Akhir-akhir ini sering banget kita mendengar istilah insecure. Dikit-dikit insecure, dikit-dikit baper dan insecure. Iyes, utamanya dalam dunia virtual. Liatin postingan teman aja bisa muncul insecure. Insecure diidentikan dengan hilangnya rasa percaya diri akibat merasa diri lebih minor dari orang lain. Saking seringnya kita mendengar istilah insecure, maka dengan mudahny kita tergiring untuk merasa demikian, insecure, down, dan nggak pede.

Kalau dibiarkan terus menerus, tentu kita bisa terjebak framing insecurity ini. Karena jika banyak ditelaah lagi, insecure ini sejatinya muncul sekedar karena apa yang dicapai orang belum kita capai. Dan parahnya, kebanyakan kita pakai perbandingan yang nggak apple to apple alias enggak seimbang. Jadi, insecure disini lebih karena rasa ‘iri’ aja, bukan karena kita nggak mampu. Dan sumpah ini bahaya banget guys kalo kita pelihara, yang secara sadar atau tidak mudah banget bergumam “duh insecure nih”.

Emang segitu bahayanya yah merasa insecure? Ya iya donk, pasti! Jika kita didera insecurity alih-alih termotivasi, kita justru merasa down. Secara mental, kita seperti merasa minor yang berakibat mengikis rasa percaya diri kita. Eits bukan itu aja, insecure yang salah juga menimbulkan rasa tidak bersyukur atas apa yang kita miliki. Lebih lanjut kita bakalan tumbuh menjadi orang yang tidak produktif bahkan menjadi toxic buat lingkungan sekitar. Bagaimana nggak, disuruh apa gitu, lantas menganggap diri nggak mampu, nggak bisa, padahal nyoba aja belum. Apa nggak toxic tuh? Bete juga kan kalau punya rekan atau bahkan keluarga yang seperti itu?

Nah, makanya biar kita tidak terjebak bias framing dari social media yang gampang banget buat kita merasa insecure, mesti banget kita telaah step demi step ini.

  • Cek Sumber Insecure Kita 

Coba periksa apa yang membuat kita gampang merasa insecure, pencapaian dalam hal apa. Ini perlu banget kita sadari agar kita bisa lebih selektif dalam menginput informasi ke dalam otak kita. Kurangi stalking akun-akun non faedah yang hanya semena-mena menampilkan kehidupan materialis semata. Atau kalau memang dirasa tidak bisa memfilter feeds yang muncul di beranda social media kita, cobalah untuk mengurangi intensitas scrolling dan baca-baca social media. Dari threat twitter, reels di Instagram, tiktok, maupun vlog-vlog non faedah di youtube yang cuman menimbulkan hasad semata.

Ingat ingat, informasi yang kita baca, kita dengar, adalah konsumsi otak kita. Sama dengan tubuh fisik kita, jika yang kita konsumsi adalah makanan yang tidak sehat dan bernutrisi tentu saja tubuh kita bakal menjadi lemah, tidak sehat, dan hanya sekedar menimbun toxic yang merusak tubuh. Nah exactly the same dengan otak dan pikiran kita, kalau informasi yang setiap hari masuk hanyalah informasi non faedah yang tidak menambah pengetahuan ataupun bermanfaat untuk mengupgrade diri, mending tinggalkan saja.

Sama halnya dengan insecurity ini. Yang sejatinya muncul kebanyakan dari bias framing yang tercipta akibat terlalu banyak exposure kehidupan personal seseorang. Jadi sekali lagi, kalau kita mulai sadar gampang merasa insecure nih, cek cek lagi sumber sebabnya dan cut them off yah. Agar mental kita lebih sehat dan positif.

  • Sadari, social media hanya menghimpun bright side saja

The second thought, kita mesti banget banget sadar kalo virtual life di social media itu sejatinya bukanlah gambaran nyata hidup seseorang. Socmed itu hanya menampilkan bright side saja. Apa yang diposting tentu diseleksi terlebih dahulu sama si empunya. Yang jelek-jelek tentu saja lewat, yang di-publish hanya yang keliatan bagus aja.

Maka, nggak usah iri bos, kalau kehidupan temanmu keliatan lebih seru dari hidupmu. Itu hanya sekeping moment hidup dia saja. Dan belum tentu hidupnya overall lebih baik dibanding hidupmu. Kita kan nggak tau derita dia, perjuangannya, dan lain sebagainya. Kalau kita paham kesusahannya, pasti kita pun nggak mau menjalani hidup sepertinya.

Jadi harus banget kita sadar, bahwa socmed itu bukanlah referensi kita untuk mengukur capaian seseorang. Banyak orang-orang hebat di dunia nyata yang sibuk mengakutualisasikan dirinya bagi kemaslahatan umat yang hidupnya lebih berprestasi dan bermakna, dan saking produktifnya mereka sampai nggak sempat mempercantik tampilan kehidupan virtual mereka.

  • Fokus pada hidup kita sendiri

Berikutnya yang terpenting saat kita dilanda perasaan insecure yaitu berfokus pada diri kita bukan orang lain. Ubah mindset kita bahwa rasa insecure itu muncul bukan karena kita tidak mampu, kita hanya mungkin belum mempersembahkan usaha terbaik kita, atau mungkin fokus dan prioritas hidup kita berbeda. Maka berfokuslah pada hidup kita sendiri alih-alih sibuk stalking kehidupan orang lain lewat akun-akun digitalnya.

Embrace yourself! Cobalah untuk mencintai diri sendiri dimulai dengan bersyukur, bersyukur dengan apa yang kita miliki. But, sist please aku nggak punya apa-apa untuk disyukuri. Even, hari ini kita masih bernafas saja, it worth to be thank for. Masih bisa hidup saja bersyukur, apalagi tubuh kita masih sehat dan kuat. Di saat banyak orang menderita sakit, dan kita masih sehat kuat, maka syukuri itu. Belum lagi segudang fasilitas hidup yang kita punya, rasa aman, kecukupan rezeki, dan sebagainya. Dengan bersyukur maka kita akan lebih mudah mencintai diri kita sendiri.

Karena itu, fokuslah pada hidup kita, syukuri apa yang kita miliki, cintai hidup dan diri kita apa adanya. Sehingga kita mampu menghempaskan insecurity jauh-jauh dari hidup kita.

  • Ciptakan milestones kita sendiri

Yang cukup ampuh untuk menghindari rasa insecure yang dalam diri adalah menciptakan milestones kita sendiri. Tentukan capaian yang ingin kita raih sendiri, jangan hanya menyontek capaian orang lain, karena kondisi hidup setiap orang berbeda-beda.

Cobalah buat tuliskan target besarmu, kemudian jabarkan dalam bentuk yang lebih sederhana. Kemudian pasangkan dengan timeline hidup kita masing-masing.  Buat target yang jelas dan fokuslah dengan milestones kita sendiri. Kalau kita dengar kehidupan orang lain yang baik, bersyukurlah untuk mereka, nggak usah hasad pun iri dengki guys, selow aja. Fokus pada milestones kita sendiri dan terus kembangkan diri, jangan berhenti.

Jadi semudah itu lho teman-teman semua untuk menumpas insecurity dari hidup kita, yang terpenting adalah kita sadar dan mau berubah. Tidak selamanya membiarkan diri kita tenggelam dalam arus bias framing yang merusak kesehatan mental kita. Kita adalah kapten untuk hidup kita, kemana arah hidup kita, mau lebih baik atau terpuruk, kita yang menentukannya. So, help yourself.

Fokuslah pada hidup kita, bersemangat mengejar milestones kita sendiri, dan teruslah berkembang. Hidup Cuma sekali lho, sia-sia banget jika hanya tenggelam dalam bias framing yang salah.