Kulup masih saja masyuk di ladang ketika panas bedengkang menghadang. Ia tidak mempedulikan panas yang menghampiri kulit, yang ia tahu, bibit-bibit cabai yang dibeli bersama ibu kemarin mesti ditanam hari ini juga.

“Sudah tidak ada waktu,” sebut Kulup dalam hati.

Hampir setengah hari ini ia habiskan untuk membuat lubang di setiap bedeng yang telah disiapkannya sejak minggu lalu. Ada sekitar 20 bedeng yang masing-masing akan ditanami sekitar sepuluh bibit cabai. Bukan pekerjaan yang mudah ketika harus mengerjakan semua pekerjaan ini sendirian. Namun, atas dasar tekad yang kuat dalam hati, mengingat musim tanam cabai sudah masuk pada bulan ini, Kulup mengerjakan semua tanpa pamrih. Ia paham, kalau ditanam sekarang tentu tepat pada ramadhan nanti, ia sudah bisa panen. Sehingga, kebutuhan menjelang lebaran dapat terpenuhi.

“Apalagi kalau awal-awal ramadhan nanti, pastilah harga cabai melambung tinggi,” pikir Kulup.

Ketika tengah leyeh-leyeh di pondok kecil untuk melepas penat setelah kerja seharian. Kulup dibuat tersentak oleh suara nyaring ibu dari seberang ladang. Orang-orang di kampung sudah paham betul bagaimana melengkingnya suara ibu. Jangankan satu orang yang mendengar, orang banyak pun akan dibuat kelabakan ketika mendengar ibu berteriak.

Angin seakan manut, pohon-pohon berdiri kaku seolah ketakutan, burung-burung yang bertengger kehilangan bulunya, sementara ikan-ikan disungai dibuat ribut dan terhuyung-huyung. Itulah gambaran suasana ketika ibu berteriak kencang.

“Ya,bu,” sahut Kulup sedikit gemetaran.

“Kamu ini, kenapa sama ibu sendiri kayak melihat hantu sihh,” Ibu marah tapi tetap tersenyum. “Ini ibu bawakan makan siang untukmu. Ibu lihat kamu bekerja sangat keras hari ini. Sampai-sampai tidak sadar kalau hari ini warga desa tengah menyambut festival kebudayaan. Persiapannya hampir selesai. Kau tahulah itu akan acara terbesar di desa kita. Jadi, semua hal mesti dipersiapkan secara matang.”

“Ya, bu,” jawab Kulup pelan.

Sepanjang percakapan ibu dan anak. Si anak hanya menjawab dengan dua kata, “ya, Bu” itu saja. Tidak peduli seberapa panjang ibu berbicara. Mungkin itu efek keletihan bekerja seharian, ditambah pula mendengar suara ocehan ibu yang nyaring terdengar.

“Ayo, kita pulang,” Ibu meraih tangan Kulup. “Bukannya pekerjaan kamu hari ini sudah selesai. Kalaupun belum selesai, kamu kan bisa mengerjakannya besok.”

“Tidak, Ibu. Aku harus menyelesaikan semua pekerjaan hari ini juga. Lagian, sekarang masih tengah hari. Nanti kalau langit sudah mulai gelap, baru Kulup pulang.”

Ibu memang garang pada siapa pun, khas dengan suara melengkingnya. Tapi, pada anak lanangnya tersebut, ibu selalu luluh. Kulup terkenal sangat memiliki prinsip. Selagi yang ia lakukan positif dan tidak merugikan orang lain, Kulup akan melakukannya. Tidak peduli apa pun hambatan yang akan dihadapi.

“Baiklah, nak. Jangan sampai kemalaman, ya,” jawab ibu.

Kulup tidak menjawab pesan ibu sebelum pulang. Karena ia sudah mulai dengan aktivitas percangkulan yang cukup membuat dirinya lupa akan situasi yang ada. Kulup seolah diajak menuju jagat kosmos yang lain. Ia merasa dirinya bukan lagi miliknya, tapi merupakan jiwa yang bebas dengan semua pekerjaan yang dilakukan. Kulup tidak peduli dengan ocehan, maupun kesibukan warga desa yang menggunakan pengeras suara. Sehingga, sesekali dapat terdengar sampai ke ladang Kulup.

Kulup saat itu bukanlah Kulup, Kulup sudah hilang. Esensi diri Kulup, kini menyatu dengan semua pekerjaan yang dilakukannya. Ia tidak merasakan letih ataupun payah. Sebab, pekerjaan yang dilakukannya membuatnya merasa tengah menarikan tarian sufi, sebagai wujud kedekatan diri pada sang pencipta.

“Aku sudahi saja pekerjaan hari ini. Kelihatannya semua bibit cabaiku, telah ku tanami semua. Saatnya untuk mengakhiri hari dan segera pulang,” gumam Kulup dalam hati.

Diperjalanan pulang, Kulup merasa heran dengan warga desa yang dilihatnya. Semua sibuk sendiri, semua bermewah-mewahan sendiri, semua berhias, semua membeli yang baru hanya demi perayaan festival yang satu hari itu.

Kekesalan Kulup semakin membuncah ketika mengetahui kalau ada seorang politikus yang akan bertarung pada pemilihan umum juga memberikan sambutan pada acara puncak nanti.

“Aduhhh.. melihat semua ini, agaknya aku harus lebih banyak menyendiri di ladang. Tapi, semua yang ada diladangku, sudah ku tanami. Hufftt.. Andai aku punya lebih banyak ladang lagi,” Kulup berbicara dalam hati.

Sesampainya di rumah, Kulup langsung mandi. Mengerjakan shalat magrib dan setelah itu makan malam bersama ibu. Di meja makan inilah, Kulup memiliki banyak waktu untuk berbicara bersama ibu, menceritakan keluh atas dunia yang fana dan tidak benar-benar dapat diandalkan. Tapi, masih saja semua orang mengejarnya, melakukan apapun tidak peduli batasan moral dan etika, yang penting mereka mampu meraih dunia hanya untuk sekadar mendapat sanjungan dari kawan-kawan mereka yang tidak tahu diri. Bagaimana tidak tahu diri ? mereka ada ketika senang, tapi mereka lenyap ketika kesusahan datang.

Kulup menumpahkan semua kegelisahannya pada ibu. Sampai lupa waktu, kalau sekarang sudah hampir jam 11 malam dan sudah waktunya untuk tidur. Ibu dan Kulup mesti bergegas menutup lembaran hari ini untuk kemudian menyiapkan diri mengisi hari esok dengan cerita yang bisa saja berbeda, atau mungkin saja sama. Kalau pun sama, yang membedakan hanyalah konteks ruang dan waktu saja.

“Selamat tidur, bu. Biarkan cerita dan gelisah hari ini menua bersama waktu. Biarkan ia pergi dari rumah ini, dan bersama-sama kita do’akan agar ia kembali dalam rupa yang berbeda. Rupa yang penuh kebaikan dan keikhlasan. Ya, bu,” tutup Kulup mengakhiri hari.

“Ya, nak,” kali ini ibu yang hanya menjawab singkat.

Empat hari atau lebih tepatnya, tiga hari dua puluh jam, tiga puluh menit, dan didetik ke sembilan berikutnya acara festival kebudayaan desa dilaksanakan. Semua persiapan sudah selesai, panggung, susunan kursi, makanan, serta para undangan sudah siap. Tinggal menunggu pembawa acara saja untuk memulai acara.

Tiga puluh menit acara berlalu, sampailah pada kata sambutan yang akan disampaikan oleh politisi yang juga akan bertarung pada pemilihan umum nanti. Sekian panjang berpidato dengan berbagai mimik dan intontasi suara yang meyakinkan. Ada berbagai janji yang terucap, tentang ini dan tentang itu, akan membuat ini dan akan membuat itu, lanjutkan ini dan perbaiki itu, bantu ini dan bangun itu, sangat panjang sekali.

Namun Kulup yang berada di barisan para warga berkata dalam hati.

“Halaahh,, kegelisahan yang telah kubiarkan pergi tadi malam, rupanya langsung menampakkan wujudnya hari ini. Bukan dalam rupa kebaikan dan keikhlasan seperti yang ku harapkan semalam. Tapi dalam rupa yang menyesakkan dan tidak tahu diri.”

Tidak tahan dengan pidato sang politisi. Kulup pun berdiri dan memotong pidato sang politisi.

“Saudara yang didepan, yang sedang berpidato. Terima kasih untuk semua janji-janji anda. Tapi saya ingin bertanya pada saudara, saudara tahu nama tetangga saudara, nama seluruh keluarga besar saudara, apa yang dimakan tetangga saudara hari ini, dimana rumah seluruh anggota keluarga besar saudara saat ini. Apakah mereka sehat-sehat saja?.”

“Sudahlah.. mendingan saudara ikut menanam cabai saja bersama saya. Biar kita sama-sama tahu bahwa rasa pedas itu ada melalui proses yang panjang sampai berbulan-bulan. Biar ku bawa saudara menuju pengalaman spiritual melalui aktivitas menanam cabai. Tidak usah muluk-muluk mau membangun ini atau membangun itu. Mari bangun diri sendiri, barulah kita berbicara membangun orang lain, bangsa dan negara,” tutup Kulup yang disertai dengan kebingungan warga desa dan politisi yang berpidato didepan.

Dan cerita pun berakhir saat itu dan detik itu juga.