Tahukah Anda bahwa saat ini sudah ditemukan mantra pencegah penyebaran Virus Korona di Amrik (Amerika Serikat)?

Bila Anda bersama ratusan orang turun ke jalan berdemo menuntut supaya lock down diakhiri, maka Covid-19 akan menyebar luas secara cepat berdasarkan data dari cellphone. Demikian kata The Guardian.

Tapi bila Anda bersama ratusan orang turun ke jalan berdemo siang dan malam selama berhari-hari untuk menuntut keadilan sambil berteriak BLACK LIVES MATTER, maka kata CNN dan beberapa media mainstream yang condong ke kiri, seketika Covid-19 yang kejam itu langsung tiarap ketakutan sehingga tidak akan ada yang tertular.

Teriakkan BLACK LIVES MATTER!!! Seketika semua virus dan bakteri menghilang dan alam berseri menjadi sehat walafiat kembali. Tapi Covid-19 akan muncul lagi kalau Trump melakukan kampanye. HAHAHAHAHA

Kamu pikir aku bercanda? Tidak! Silakan baca link yang aku sertakan di akhir tulisan. Artikel ini khusus untuk hal-hal yang menurutku lucu yang terjadi di perpolitikan Amrik.

Setahun-dua tahun terakhir aku lebih tertarik pada perpolitikan Amrik dan UK dari pada di dalam negeri. Karena jadi komentator politik di dalam negeri sangat riskan, kudu nyiapin meterai banyak.

Sumber utama berita yang kudapat tentu media online dari Twitter, YouTube, dan Podcast para komentator politik yang posisinya di tengah yang mungkin sedikit miring ke kiri atau miring ke kanan. Misalnya Tim Pool, Joe Rogan, Bret Weinstein, Maajid Nawaz, Dave Rubin, dan lain-lain.

Tapi suara Tim Pool yang mendominasi menggema di rumah sambil menemaniku beraktivitas atau hanya bersantai. Oh iya, aku sudah lama tidak menonton TV.

Tahun 2016, tanpa diperhitungkan, Donald Trump memenangkan konvensi Nasional Partai Republik. Dia dianggap badut sejak awal, tapi badut itu yang mendapat tiket jadi Capres Partai Republik. HAHAHAHAHA

Partai Demokrat memberikan tiket kepada Hillary Clinton. Pertarungannya sengit. Akhirnya badut itu juga yang keluar jadi pemenang. HAHAHAHAHA.

Aku ingat ketika itu aku di kantor menonton lewat YouTube. Aku tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah para presenter televisi yang kaget tidak percaya bahwa Trump yang mereka olok-olok dan remehkan tiba-tiba jadi Presiden. HAHAHAHAHA.

Banyak yang menangis. Seperti aku menangis saat Ahok kalah dulu. Tapi rasanya aku hanya menangis di hari itu saja. Tapi tidak para pendukung Hillary, banyak dari mereka yang masih menjerit sampai sekarang.

Sebagai presiden, Trump memang tidak mempunyai karakter sebagai tokoh bangsa. Kalau berbicara atau berkomentar, dia tidak punya saringan. Apa adanya. Karakter yang kurang pas sebagai kepala negara.

Dari akhir tahun lalu, Partai Demokrat menggelar konvensi nasional untuk memilih calon presiden yang akan bertarung melawan Trump di November 2020 ini. Padahal banyak kandidat yang bagus dan masih muda seperti Tulsi Gabbard dan Andrew Yang, tapi yang dimenangkan kok si tua nyaris pikun Joe Biden. Ya Tuhan!!

Kalau kamu follow akun twitterku dari setahun lalu, pasti tahu kalau aku sering sekali me-RT tweet Tulsi. Menurutku, Gabbard adalah calon yang sangat ideal. Dia muda 37 tahun, berpengalaman di legislator, tentara yang masih aktif, dua kali ditugaskan di medan perang, perempuan, dan beragama Hindu. Paket komplet.

Tulsi adalah lawan terberat Trump. Kaum muda moderat Republikan terbelah, sebagian sangat suka pada Tulsi dan mereka akan memilih Tulsi dibanding Trump. Tapi apa yang terjadi? Partai yang katanya liberal dan progresif itu memilih Joe Biden, pria gaek nyaris pikun, putih, Kristen, dan punya banyak kasus dengan perempuan muda.

Tulsi dimusuhi termasuk oleh Hillary karena punya sejarah bertemu dengan Presiden Assad. Kalau tidak mau Tulsi, masih ada yang lain, misalnya Andrew Yang yang minoritas, Pete Buttigieg yang gay. Partai Demokrat emang badut. HAHAHAHAHA 

Kalian tahu arti rasialisme, kan? Iya, prasangka buruk kepada suku bangsa lain atau menganggap rasnya lebih unggul. Umumnya dikenal dengan sebutan rasis (racist). Nah, di Amrik, ukuran orang menjadi rasis (menurut leftist) gampang sekali: menjadi pemilih Trump atau Republikan. HAHAHAHAHA

Reporter PregerU - portal Konservatif - pernah menginterview beberapa warga muda New York City yang terkenal sangat Liberal dan umumnya Demokrat. Mereka bilang tidak mau punya teman Republikan karena mereka rasis. Demikian dalam doktrin yang sudah tertanam.

Trump menjadi anggota partai Republik sejak mendaftar sebagai peserta konvensi pemilihan presiden. Dia suka berkomentar, “Seumur hidup saya pengusaha, sekali terjun ke politik eh langsung jadi Presiden.” HAHAHAHAHA

Ketika menjadi pengusaha, Trump banyak berinteraksi dengan tokoh kulit hitam, tapi baru sekarang dia disebut rasis. Sejak kampanye Trump sudah mendukung LGBT tapi dia disebut homofobia. HAHAHAHAHA  

Sejak meletus kerusuhan karena kematian George Floyd, orang ramai-ramai memasang gambar kotak hitam di media sosialnya yang berarti mendukung gerakan Black Lives Matter (BLM). Nah, bila ada yang tidak memasang gambar itu di instagramnya, maka dianggap rasis.

Akhirnya banyak yang memasang kotak hitam itu karena takut disebut rasis. Bisnis bisa hancur kalau sempat diserbu kawanan BLM. Tapi ketakutan seperti itu hanya terjadi di kalangan pertemanan liberal atau sayap kiri. Kelompok konservatif santai saja.

Kemudian muncul tagar #BlackLivesMatter, yakni pernyataan dukungan terhadap gerakan kulit hitam. Tapi kulit hitam Amrik itu tidak monolitik, terutama sekarang sejak ada Blexit (Black exit) yang digawangi oleh Candace Owen. Banyak kaum muda kulit hitam saat ini pindah dari Partai Demokrat ke Republik.

Blexit umumnya mendukung gerakan BLM tapi tidak mendukung organisasi di belakang BLM. Ini sempat menjadi perdebatan seru di Twitter. Akhirnya tim Blexit atau Black Conservative memaparkan bahwa organisasi BLM itu berafiliasi dengan Partai Demokrat dan donasinya pun banyak disalurkan ke Partai Demokrat. “Kami Republikan, untuk apa kami mendukung Demokrat?” kata mereka.

BLM sangat kesal pada Black Conservative karena membuat tagar #AllBlackLivesmatter. Black Conservative tidak sejalan dengan BLM karena BLM hanya berteriak bila kulit hitam dibunuh oleh polisi kulit putih, tapi diam terhadap pembunuhan sesama kulit hitam yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Ditambah lagi ada tagar kelompok konservatif mengeluarkan tagar #AllLivesMatter. Terjadi perang argumen di semua media sosial. Kemudian ada generasi Z yang mengatakan akan membunuh orang yang mengatakan #AllLivesMatter HAHAHAHAHA

Yang lucu lagi adalah leftist kulit putih yang memakai atribut BLM menguliahi kulit hitam yang tidak sepemikiran dengan mereka. “Kamu kulit hitam harusnya merasa tertindas. Aku bisa merasakan rasisme oleh kulit putih,” teriak mereka. Seharusnya dia diberi cermin. HAHAHAHAHA

Kemudian ada Chris Martin Palmer, penulis NBA yang cukup kaya. Melalui akun twitternya dia bersorak gembira mendukung para perusuh Minnepolis membakar sebuah proyek perumahan terjangkau untuk rakyat miskin. Tulisnya di Twitter, “bakar itu semua, bakar habis.”

Beberapa hari kemudian, kerusuhan mulai merayap lebih dekat ke perumahannya yang terjaga aman di Los Angeles. Palmer ngetwit lagi dengan nada marah. Katanya, “Keluarkan hewan-hewan ini dari lingkungan saya. Kembali ke tempat tinggal Anda!” HAHAHAHAHA

Kemudian BLM yang didukung Antifa dengan baju kelompok John Brown Gun Club menguasai Capitol Hill seluas 6 blok yang menjadi pusat dagang di Seattle. Mereka memegang senjata layaknya tentara. Kawasan yang terkenal dengan nama CHAZ (The Capitol Hill Autonomous Zone ) atau CHOP (the Capitol Hill Occupied Protest) dipagari dengan pembatas mirip sebuah negara.

Wali kota Jenny Durkan dengan senang hati membiarkan Capitoll Hill dikuasai BLM sambil mengatakan, “Biarkan saja, ini summer of love.” Sleepless in Seattle berganti menjadi Summer of Love. HAHAHAHAHA

Tiga hari lalu para peserta Summer of Love menyambangi rumah wali kota untuk didemo, dan Jenny panik dan marah, berujung mengeluarkan perintah pembubaran CHOP. Polisi langsung diterjunkan membersihkan CHOP. Summer of Love berubah menjadi HOW DARE YOU!!! HAHAHAHAHA

Presiden Trump pernah menawarkan bantuan untuk membersihkan CHOP tapi jawaban Wali kota adalah “Go back to your bunker!” HAHAHAHAHA

Banyak Republikan geregetan kenapa Presiden tidak mengambil tindakan terhadap para perusuh tersebut. Tapi sekarang baru dipahami, Trump tahu bahwa Demokrat menunggunya mengambil tindakan keamanan yang akan berujung bentrokan antara rakyat dan tentara, kemudian akan keluar berita “Presiden Trump membantai rakyatnya sendiri”.

Menurut informasi (maaf aku tidak terlalu paham aturannya), penguasa Negara Bagian, yakni Gubernur dibantu Wali Kota, bertanggung jawab atas operasional dan keamanan wilayahnya. Bila mereka kewalahan, dapat meminta bantuan ke pusat.

Ada pula video, seorang polisi bercerita sedang dalam perjalanan ke sebuah demonstrasi karena diminta menjaga keamanan mereka. Demonstrasi itu untuk menuntut Defunding Police. HAHAHAHAHA

Oh iya, para pendemo #BlackLivesMatter itu lebih banyak berkulit putih, dan mereka menyerang kulit hitam yang tidak sejalan dengan mereka. What the heck! HAHAHAHAHA

Sebenarnya masih banyak hal lucu menggemaskan seperti White Fragility, kritik gender, dan lain-lain. Tapi karena tulisan ini sudah kepanjangan, nanti akan dibuat tulisan lainnya. Terima kasih.

Sumber berita: