Kemarin saya diundang mengisi kegiatan workshop sekolah penulisan sejarah yang dilaksanakan oleh Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Acara yang diselenggarakan pada tanggal 23-25 Agustus 2019 ini mengusung tema "Menulis Sejarah, Menulis Jati Diri".

Sebelumnya, teman baikku, yang sudah seperti adik sendiri, Muja (adiknya kak Cia) menghubungiku. Muja adalah salah seorang (bapak) guru sejarah di sana. Dia menghubungiku melalui jalur pribadi (japri) di WhatsApp (WA).

"Tanggal 23 ini ada acarakah, kak? Sekolah kami mengadakan workshop penulisan sejarah. Kami merencanakan kakak sebagai salah satu pemantiknya," kata Muja.

Saat itu saya bingung. Keluarga kami lagi memanggil tukang bor air yang akan mulai bekerja di tanggal 20-an. Sumur di tempat kami memang mulai kering, airnya sudah sedikit dan terkadang keruh karena bercampur tanah dan pasir. Mana ayah mau ke Makassar. Dan itu yang kukatakan pada Muja.

"Acara penculikannya cuma dua jam, kak," canda Muja berusaha meminta kepastianku.

Saya cuma tertawa dalam hati, merasa malu sendiri. Lalu saya pun mengatakan InsyaAllah dengan catatan di WA, "Saya bukan ahli sejarah."

"Iye, kak. Kakak bagian memantik anak-anak agar termotivasi menulis. Menulis ringan seperti artikel atau esai," jelas Muja.

Ok, saya pun mengerti. Kemudian Muja meminta biodata sebagai kelengkapan administrasi atau Curriculum Vitae. Katanya, biar ketahuan bukan pemateri kaleng-kaleng (gubrak!).

Bukan Workshop Kaleng-Kaleng!

Workshop ini memang bukan workshop kaleng-kaleng. Ini workshop yang keren yang diadakan di MAN Lampa. Salah satu MAN berprestasi di Sulawesi Barat yang indikatornya, menurut saya, adalah banyaknya piala juara terpajang rapi selemari kaca besar.

Malamnya, saya pun membuat power point yang simpel tapi asyik yang ditujukan buat kalangan SMA ini. 

Tiba di hari H, walau telat tidak mengikuti acara pembukaannya, saya ditemani Muja masuk di ruangan. Aula dihadiri kurang lebih seratus siswa-siswi, mulai dari Kelas X, XI, dan XII.

Muja juga yang menjadi moderator hari itu. Muja meminta siswa-siswinya untuk duduk melingkar agar suasana lebih akrab, dekat, dan tidak terlalu serius. 

Muja membuka acara dengan sangat asyik dan santai. Muja memperkenalkan diriku sebagai salah satu penulis buku dan penulis di platform Qureta (wow, keren!).

Muja kemudian membacakan salah satu tulisanku di Qureta yang berjudul "Puasa Plastik". Puasa plastik adalah salah satu tulisanku yang jadi tulisan setelah Muja memposting video Gde Robby yang ingin berpuasa plastik di bulan puasa 2019. 

Muja yang lulusan sejarah ini juga sangat suka travelling dan peduli lingkungan. Hasil japrianku dengan Muja di WA menjadi tulisanku juga. Lalu Muja memberikan pandangan ke siswanya bahwa semua bisa menjadi bahan tulisan.

Kemudian, ketika giliranku tiba untuk mempresentasikan materi, saya memulai dengan menyajikan gambar penulis Indonesia. Mulai dari Dewi Lestari (Dee) dengan novel Supernova, Maudy Ayunda dengan karya Dear Tomorrow, Presiden pertama kita, Ir. Soekarno dengan Indonesia Menggugat, kumpulan surat-surat RA Kartini yang dibukukan dalam Habis Gelap, Terbitlah Terang, sampai pada buku diari yang berbentuk naskah kuno, manuskrip Imam Lapeo, salah satu ulama yang berpengaruh di Sulawesi Barat. 

Namun, sebelumnya, ketika ditanya Muja tentang nama penulis yang mereka tahu, mereka (anak-anak) sudah dan mungkin lebih mengenal tulisan dari Andrea Hirata, Fiersa Besari, dan Boy Chandra. 

Lalu, saya juga membacakan quote atau kutipan dari seorang filsafat zaman dulu, Al-Ghazali: jika kamu bukan anak raja, atau anak ulama besar, maka menulislah. Yang kemudian ditanggapi dua siswi bahwa jika kita bukan siapa-siapa, kita bisa menulis untuk membuktikan ke-eksis-an kita. Mereka juga menambahkan, "No Document, No History." Slogan anak sejarah banget.

Selanjutnya, sesi diskusi atau tanya-jawab. Di sesi ini, adik-adik anak MAN begitu antusias bertanya. Ada yang bertanya: Apa kesulitan-kesulitan yang didapati ketika menulis dan bagaimana mengatasinya? Bagaimana memotivasi diri untuk menulis ketika teman di sekitar tidak mendukung? Mengapa ada cerita pendek (cerpen) yang bisa membuat kita menangis? Bagaimana menghilangkan kejenuhan ketika menulis? Dan lain sebagainya.

Sebelum saya menjawab, Muja membacakan tulisannya yang dia share di beberapa blog dan Instagram. Muja yang sejatinya suka menulis puisi ini, menulis tentang hal-hal di sekitar kehidupannya. Seperti si Piko, anjing di kampusnya; Tyo, teman sekolahnya yang kepergiannya membuat dia sedih; dan lain-lain. 

Setelah Muja selesai membaca tulisannya, saya pun menjawab pertanyaan dengan menggabungkan beberapa cerita. Saya waktu SD suka sekali membaca majalah. Waktu kecil saya biasa membeli Bobo. Tiga kakak perempuan saya membaca Gadis, Aneka, atau Anita. Saya juga suka membaca cerpen-cerpen remaja yang penuh percintaan itu (st...st... sembunyi-sembunyi).

Dari membaca cerpen dan cerita bersambung (cerbung), saya jadi termotivasi untuk bisa menulis juga. Waktu SD, ketika sering menulis-tulis di kelas, saya dibilangi teman, "Mau jadi sutradara, ya?"

Mungkin saat itu temanku berpikir sutradara yang membuat cerita di film. Namun, saya tidak peduli dengan pendapat teman. Sehingga, ketika menulis, jangan dengarkan komentar yang tidak mendukungmu.

Di SMP, saya sudah membuat cerpen walau ceritanya banyak tentang persahabatan. Sehingga, lama-lama terbiasa menulis. Ketika saya menulis, lalu kehilangan ide, saya akan banyak melakukan perjalanan. Jalan-jalan untuk me-refresh pikiran. Dan agar tidak bosan. 

Untuk menjawab pertanyaan yang bertanya mengapa ada cerpen yang membuat kita menangis, aku bilang, mungkin yang menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi. Atau bisa jadi, yang menulis memang lagi sedih. Sehingga, tulisannya ketemu, connect dengan perasaaan hati yang sesungguhnya.

Selanjutnya, untuk melihat arah tulisan mereka, saya meminta Muja menampilkan gambar dari koran tentang fashion show busana pengantin muslimah. Saya menyuruh adik-adik di MAN ini untuk mendeskripsikan apa yang mereka lihat. Saya memberi waktu pada mereka sekitar tujuh (7) menit.

Tujuh menit berlalu, saya melihat beberapa tulisan mereka. Ada yang benar-benar mendeskripskan, menggambarkan gambar yang mereka lihat, yaitu seorang model perempuan cantik, memakai gaun hijau yang sangat indah, dan membawa buket bunga putih.

Ada juga seorang gadis cantik yang menulis, "Alangkah indahnya gaun gadis itu," dan bla bla bla... (syahdu sekali).

Juga, tulisan seorang pemuda yang mungkin lagi baper menulis, "Seorang gadis cantik tanpa pendamping, siapakah pasangannya?" Atau tulisan, "pengantin muslimah juga keren apalagi menggunakan jilbab."

Saya kemudian mengatakan, buat yang benar-benar bisa mendeskripsikan gambar secara detail, berarti dia sudah bisa menulis cerpen. Ketika sudah banyak menulis cerpen, bisa ditingkatkan menjadi penulis novel.

Buat yang menulis dengan penuh penghayatan, apalagi pakai kata-kata yang nyeni, berarti sudah bisa berpuitis ria.

Buat yang sudah bisa berkomentar, kasih pendapat atau opini tentang gambar, berarti sudah bisa menulis artikel atau esai. Namun, mereka masih harus banyak membaca, menulis, dan belajar lainnya.

Di akhir workshop, seorang guru sejarah memberikan plakat kenang-kenangan tentang workshop yang berlatar belakang tokoh, pahlawan perempuan Mandar, Andi Depu. 

Saya sangat senang menerimanya, dan berharap, semoga kami bisa berkumpul lagi di kegiatan lainnya. Terima kasih, adik-adik MAN, Muja, dan guru-guru lainnya.

Selamat menulis, adik-adik MAN 1 Polewali Mandar, Sulawesi barat. Jangan lupa persiapkan tulisan kalian. Besok mau observasi ke lapangan, kan?