Tahu goreng pagi ini berbeda rasa, meski dari penjual yang sama, di belakang kantor. Padahal, demi Tuhan, ngantor hari pertama saya ingin mulai makan yang sehat, diet canggih seperti orang-orang—resolusi awal tahun, tetapi hancur di hari pertama.

Ada kriuk renyah dari setiap potongan tahu pagi ini. “Buku apa yang paling akhir dibaca?” tanya Luthfi Assyaukanie, Pendiri Qureta.

Pertanyaannya terasa garing, karena kita lebih banyak membaca status orang di media sosial. Sejujurnya, itu yang terjadi dalam keseharian kita saat ini. Paling tidak, di keseharianku.

Dan ternyata dugaanku benar. Sebagian kami kesulitan untuk mengingat kembali buku terakhir yang kami baca. Tetapi justru ingatan yang membeku tentang buku yang kami baca ini menjadi pintu pembuka pelajaran kami pagi ini.

Kami tengah belajar menulis bersama Qureta. Setiap hari kita berkutat dengan sekian puluh abjad. Entah untuk menyapa, atau menulis sedikit lebih serius. Telepon pintar memudahkan kita berekspresi.

“Tetapi ingat, jangan membuat pembaca atau bos kita perih duluan membaca tulisan kita. Apa dosa mereka sehingga pagi-pagi harus membaca tulisan yang buruk?” lanjut Luthfi.

Kami hanya tertawa, mesti mengiyakan dalam hati. Tulisan yang buruk memang sangat mengesalkan. Kita dengan mudah akan menghakimi ketidaktelitian sebuah tulisan. Titik-koma yang tak tepat tempatnya atau "di" yang dipisah dengan "di" yang disambung.

Sepele sepertinya. Tetapi yakinlah, ini mengganggu mata. Menghindari tulisan yang buruk itu penting. Itu perlunya kita memiliki pengetahuan menulis.

Luthfi mengingatkan hal ini. Ada empat alasan kenapa kita menulis. Pertama, untuk mengeskpresikan diri seperti Anne Frank dan Soe Hok Gie. Atau, untuk membangun nama atau reputasi seperti Andre Hirata atau penulis Harry Potter, J. K. Rowling.

“Bisa juga karena kita ingin mengubah dunia. Jangan berpikir dunia yang luas. Dunia sekitar kita saja,” jelas Luthfi.

Ia mencontohkan Stephen Hawking yang menulis A Brief History of Time. Atau Rachel Carson dengan Silent Spring yang gelisah ketika dia tak lagi mendengar kicau burung di daerah yang dulu riuh dengan cuitannya.

Karya yang terbit pada 1962 itu fokus pada efek pestisida DDT (dichloro-diphenil-trichloro-ethane) terhadap kehidupan liar dan pengaruh jangka panjang pada rantai makanan. Bacalah, sudah ada edisi Indonesianya.

Atau keempat, kita menulis karena tuntutan pekerjaan. Membuat laporan misalnya. “Tapi ingat, jangan membuat bosmu perih dulu, ya,” tekannya.

Tulisan hanya bisa dimulai kalau kita punya materinya. Bisa dengan wawancara, mengamati, atau membaca. Itu makanya, di awal jumpa, Luthfi menanyakan buku apa yang terakhir dibaca.

Di layar depan lalu muncul gambar Pramoedya Ananta Toer. Kalau aku boleh memilih, hanya ada dua lelaki seksi sepanjang hidupku: Pram dan Sindhunata. Tambah lagi satu, Eka Kurniawan dengan Cantik itu Luka atau Lelaki Harimau. Belum bertambah lagi deretan lelaki dalam imajiku ini.

Eka adalah lelaki cerdas, bernas memainkan kata-kata. Kadang ide ceritanya sangat sederhana, tetapi ia terampil menjadi dalang cerita. Bukunya berkali-kali saya baca. Dan tak lama lagi pasti akan jadi hak milik anak saya.

Saat ini pun, Bhumy, anak saya, sudah menuntaskan Hiroshima yang ditulis John Hersey. Dibaca berkali-kali dan selalu muncul pertanyaan: ini novel atau nyata? Tentu saja ini cerita nyata dengan banyak wawancara meski tokohnya hanya beberapa orang saja. 

Ia menyukai buku tersebut. Karya jurnalistik yang dibuat dengan gaya tulisan yang menyenangkan untuk dibaca: narrative journalism, jurnalisme sastrawi, atau entah apa pun sebutannya. Gaya menulis yang tidak membangun tulisan dengan piramida terbalik, tetapi meletakkan banyak hal penting berserak di sepanjang tulisan.

Bila ia jauh cinta dengan Hiroshima, aku yakin anakku pun akan mengagumi buku Indonesia di Ambang Kekacauan yang ditulis Richard Lloyd Parry. 

Isinya memang membuat mual, tentang kerusuhan di Kalimantan, isu rasial dua suku di Indonesia. Gaya Parry menggambarkan apa yang ia temui di lapangan sangat memikat. Kalau aku jatuh cinta, anakku pun rasanya sama seleranya.

Pram pernah bilang: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

Siapa coba yang tidak akan klepek-klepek dengan ungkapan itu? Tebak, kutipan itu ada dalam buku Pram berjudul apa?

“Menulis itu seksi,” lanjut Luthfi. Mungkin juga pacarnya banyak. Entah kenapa pernyataan ini muncul di sela kelas kami. 

Lalu kenapa kau tak mulai menulis? Kamu tak tanya kenapa aku menulis? Aku hanya ingin menghidupkan abjad. Lalu apakah pacarku banyak? Ah, sudah dulu, ya. Sudah siang. Makan siang menanti. Aku lanjut lagi nanti.

Yang jelas, menulis itu candu. Membuat ketagihan, tetapi aman dari razia polisi.