Setelah saya membaca tulisan Menulis untuk Menghibur Diri-nya Pak Agus Buchori, yang menceritakan tentang betapa asyiknya seorang J.K. Rowling pada saat ia melakukan aktivitas menulis, bertambahlah semangat saya untuk menulis. Dalam tulisannya itu, Pak Agus menyampaikan bahwa J.K. Rowling menyelami dunia menulisnya itu dengan penuh rasa cinta dan keasyikan.

Begitu asyiknya Rowling dalam dunia literasi itu, sehingga ia sendiri pun mengakui bahwa tidak ada seorang pun di antara penggemar karyanya itu yang mampu untuk menandingi rasa cintanya terhadap aktivitasnya menulis melebihi dirinya sendiri.

Berdasarkan pernyataan Rowling ini, saya pun berkesimpulan bahwa aktivitas menulis bagi Rowling adalah hobi yang sangat akut baginya. Di saat kebanyakan orang menganggap kegiatan menulis adalah perkara yang menakutkan, membosankan, dan bahkan dianggap tidak produktif, Rowling seakan berani hadir sebagai antitesis dari anggapan-anggapan kebanyakan orang itu.

Bagi para penulis, khususnya penulis pemula seperti saya, tentu ingin mencapai maqam yang sama dengan yang dimiliki oleh Rowling ini. Kegiatan menulis baginya seakan telah menjadi nafas dalam kehidupannya. Dan nyatanya, hal yang telah tekuni dan geluti itu pun berbuah materi kehidupan yang melimpah baginya, seiring diterimanya karya-karyanya itu di kalangan para pembaca.

Untuk menggapai tingkatan Rowling yang mampu menulis dengan sepenuh hati ini tentu bukanlah perkara yang mudah. Sebab, sebelumnya para penulis itu tentu harus melampaui beberapa tingkatan di bawahnya terlebih dahulu.

Saya menganggap setidaknya ada dua tingkatan yang harus dilampaui oleh seorang penulis sebelum sampai pada maqam­-nya Rowling, yakni maqam mahabbah atau derajat kecintaan dengan aktivitas menulis. Tingkatan yang harus ditempuh tersebut antara lain: Pertama, kita harus paham betul dengan apa yang kita tuliskan; Kedua, kita harus mampu menyukai tulisan kita; Dan barulah kita bisa beralih ke tahap yang paripurna, yakni kita akan menyukai aktivitas kita sebagai penulis.

Untuk tahap yang paling elementary atau yang paling dasar adalah kita harus paham dengan maksud isi tulisan kita. Dan sebenarnya hal ini adalah sebuah keniscayaan yang harus ada dalam setiap tulisan. Secara logika, kita akan mampu memahamkan orang lain manakala kita sendiri telah paham dengan tulisan kita. Demikian pula sebaliknya, kita akan berpotensi membingungkan orang lain, manakala kita sendiri tidak paham dengan konsep tulisan kita.

Untuk meyakinkan pemahaman kita atas tulisan yang telah kita buat antara lain kita dapat melakukan pembacaan yang berulang. Misalnya, setelah kita menyelesaikan menulis satu artikel, makalah, atau jurnal, maka sebaiknya kita tidak segan-segan untuk membacanya kembali.

Barangkali dengan melakukan pembacaan berulang atas karya kita ini, kita akan menemukan beberapa hal yang akan mengganjal dalam pemahaman kita. Misalnya, kita mengalami gangguan pemahaman sebab adanya typo atau salah pengetikan, pemilihan diksi yang tidak tepat, atau ketersambungan (koherensi) antar kalimat dan antar paragraf yang perpindahannya terasa terlalu menukik tajam sehingga terkesan tidak nyambung.

Pada saat kita melakukan pembacaan secara berulang, sekali, dua kali, tiga kali, dan seterusnya, kita tentu akan menemukan kesalahan-kesalahan macam ini. Dan manakala kita telah menemukan kesalahannya, ya tugas kita tinggal memperbaiki dan merapikannya saja, agar tulisan kita semakin mudah dipahami, setidaknya untuk diri kita sendiri.

Setelah kita dapat memenuhi tahap yang paling basic ini, barulah kita dapat beralih untuk berlatih pada tingkatan di atasnya, yakni membuat kita mencintai tulisan kita sendiri. Secara sederhana, untuk membuat kita bisa semakin mencintai karya tulis kita, maka hal yang sebelumnya kita lakukan adalah dengan membersihkan karya kita dari kesalahan-kesalahan pemahaman seperti yang telah dijelaskan pada poin kesatu ini.

Dan manakala kita telah yakin bahwa tulisan kita telah bebas dari kesalahan, maka kita dapat mengeksplorasinya lagi untuk memilih diksi-diksi yang menantang sehingga membuat karya kita terasa lebih hidup. Pemilihan diksi yang atraktif ini akan menjadikan karya kita tidak lagi terkesan klise yang miskin pemilihan kata-kata, yang mengesankan tulisan kita itu terlalu formal.

Untuk memproduksi tulisan yang terasa lebih hidup dan tidak klise, kita juga dapat belajar dari banyak-banyak membaca gaya tulisan populer maupun karya sastra. Setelah kita mempelajari gaya tulisan populer dan karya sastra dari para penulis kenamaan ini, maka tidak ada salahnya bagi kita untuk mempraktikannya dengan cara memunculkan kata-kata tersebut dalam tulisan kita.

Hal ini akan berpotensi menjadikan karya tulis kita terasa lebih hurub atau hidup. Setelah tulisan kita terasa lebih hidup, barulah kita akan merasakan sedikit demi sedikit kenyamanan dan kenikmatan pada saat kita membaca tulisan kita sendiri ini. Pada keadaan inilah, kita akan mulai mampu untuk mencintai karya-karya tulisan kita.

Upaya lain yang dapat kita lakukan untuk semakin mencintai karya-karya tulisan kita adalah dengan cara mempublikasikannya pada laman-laman tertentu. Dengan menerbitkan karya kita ini maka akan ada lebih banyak orang yang dapat menikmati karya kita.

Dengan menerbitkan karya kita pada laman tertentu, kita pun akan dapat mengevaluasi diri kita. Apakah tulisan kita memang sudah layak untuk diterbitkan. Kita dapat memperkirakan hal-hal apa sajakah yang menyebabkan para pembaca menyukai dan tidak menyukai karya-karya kita. Juga saran apa saja yang telah diberikan oleh para editor dan para pembaca untuk tulisan kita, dan seterusnya.

Dengan membenahi tulisan kita secara berkala, saya yakin bahwa karya kita itu pun akan semakin baik dengan sendirinya. Dan dengan kondisi tulisan yang semakin baik ini, maka akan semakin mudah bagi kita untuk menggerakkan hati kita agar semakin mencintai karya kita.

Pada tingkatan yang terakhir adalah menjawab pertanyaan, bagaimana caranya agar kita dapat menulis dengan menghadirkan hati kita, sehingga kita dapat merasakan keasyikan sama seperti yang J.K. Rowling rasakan pada saat ia sedang menulis?

Untuk mencapai tahap itu, tentu pertama kali kita harus melampaui dua maqam di atas tadi. Yang mana dengan melampauinya, setidaknya kita akan memiliki bekal mental yang semakin membaja pada saat tulisan kita mendapatkan kritikan, penolakan, bahkan perundungan dari orang lain.

Faktor lain yang dapat meningkatkan rasa cinta terhadap menulis adalah dengan menyadari dan mengalami sendiri bahwa aktivitas ini ternyata mampu mendatangkan penghasilan bagi kita. Entah berapa pun nominal yang akan kita dapatkan dengan menjadi penulis, namun setidaknya hal ini akan menyadarkan kita bahwa kegiatan menulis ternyata adalah hal yang produktif dan tidak sia-sia.

Profesi sebagai penulis banyak sekali ragamnya. Mulai dari juru ketik, kontributor, penulis kolom, editor, penulis jurnal penelitian, hingga penulis novel yang best seller maupun yang tidak best seller.

Dengan menyadari adanya peluang pundi-pundi penghasilan dari kegiatan menulis itu, kiranya akan membuka mindset kita bahwa ternyata tulisan kita telah mendapatkan apresiasi dalam bentuk finansial, yang bahkan nilainya bisa saja akan sangat menggiurkan, pada saatnya nanti.

Dalam pandangan lain, kita juga dapat mengutip perkataan dari imam al-Ghazali untuk meningkatkan semangat dan rasa cinta kita dalam menulis. Suatu ketika ia pernah mewasiatkan, bahwa jika kita bukanlah seorang yang bergelimang harta dan kita bukan pula keturunan dari seorang raja, maka alangkah baiknya kita menjadi seorang penulis.

Penuturan beliau ini kiranya patut menjadi perenungan bagi kita, kenapa kita harus menjadi seorang penulis manakala kita tidak memperoleh dua privilege tadi. Imam al-Ghazali tentu memiliki alasan tersendiri sehingga beliau menyarankan kita untuk mendalami dunia tulis-menulis itu.

Sejujurnya, sudah lama sekali dan entah sudah berapa tahun saya memahami maksud dari imam al-Ghazali ini. Dan belakangan saya baru mulai berani menyimpulkan bahwa pernyataan beliau ini ada benarnya. Sebab dengan menjadi seorang penulis, maka kita pun juga dapat memberikan manfaat pada orang lain seperti halnya manfaat yang mampu diberikan oleh dua golongan yang ber-privilege tadi.

Bagi orang yang memiliki tampuk kekuasaan, mereka dapat memberikan manfaat bagi orang lain dengan keadilan dan kebijakannya. Sementara seorang hartawan dapat bermanfaat bagi orang lain manakala ia telah mendermakan hartanya.

Dan bagi para penulis pun berpeluang menghadirkan manfaat bagi orang lain dengan cara mendermakan pengetahuannya dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, masing-masing orang akan memiliki peluang untuk menyumbang manfaat bagi orang lain dengan cara yang berbeda.

Dan baru-baru ini juga, saya mulai memahami bahwa ternyata menulis itu juga merupakan sebuah kemewahan. Kemewahan dalam bentuk karya pikiran dan waktu luang yang telah Tuhan anugerahkan pada diri kita. Secara logika, bagaimana mungkin kita akan mampu menghasilkan karya tulis ini manakala kita tidak memiliki ide dan waktu luang untuk melakukannya.

Dan sebagai bentuk syukur kita atas waktu luang dan pengetahuan yang telah diamanahkan oleh Allah pada diri kita ini, maka alangkah baiknya, jika kita menggunakannya untuk membuat karya dokumentasi dalam bentuk tulisan. Barangkali tulisan kita itu akan memiliki manfaat untuk diri kita sendiri maupun orang lain yang membacanya.

Dan pokok kesimpulannya adalah bukankah dengan bersyukur ini berarti kita telah menyadari betul akan adanya kenikmatan-kenikmatan yang pada diri kita ini. Yang selanjutnya kita pun sama-sama tahu, bahwa Tuhan pun telah berjanji pada kita bahwa Ia akan menambahkan nikmat itu pada kita manakala kita mau bersyukur atas nikmat-nikmat dari-Nya.

Dalam bahasan tentang aktivitas menulis ini, kiranya kita pun akan mulai menyadari bahwa bukankah dengan mensyukuri aktivitas menulis ini, maka Allah SWT pun akan menghadirkan kenikmatan-kenikmatan menulis lainnya pada diri kita?

Entah kenikmatan itu dalam bentuk hasil karya kita yang telah jadi, adanya nilai manfaat dari karya tulis kita untuk diri kita maupun orang lain, serta nikmat dalam bentuk kesadaran bahwa Tuhan telah menganugerahkan kita pengetahuan dan waktu luang untuk melakukannya. Barangkali, pengalaman-pengalaman macam inilah yang mungkin akan dialami atau telah dialami oleh para penulis itu.