Mengapa manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan? Azhari Akmal Tarigan mengafirmasi kepercayaan sebagai kebutuhan mendasar bagi manusia. Atau yang dalam istilah Rudolf Otto disebut nominous, yakni perasaan dan keyakinan akan adanya yang Mahakuasa di luar radar jangkauan manusia.

Taqiyuddin An Nabhani melabeli dengan istilah gharizah at-tadayyun. Naluri beragama dengan keinginan untuk mensucikan sesuatu yang diyakini. Dari kepercayaan inilah yang kemudian hari akan melembaga sampai-sampai mengkultuskan secara radikal.

Ditemukan pusparagam kepercayaan yang dianut oleh masyarakat dengan diagnosa menjadi tiga kemungkinan. Pertama, kepercayaan tersebut salah secara keseluruhan. Kedua, adanya kepercayaan sinkretis di mana salah dan benar saling bercampur aduk. Kemudian yang ketiga, kepercayaan tersebut benar semuanya.

Apa kriterium dari kebenaran?

Keseimbangan beringsut membuncah tak kala kepercayaan yang sudah menginstitusi dipertanyakan benar-salahnya. Sikap skeptis mencuat ketika keyakinan yang diadopsi mengandung ambivalen. Mulai meragu sebab komposisi argumentasi sistem kepercayaan yang diemban tidak runtut.

Sumber epistemologi berasal dari Tuhan. Dia yang transenden tak mampu dideteksi oleh manusia secara kaffah. Maka informasi tentang Tuhan mesti datang melalui wahyu sebagai takrif terhadap kenisbian manusia. Dengan demikian kepercayaan yang benar datang dari kebenaran mutlak yaitu Allah.

Formulasi pernyataan tauhid diungkap dalam teks la ilaha illallah. Ungkapan yang berkonten an-nafyu dan al-isbat. La ilaha bermaksud meniadakan segala bentuk kepercayaan dan illallah sebagai eksepsi untuk menegaskan satu-satunya tolak ukur kebenaran yang harus dipercaya yaitu apa saja yang bersumber dari kalimatullah.

Lalu mengapa manusia ada?

Manusia acapkali melupa darimana ia mengada sehingga lalai terhadap apa yang menjadi misinya di jagat. Sikap amnesia menggiring kepada tindakan offside. Alih-alih berperan sebagai ekuilibrium, malah mereposisi diri menjadi biang terhadap ketidakseimbangan sistem kosmos.   

Inni ja’ilu fil ardhi khalifah teraktual dalam bentuk amal. Tidak ada dikotomi antara rohani dan jasmani, dunia dan akhirat serta agama dan politik. Kesemuanya merefresentasi ke dalam suatu kesatuan kerja yang tunggal yang terpancar dari idrak kepada Allah.

Berbuat benar, berlaku baik, dan mengindah bukan karena akseptasi manusia pada umumnya atau persepsi positif terhadapnya. Akan tetapi keseluruhan merupakan pengejawantahan taat dan tunduk kepada kebenaran mutlak itu sendiri.

Manusia berperan penuh atas segala perbuatan yang dilakoni di dunia. Tindak-tanduknya inilah yang mendesain berbagai fase peristiwa yang disebut sejarah. Dunia adalah dapur manusia untuk meracik sejarahnya sendiri.

Manusia yang berasal dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepadaNYA termuat dalam kalimat istirja inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Hal itu mengisyaratkan bahwa kampung halaman manusia bukan di dunia tempat ia bereksistensi saat ini.

Kesudahan sejarah inilah yang disebut dengan hari akhirat. Hari di mana konsekuensi perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkan. Tidak ada lagi kehidupan historis seperti kebebasan untuk memilih. Yang ada tinggal memperkarakan segala amalan yang mencipta dalam sejarah.

Demikian ringkasan Dasar-dasar Kepercayaan dalam Nilai-nilai Dasar Perjuangan(NDP). Hanya mengambil koherensi dengan tema yang coba dielaborasi. Apa hikmah yang dapat dipetik selain mengajak anggota, pengurus, kader serta Alumni Himpunan Mahasiswa Islam untuk kembali kepada sumber primer islam sebagai bibliografi NDP.

Mestinya islam menafasi di tiap-tiap gerak. Mewarnai kapan dan di manapun mengaktual. Meniadakan silmi di kehidupan sehari-hari adalah emblem kecacatan kita dalam ber-HMI. Salah satu indikator kemunduran HMI menurut Agussalim Sitompul adalah menyusutnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran islam.

Yang gempita berseliweran dalam himpunan mulai dari pengurus besar hingga komisariat bermunculan kader sekuler. Di Kongres PB HMI Nampak gejala money politic. Di tingkat cabang marak terpolarisasi meramu dualisme. Disebabkan karena defisitnya kesadaran akan kehadiran Tuhan dan absennya kontemplasi akan neraca keadilan di hari akhir kelak.

Perbincangan Iman, Ilmu, Amal tertinggal jauh di dalam ruang-ruang pengaderan. Membumi terlalu dalam hingga menanggalkan pesan-pesan dari langit. Ketukan-ketukan suci yang menjadi fitrah manusia cenderung kepada kebenaran juga tak menyentuh.  NDP makin hari tidak menginspirasi.

Sebagai duta Tuhan(Khalifah) di muka bumi, manusia berkewajiban untuk memakmurkan  bumi sesuai dengan pola-pola yang telah ditetapkan oleh Allah dalam kitab suci. Dengan begitu manusia terlindungi dari ketelanjangan spiritual dan terhindar dari degradasi iman. Dan lagi tidak mengindahkan status dan fungsinya sebagai insan.

Lima februari kemarin memperlihatkan umur yang semakin menua. Usia 71 seyogianya merefleksi ke dalam sanubari kader hijau-hitam.  Merekeng diri barangkali terlukis nokhtah hitam yang kerap ditoreh dalam action. Artinya perjalanan menuju yang ahad semakin dekat. Kerja-kerja meng-esa-kan makin menguat.

Namun di alam realitas, proses perjalanan menuju ke yang Satu ­semakin menyimpang. Tidak sedikit pengurus ribut berebut tahta, hingga alpa menata masa. Sibuk berkongres mengemis suara tapi lupa mengais diri ke mana hendak bermuara.

Teruslah berjalan!

Tersesat untuk mereka yang berhenti sebelum tiba. Kebuntuan hanyalah tikungan hidup untuk kembali ke sawa as sabil. Himpunan Mahasiswa Islam telah digembleng oleh sejarah. Islam telah dipilihnya sebagai fikrah dan thoriqah dalam menjalani sirkulasi hidup. Dengan begitu mengaktifkan islam sebagai weltanschauung yang termanifestasi ke kegiatan-kegiatan amaliah.

Milad HMI yang 71 merupakan introspeksi bagi para anggota dan pengurus. Mencolek mereka yang sedang berasyik masyuk dalam spektrum kebodohan. Terhijabi memaknai dunia yang tentatif, sehingga cacat ingatan akan yaumuddin yang definitif. As you sow, so will you reap. Seperti apa yang ditanam, sebegitulah yang akan diketam.