan pemikirannya telah turut mendobrak kejumudan ke arah pembaharuan. Ini adalah bentuk kegelisahan seorang anak muda yang sayangnya juga berujung mati muda.

Memperbaharui Pembaharuan Ahmad Wahib, Mungkinkah?

Wahib tengah galau. Mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan kegelisahan anak muda tersebut dalam konteks kekinian kita. Sosok yang selalu gelisah, berdialog dengan akalnya sendiri guna melahirkan gagasan-gagasan cemerlang.

Jika Tan Malaka memiliki, “jembatan keledai” (‘perpustakaan’ akali Tan Malaka yang juga sering disebut ezelbruggetje, beliau sering menggunakan istilah ini dalam menjelaskan gagasan-gagasannya secara sembunyi-sembunyi agar dapat dipahami) sebagai ruang dialog dengan akalnya, maka Wahib sangat rajin menelurkan gagasan-gagasannya dalam catatan hariannya. Pemikiran tersebutlah yang menjadi bom waktu di kemudian hari dalam memberikan sebuah cara pandang baru bagi generasi muda pelanjut bangsa.

Di zaman kita hari ini, kegalauan atau kegelisahan pun melanda generasi muda. Problemnya adalah domain dari kegalauan tersebut dihegemoni oleh industri melalui spirit konsumerismenya. Budaya pop pun bermunculan dengan derasnya, sehingga pemahaman terhadap modernitas seolah terarah pada produk pengetahuan (teknologi) semata.

Ukuran manusia modern pun lahir, bahwa mereka yang modern adalah mereka yang secara gamblang mampu mengoperasikan produk-produk teknologi tersebut. Hal ini tentu saja penting, sebab kita sama sekali tidak anti terhadap modernitas. Tapi problemnya adalah kita memiliki pengetahuan terhadap sebuah bidang-bidang tertentu (termasuk teknologi) namun tidak memiliki akses untuk memproduksinya secara mandiri.

Kita tengah dimapankan oleh serangan produk-produk luar, sehingga kita pun berlomba untuk menjadi konsumen yang baik. Akibatnya kemudian, demokrasi kita hanya menjadi rangkaian prosedur-prosedur kenegaraan yang sangat utopis. Kejumudan pun lahir sebagai jawaban atas respon kita terhadap agresifnya perubahan Barat dalam segala bidang.

Sehingga kita sampai pada pergulatan produk dan bukan lagi proses bagaimana membentuk sebuah masyarakat yang mampu menciptakan pertarungan kelas. Masyarakat yang tergerak melalui pengetahuannya sendiri atas kekayaan tanah, air dan udaranya.

Perubahan adalah hukum alam, maka konsesekuensinya adalah setiap manusia berkepentingan untuk menjadi pembaharu. Setiap detak dari rongga kehidupan masyarakat adalah upayanya dalam rangka mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik. Seseorang yang tidak ingin berubah dengan sendirinya akan tertinggal oleh zamannya.

Perkembangan umat manusia telah sedemikian pesatnya berlangsung, pertanyaannya adalah apakah kita telah masuk dalam kategori manusia yang sedang berkembang tersebut? Inilah fungsi dari kerja-kerja kaum intelektual, dimana dia dengan segenap hati dan pikirannya mampu menjawab dan menerjemahkan persoalan secara kongkrit dan terarah.


Wahib dengan sangat gamblang menyatakan bahwa intelektual dalam arti yang ideal adalah mereka yang educated, berkarakter serta memiliki gagasan-gagasan sosial-politik. Dia melihat masalah kemasyarakatan dari segala aspeknya, dalam interrelasinya dengan aspek-aspek yang lain. Intelektual harus dibedakan dengan scientist (ilmuwan).

Ilmuwan itu hanya memusatkan diri pada satu bidang tertentu saja (ahli atom, ahli ekonomi, ahli hukum dan sebagainya) dan kurang sekali melihat hubungannya dengan bidang-bidang lain dalam rangka kemajuan masyarakat. Sementara itu, pegangan kaum intelektual secara umum adalah kemanusiaan (humanity).

Pemisahan istilah tersebut tentu menjadi diskursus menarik, mengingat problematika kebangsaan yang sedemikian kompleksnya ini tidak hanya cukup dilihat dari satu perspektif saja. Sederhananya, Indonesia memiliki ratusan perguruan tinggi yang secara statistik peringkatnya mampu bersaing dengan negara-negara lain. Namun perkembangan keilmuan di perguruan tinggi kita belum mampu menjawab persoalan fundamental yang terjadi di masyarakat.

Di antara persoalan paling fundamental itu adalah isu kemiskinan, yang masih sangat sentral untuk diselesaikan secara kolektif. Pada titik inilah kaum intelektual harus mampu melihat interrelasi antara perkembangan pengetahuan yang ada di institusi pendidikan dengan dinamika sosial masyarakat.

Pertanyaannya adalah, mengapa majunya pendidikan secara akses dan juga pengetahuan tidak sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat? Artinya, kemajuan pendidikan melalui out put sarjananya belum mampu mengurangi deretan panjang antrian calon pengawai negeri di setiap kementrian yang ada.

Problem ini jika dilihat dari posisi kaum intelektual dalam diskursus pembaharuan akan terarah pada dua penekanan, yakni peran dan fungsi kaum intelektual. Pertama, peran kaum intelektual itu adalah sebagai garda perjuangan, di mana dengan segenap upaya dia mempersiapkan dirinya untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. Peran perjuangan ini akan membentuk sebuah generasi yang responsif dalam memosisikan problematika zaman yang berkembang.

Kedua, fungsi kaum intelektual adalah pembinaan atau pengkaderan, hal ini dimaksudkan untuk meciptakan pola regenerasi kepemimpinan bangsa yang transformatif. Sehingga para intelektual kita tentu harus memiliki visi tentang wajah Indonesia pada 20-30 tahun mendatang. Proses tersebut harus dilakukan sejak dini sehingga generasi selanjutnya sudah mampu memikirkan capaian-capaian jangka panjang yang lebih progresif.

Untuk lebih membumikan gagasan tersebut di atas, maka sudah menjadi sebuah keharusan kaum intelektual untuk merumuskan misi jangka panjang. Misi sendiri merupakan tugas dan tanggung jawab yang diemban, sehingga mission para intelektual dapat diartikan sebagai tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh intelektual itu sendiri.

Sebagai sebuah negara kesatuan sejak awal kemerdekaannya dan berangkat dari argumentasi di atas dapat dikatakan Indonesia mempunyai komitmen asasi, yakni (1) Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat bangsa Indonesia, yang dikenal dengan komitmen kebangsaan, dan (2) Menegakkan dan mengembangkan syiar keagamaan dan kebudayaan, yang dikenal dengan wawasan sosio-religius.

Kesatuan dari kedua wawasan ini disebut dengan wawasan integralistik, yakni cara pandang yang utuh terkait tugas dan tanggung jawab bangsa yang harus dilakukan sebagai warga negara dan umat beragama di Indonesia. Penerjemahan komitmen ini disesuaikan dengan konteks jaman, sehingga kaum intelektual dapat dengan mudah menyusun sebuah agenda perubahan secara konkrit di masa mendatang.

Bila dicermati, belakangan ini intelektulitas kita bisa dikatakan mengalami stagnasi, untuk tidak dikatakan degradasi. Sangat sedikit gagasan cerdas yang disumbangkan oleh kaum intelektual, untuk tidak dikatakan tidak ada sama sekali.

Sementara itu, banyak persoalan bangsa yang perlu diselesaikan. Misalnya, masalah disintegrasi yang perlu segera diatasi, masalah ekonomi mendesak untuk segera diperbaiki, masalah supremasi hukum yang harus ditegakkan, masalah pendidikan mendesak untuk diperhatikan, dan masalah-masalah lain yang melingkari, seperti budaya, pertahanan keamanan, yang kesemuanya membutuhkan penanganan secepatnya. Singkatnya, Indonesia sekarang sedang diterpa krisis multi dimensional.

Oleh sebab itu, untuk mendongkrak kembali ghirah para intelektual dalam menyelesaikan problematika bangsa dan umat, perlu adanya reaktualisasi mission dalam jiwa mereka.

Kita seolah lupa dan meninggalkan makna sesungguhnya dari intelektualitas itu sendiri, yaitu sebagai proses pembentukan individu yang memiliki karakter, nilai dan kemampuan, yang berusaha melakukan transformasi watak dan kepribadian seorang manusia yang utuh (kaffah), sehingga para generasi muda kita memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum tertindas (mustad’afin) dan melawan kaum penindas (mustakbirin).

Dalam perjalanannya, gerakan kaum intelektual begitu dimanis, mengikuti perkembangan zaman dan selalu eksis dalam setiap momen penting kebangsaan. Konsistensi itu harus diiringi oleh pegangan yang teguh terhadap idealisme dan menjaga sikap hanif (cinta kebenaran) sehingga kehadiran kaum intelektual dalam tatanan sosial masyarakat mendapat tempat yang penting sebagai embun penyejuk.

Untuk itulah sebagai bagian dari masyarakat kita harus mampu menetaskan gagasan-gagasan yang berkualitas insan cita serta merumuskan sebuah visi baru Indonesia mendatang, yakni “Terbinanya insan terpelajar, pencipta, pengabdi yang bernafaskan nilai agama dan budaya, serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridaii Tuhan Yang Maha Esa.