Pada hujan yang jatuh
Aku tidaklah setangguh September lalu
Hanya menaruh pada doamu
Berharap selamat pulang

Kita sesali hujan tiba-tiba datang
Tapi terus tembus dinginnya jalan
Bukan apa,
Biarlah kehabisan napas selami mutiara ke dasar laut

Ini nasib dari sebuah ulah atau petaka
Berlagak enggan tapi bernikmat angguk 
jangan sedih sayang
Tidak semua kekonyolan serupa kebodohan, "napasku di bibirmu"

Sampai waktu yang mengejarmu pulang
Aku antarkan hujan yang berterus terang
Membasah seluruh hangat
Aku kuasa dan kau pasrah

Es batu

Kehangatan tawaku bukan penghangat
Seperti asmara kau sebut aku es batu
Kemudian aku menjelma dirimu yang berkata es batu
Dalam wadah sama tak berubah

Cairlah sudah kehangatan malam ini
Aku awetkan dirimu dalam freezer cintaku
Tentu kumaki cahaya yang mendekat
Api yang coba menghangat

Semuanya tentu saja mungkin terjadi :
Tidak lagi ada pecinta antarkan senja
Tiada lagi teropong masa depan, atau
Keinginan petik bintang di suatu taman

Sebagai penjual es batu akulah pendusta
Berkata diambil nona bergerai rambutnya
Wanita Eropa kulit salju dan mata biru
Pendingin panasnya asmara kelabu

Kini malam, aku telah jadi es batu utuh dalam freezer hati seseorang
Pagi nanti mencair oleh mentari, “barangkali”

Berkunjung ke danau cinta

Ada yang berkunjung ke tempat romantis
Sekeliling pohon-pohon rindange sepasang bangku berkasih
Aku terus ingin disini “siapa tahu ada yang bertanya aku bule dari mana?”

Danau soroya rona, 
Pandu Wisata menjelaskan :
“belakangan muda mudi mulai dahaga, dan memilih danau pelepas haus, maka bertemulah kasih dan sayang yang meneguk cinta”

Malam merekah perjumpaan
Danau cerita ceria
Kerlap-kerlip pepohonan
Bangku taman, dan gazebo tepian

Barangkali aku merugi berkunjung sendirian
Andai seorang sayang yang menyeduhkan setetes kasih dari danau cinta ini
Aku akan berhenti berjalan dan menyudahi segala dahaga

Kutemukan namamu dalam drama (jik)

Namamu ketinggian nun jauh, sebab menyalju
Sebab aku tak mau mendengar
sebab langkah ayunkan jalan 
Rona konfrontasi dalam drama dihari rabu

Bukan aku antagonis berperan
Atau angkuh mengikuti bisikan di dada
Bukan! 
Hatilah menuntun arah

Kau paksa bersapa saat aku melupa
Maka aku sandiwarakan saja diri
pongah yang bodoh dalam dramamu
“Hari rabu hati nan ragu”

Di sudut ruang aku buang bayang
Menyelinap tak terlihat 
Mencarimu dalam romantis Scheimacher
"susah sungguh pahami baik bibirmu tanpa biak membasah"

Kerudung pink

Rona bulan pijar, aku timang kata purnama
Gemintang seluruh kejorah 
“wanita cantik berkerudung pink, menyemat warna terang tidakpun ayu, adalah upaya terlihat anggun”.

Keabaksialan kau jengkel
Aku kirim seulas puisi pendek menampik marah
Untuk hari kita bersapa 
Senyum ramah dan tidak marah-marah

Di gedung fakultas aku janji 
Biarlah cinta serupa api dalam sekam 
Tahu yang tidak tahu dimana, lagi ketahuan pekik kita mengisi seisi gedung
Meraka bertanya Kitakemanakan cinta?

Surat cinta

Kalimat ini adalah malam dan kopi
Tentang aksara dan kita terjaga
Saat kabut membalut mega-mega
isyarat pinta kenapa kita jadi beda

Temaram hinggapi setela harap
Malam dengan sepuntung obor kretek 
gelas diwarnai hitam kopi
bersayup melayang ke mega gelap

Apa kopiku memahit ditegukmu
Atau asapku persesak napasmu
Barangkali pelangi terlalu indah
Bulanlah aku semat jadi kawan

Malam mendalam, hati yang lebam
Aroma rindu berbayang-bayang
Alasan kopiku memanis
Rokokku menggugus
Bibirku berbiak

Anak malang

Kekinian milenial mereka sudah menjadi parenial
Aku bacakan naskah kuno kemaren malam
Biar usang dimakan waktu
Tapi ia berada disekitar kita

Tidak diperuntukkan pada siapa
Rengek kecil ini tersiar kabarnya
Pedagang yang tawarkan senyum
Pejalan yang menapak rumputan karang

Pemaludan takut
Malu melihat orang lain melihatnya malu
Takut melihat orang lain melihatnya takut
Apakah iya?

Kita terbangun di malam panjang 
Larik tak jua berkesudahan
Apa yang diperbuat anak jalang? 
“aku tidak malu ceritakan ketakutanku”.

Si buruk rupa

Membuang segala lirik pandang
Bidikan pada bangsa terdidik
kau akan dikata naif mencintai putri raja 
"menatap lah kau!"

Lihat drama antagonis itu dimainkan
Aku tidak tahu makna sebuah apresiasi
Bak dia tidak tahu harga sebuah lentera
"menatap lah kau!"

Dengar komedi lucu itu berbunyi
Aku tahu azek itu adalah kesialan ini 
Seperti dia tahu asyik itu adalah lelucon ini
"menatap lah kau!"

O, ambil saja sampah ini!
Didauar ulang berulang-ulang
Dinikmati cucu-cucu cantikmu 
Yang tak pudar dimakan usia

Bisa saja

Kasih,
Kenapa kau tidak paling tada
Setelah aku tidak lagi kuasa
Kenapa kau tidak palingkan wajah
Setelah aku bermungkah-mungkah

Maaf,
Jika Pelangi yang kulukis terlalu indah
Kita sama tahu dengan ketidak tahuan
Sama tidak tahu dengan ketahuan
"warna selalu kita senangi"