Natal telah berlalu. Euforia perayaan natal di negeri ini termasuk meriah. Tak hanya dari kalangan Kristen saja yang merayakan. Umat beragama lain juga terkena imbas dari meriahnya perayaan natal.

Namun sayangnya, masih saja ada sebagian kelompok yang “memperkeruh” suasana perayaan agung tersebut. Hal ini cukup disayangkan mengingat tradisi di negara kita yang sedari dulu sangat menghormati hari raya umat Kristen tersebut. Meskipun warga negara kita ini mayoritas menganut agama Islam.

Hubungan kemanusiaan yang melintasi dimensi agama, etnis, dan suku juga mulai berkembang pesat. Masyarakat mulai menyadari akan pentingnya kerukunan antarumat beragama guna membawa bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan sejahtera. Namun, apakah cita-cita itu akan terwujud jika masyarakatnya saja masih bertengkar dalam ruang lingkup isu-isu yang menurut saya tidak penting?

Ucapan “selamat natal” masih saja menjadi polemik murahan yang bisa dipastikan menjadi trending topic setiap akhir tahun. Ditambah lagi masalah pelik tentang konflik antaragama, yang seakan terus-menerus memicu berkurangnya kesadaran humanis dari setiap individu. 

Yang paling baru adalah fatwa MUI nomor 56 tahun 2016 tentang haramnya memakai atribut natal bagi setiap warga Muslim. Dan sedihnya lagi, kelompok intoleran menggunakan fatwa ini sebagai dasar diperbolehkannya melakukan razia di pertokoan agar karyawan Muslim tidak menggunakan atribut natal.

Saya masih berhusnuzon bahwa mereka belum memahami apa itu sebenarnya fatwa. Mereka belum bisa membedakan antara fatwa, qanun, dan qadha (keputusan hakim). Mereka dengan sangat percaya diri menyatakan bahwa yang dilakukannya adalah perintah agama. Tidak bisa ditawar! Begitu kira-kira. Tanpa harus menggunakan sudut pandang lain yang lebih fundamental.

Tak berlebihan jika Buya Syafii Maarif yang juga mengutip dari Zuhairi Misrawi dalam bukunya menyebut orang-orang seperti ini bisa dikatakan kaum egoistik. Tentunya, keegoistikan ini menjadi masalah yang sangat besar.

Jika setiap individu atau kelompok masing-masing bersifat egoistik, apa yang akan terjadi? Tak dapat dipungkiri, pertengkaran bahkan perang akan terjadi. Ini logis, karena setiap individu akan berusaha sekuat mungkin memenangkan kepentingannya. Dan konsekuensinya adalah: saling serang. Yang pada akhirnya akan menimbulkan peperangan.

Kembali ke fatwa atribut natal. Menggunakan teori simbolik George Herbert Mead, yang menyatakan bahwa setiap tindakan yang dilakukan manusia tak lepas dari imajinasi dalam menciptakan dunianya.

Tak berlebihan jika saya mengatakan fatwa MUI yang keluar baru-baru ini tak seharusnya dikeluarkan. Kenapa? Karena fatwa tersebut, disadari ataupun tidak, telah mempersempit gerak imajinasi manusia. Dalam hal ini, demokrasi di negara kita tak akan lagi dapat berlangsung.

Fatwa ini pun tak pelak telah menimbulkan keresahan-keresahan di masyarakat luas. Hanya karena masalah simbol, orang tak dapat mengeluarkan imajinasinya yang berimbas pada ketidakmampuannya mengikuti keceriaan dan kemeriahan yang berlangsung. Pada level angan-angan saja, fatwa ini telah menghambat laju humanisme persaudaraan antar umatberagama.

Saya teringat tatkala dosen saya yang juga menjabat komisi fatwa MUI DIY, Drs. Fuad Zein menanyakan kepada segenap mahasiswa, fatwa apa yang membahayakan? Tak satu pun mahasiswa bisa menjawab, dan jawabannya tak ada yang bisa mengira.

Jawaban beliau adalah: fatwa yang dikeluarkan tapi masyarakatnya belum bisa menerimanya. Jawaban ini bisa dianalogikan terhadap fatwa MUI tentang keharaman atribut natal di atas.

Lalu bagaimana kejadian ini jika dianalogikan dengan umat agama lain yang ketika beribadah menggunakan atribut yang dianggap atribut Islam?

Kita tahu misalnya, ada umat Kristen di Flores yang ketika ke gereja menggunakan bawahan semacam sarung. Atau umat Buddha di Gunung Kidul yang ketika beribadah ke wihara, atribut yang mereka pakai sama persis dengan atribut yang digunakan umat Muslim saat hendak beribadah ke masjid, seperti sarung, baju koko, serta peci. Demikian yang diungkapkan Dr. Sri Wahyuni dalam salah satu penelitiannya.

Nurcholis Madjid dalam bukunya, Islam: Doktrin dan Peradaban, menyatakan bahwa iman adalah sarana untuk melakukan emansipasi harkat kemanusiaan. Karena secara asasi, iman adalah upaya memberikan keamanan dan kesentosaan.

Di sini Cak Nur mendifinisikan iman dalam cakupan lebih luas dan menggunakan perspektif humanis. Kerena sejatinya ‘iman tak hanya berarti percaya, tapi juga berfungsi sebagai sarana pembebasan.

Dari pandangan ini muncul sebuah pertanyaan, jika iman memang digambarkan demikian, lantas apa dalih seseorang yang menggunakan dasar iman untuk mengintimidasi orang lain seperti yang terjadi di Sragen dalam sebuah rencana razia atribut natal di pertokoan?

Fathorrahman Ghufron dalam bukunya, Ekspresi Keberagamaan di Era Milenium, menggambarkan Paus Fransiskus sebagai sosok yang perlu diteladani sebab kesederhaannya.

Kesederhaan adalah salah satu faktor penyebab tumbuhnya kesadaran humanis dalam diri seseorang. Hal ini banyak contohnya, Gus Dur semisal, yang dengan kesederhanaannya mampu melintasi dimensi apa pun dalam menerapkan kehumanisannya.

Dalam ungkapan selanjutnya, Fathorrahman juga menyatakan upaya Paus Fransiskus dalam melakukan “konversi kepausan” dan revitalisasi peran gereja menjadi simbol keimanan yang bernuansa teologi pembebasan. Dalam artian, Paus Fransiskus menjadikan keimanan kaum Katholik sebagai sarana pembebasan dari belenggu keterbelakangan.

Oleh karenanya, Natal kali ini menjadi momentum yang sangat tepat untuk menumbuhkan kembali kesadaran humanis dalam keberagamaan, kemanusiaan, dan persaudaraan antarumat beragama.

Natal kali ini diharapkan bisa mengokohkan kembali iman dalam konteks teologi pembebasan sebagai benteng dari rongrongan kaum egoistik, yang lambat laun akan mempengaruhi kita dalam menyikapi cara-cara beragama yang santun dan suci. Tentu dengan tujuan mengukuhkan Indonesia menjadi negara yang sejahtera, makmur, dan berkeadilan.

Selamat Hari Raya Natal bagi segenap warga Indonesia yang merayakan. Damai selalu menyertai kita semua.