Istilah “karya ilmiah” selalu berkaitan dengan dunia kuliah. Memang, untuk menyelesaikan pendidikan sarjana, magister, ataupun doktoral, mahasiswa harus membuat suatu karya ilmiah. Skripsi untuk pendidikan sarjana, tesis untuk pendidikan magister, dan disertasi untuk pendidikan doktoral. Hal ini memunculkan sebuah paradigma di dalam masyarakat.

Apakah paradigma tersebut? Karya ilmiah itu sulit untuk dibuat. Sehingga, tugas ini menjadi momok bagi semua orang. Penulis sendiri tidak menolak paradigma ini. Paradigma ini merefleksikan kenyataan yang ada.

Mulai dari pendahuluan sampai dengan kesimpulan harus dirangkai secara koheren. Konten masing-masing bab dan sub-bab harus nyambung satu sama lain. Pengkalimatan yang digunakan juga harus ilmiah dan berdasar. Jika tidak, maka tulisan tersebut tidak pantas disebut sebagai karya ilmiah, karena tidak mampu dipertanggungjawabkan.

Betul, karya ilmiah memerlukan proses yang cukup panjang dalam pembuatannya. Selain itu, karya ilmiah juga tidak semudah itu untuk ditulis. Tetapi, karya ilmiah juga memiliki manfaat yang besar bagi penulisnya. Apa saja manfaat-manfaat tersebut?

Pertama, meningkatkan produktivitas menulis. Manfaat ini muncul karena menulis karya ilmiah melatih kemampuan penalaran dan interpretasi penulis. Kedua, meningkatkan disiplin untuk menulis. Disiplin meningkat karena karya ilmiah menuntut penulisnya untuk menetapkan sebuah jadwal menulis yang konkrit serta efisien untuk menyelesaikan semua proses yang terlibat.

Ketiga, mengubah dan memperbaiki cara berpikir. Menulis karya ilmiah membantu penulisnya untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis (critical thinking), menyusun sebuah argumen, serta mempertahankan argumen tersebut. Keempat, melatih kemampuan penulis sebagai peneliti. Menulis karya ilmiah menuntut penulis untuk melandaskan argumentasinya berdasarkan teori dan pernyataan dari berbagai ahli yang dikemukakan secara ilmiah oleh penulis.

Manfaat-manfaat di atas sangat penting untuk membentuk sebuah generasi emas yang berkualitas, yang akan menjadi penduduk usia produktif pada era Bonus Demografi 2020-2030, serta generasi yang mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Maka dari itu, penulisan karya ilmiah harus disosialisasikan sejak dini.

Tetapi, jika penulisan karya ilmiah begitu bermanfaat, lalu mengapa penulisan karya ini tidak diperkenalkan sejak sekolah menengah atas (SMA)? Jawaban itu dikembalikan kepada paradigma masyarakat. Banyak elemen pendidikan kita masih merasa bahwa karya ilmiah terlalu sulit untuk dipahami oleh pelajar SMA.

Justru, paradigma ini harus menjadi dasar untuk argumen yang sebaliknya. Jika karya ilmiah adalah hal yang sulit untuk dipahami, maka pelajar SMA harus melakukannya sejak menempuh pendidikan menengah atas, agar lebih mudah bagi mereka untuk menulis skripsi, tesis, dan disertasi di masa depan. The basics of scientific writing should be taught in high school.

Mengapa demikian? Penulis memercayai bahwa pelajar SMA harus sudah menulis satu karya ilmiah karena penulis mengalaminya sendiri. Tugas penulisan karya ilmiah di kelas XI benar-benar memberikan keuntungan yang besar bagi penulis.

Sebelum bercerita soal keuntungannya, izinkan penulis untuk menceritakan pengalaman ketika menulis karya ilmiah secara singkat. Hal ini diawali dengan adanya penugasan penulisan karya tulis ilmiah (KTI) bagi setiap murid kelas XI di SMA Dian Harapan, sebagai bagian dari kurikulum.

Penulisan karya ilmiah dimulai pada Agustus 2018. Lalu, pengumpulan proposal karya tulis ilmiah dikumpulkan pada 18 November 2018. Setelahnya, karya tulis ilmiah final dikumpulkan pada 26 Maret 2018. Akhirnya, karya tulis ilmiah tersebut diujikan oleh guru pembimbing dan reviewer pada Maret 2018.

Pada penugasan ini, penulis membuat sebuah karya tulis ilmiah berjudul “Analisis Tingkat Pemahaman Kebebasan Ekonomi pada Siswa Kelas XII SMA Dian Harapan Lippo Cikarang Tahun Ajaran 2017/2018.” Dalam karya tulis ilmiah ini, penulis menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei dan wawancara terstruktur.

Ketika penulis menggunakan dua metode penelitian, maka penelitian yang dilakukan juga dua kali, lebih banyak dibandingkan peneliti lain yang menggunakan satu metode penelitian. Dari pengalaman ini, penulis benar-benar mendapatkan seluruh manfaat yang disebutkan sebelumnya.

Penulis bisa mendorong produktivitas dalam bidang kepenulisan seperti sekarang karena menulis karya ilmiah. Selain itu, penulis juga semakin disiplin dalam kehidupan sehari-hari karena proses yang panjang dalam menulis karya tulis ilmiah ini. Cara berpikir penulis juga semakin methodical dan scientific, sesuai dengan apa yang dituntut dalam cara berpikir ilmiah. Sehingga, penulis pun dilatih untuk menjadi peneliti dan knowledge-seeker yang lebih baik.

Namun, ada satu manfaat yang tidak disebutkan di atas. Menulis suatu karya ilmiah ternyata dapat menjadi pijakan untuk karya tulis ilmiah selanjutnya. Sebagai manusia, kita tidak tahu tantangan dan kewajiban apa yang akan muncul tiba-tiba ke depan. Penulis mengalami ini ketika lolos menuju seleksi nasional OSN bidang ekonomi.

Salah satu persyaratan wajib untuk masuk ke dalam seleksi nasional adalah membuat suatu karya tulis ilmiah ekonomi yang bertemakan, “Peran perbankan syariah di provinsiku.” Selain itu, pembuatan karya tulis ilmiah singkat tentang berbagai tema yang disajikan juga menjadi salah satu mata lomba OSN bidang ekonomi. Singkatnya, penulis harus membuat dua karya tulis ilmiah sekaligus untuk OSN ekonomi.

Ketika penulisan kedua karya ilmiah ini, penulis merasa jauh lebih percaya diri dan dipermudah. Mengapa? Sebab penulis sudah pernah melakukan hal yang sama sebelumnya. Meski pendekatan dan metode penelitian yang digunakan berbeda (pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi dokumen), namun penulis sudah mengetahui sistematika, pengkalimatan, dan interpretasi yang dilakukan dalam sebuah karya tulis ilmiah.

Akhirnya, berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, penulis mampu memperoleh juara dua dalam bidang penelitian ekonomi pada perhelatan OSN Ekonomi 2018 di Padang, Sumatera Barat. Seandainya jika penulis tidak memiliki pengalaman awal dalam menulis karya tulis ilmiah, penulis tidak mungkin diizinkan untuk mencapai prestasi ini.

Penjelasan di atas membuktikan bahwa menulis karya ilmiah sedari SMA memiliki manfaat positif yang besar bagi para murid. Hal ini harus dijadikan bagian dari kurikulum nasional.

Jadi, menulis karya ilmiah sedari SMA, mengapa tidak?

Daftar Pustaka