Waktu saya tinggal di desa, saya sering melihat orang buang sampah ke sungai. Ku kira itu hanya dilakukan oleh orang desa. Nyatanya, saat saya tinggal di kota, saya juga masih melihat orang kota melakuan hal yang sama. Membuang sampah ke sungai. Ternyata, masalahnya bukan karena orang desa atau orang kota. Itu adalah bagian dari mental kita. Mental tukang nyampah.

Waktu saya masih kecil, saya sering melihat anak-anak kecil saling caci maki oleh hal-hal sepele. Ku kira itu hanya dilakukan oleh anak kecil. Nyatanya, saat saya dewasa, saya malah lebih sering melihat orang dewasa saling mencaci maki dengan alasan yang sangat sepele, lebih sepele dari anak-anak kecil itu. Ternyata, masalahnya bukan karena masih kecil atau sudah dewasa. Itu adalah bagian dari mental kita. Mental pencaci maki.

Di lampu merah, saya sering melihat  pengendara sepeda motor naik ke trotoar. Ku kira itu hanya dilakukan warga sipil dengan pendidikan rendah. Nyatanya hal seperti itu juga dilakukan oleh PNS dan tentara. Ternyata masalahnya bukan soal PNS, tentara atau warga sipil. Itu adalah bagian dari mental kita. Mental pelanggar aturan.

Di televisi, saya sering melihat kasus pencurian yang dilakukan para pengangguran yang tidak berpendidikan. Ku Kira itu hanya dilakukan oleh mereka yang tidak punya pekerjaan. Nyatanya, pencurian juga dilakukan oleh mereka yang sedang jadi pejabat, Bupati, gubernur, anggota DPR dan masih banyak lagi. Mereka mencuri uang rakyat dengan jumlah yang jauh kebih banyak dari hasil curian para pengangguran itu. Ternyata masalahnya bukan karena pengangguran atau peabat. Itu adalah bagian dari mental kita. Mental pencuri.

Di banyak tempat saya sering mendapati pedagang kecil dan kaki lima sering menjajakan daganganya di trotoar. Mereka menjajakan dagangannya dengan mengambil hak pejalan kaki. Ku kira itu hanya dilakukan oleh pedagang kecil. Nyatanya, pengsaha besar juga melakukan hal yang sama. Mereka merusak lingkungan, merusak hutan, membakar hutan hingga asapnya menyebabkan penyakit terhadap jutaan penduduk. Ternyata itu bukan masalah pedagan kecil atau pengusaha besar. Itu bagian dari mental kita. Mental rakus.

Waktu saya masih kecil, saya sering melihat orang dewasa berbuat tidak senonoh. Sekarang saat saya sudah dewasa, saya malah sering melihat anak kecil juga berbuat tidak senonoh. Seorang kiai penah menitipkan Hp nya ke saya karena baliau ingin sholat. Saya iseng saja melihat isi galery hpnya. Ternyata di hp kiai itu ada film porno. Ternyata masalahnya bukan karena anak kecil, orang dewasa, kiai atau bukan kiai. Itu adalah bagian dari mental kita. Mental mesum.

Saya mulai paham mengapa dulu saat masa kampanye dan diawal-awal jabatannya sebagai presiden, pak Jokowi pernah mencanangkan slogan revusi mental. Itu tak lain tak bukan karena sebenarnya mental bangsa ini tak sebaik yang dibayangkan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat mental tukang nyampah, mental rakus, mental pecuri, mental pekanggar aturan, mental penebar kebencian dan caci -maki. Iya itu bagian dari mental kita termasuk aku, kamu dan mereka.

Kita selalu juara untuk hal-hal yang buruk dan selalu terpuruk untuk hal-hal yang baik jika dibandingkan dengan negara lain.

Kita selalu juara untuk urusan negera paling korup. Kita juga selalu masuk papan atas untuk urusan negara paling banyak membuang sampah ke laut. Di dunia maya, kita juga mendapatkan predikat sebagai negara paling crewet. Ya itu saja prestasi 'tertinggi' kita.

Sedangkan untuk hal-hal yang baik kita selalu berada diurutan paling bawah. Kita bisa melihat rangking sepakbola kita yang selalu berada diurutan terbawah. Bukan hanya di lingkup dunia tapi juga di asia tenggara. Urutan minat baca buku kita sangat memprihatinkan. Kita berada diurutan 60 dari 61 negara hasil riset oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu.

Bangsa ini selalu heboh sendiri oleh urusan-urusan yang tidak penting. Saat negera lain sudah memikirkan bagaimana caranya hidup di planet lain, kita masih berkutat pada isu-isu yang gampang memecah belah. Saat negara lain berpacu mengembangkan teknologi tercanggih, kita bahkan tidak mampu menghasilkan apapun. Karena seluruh energi kita habis untuk hal-hal yang tidak produktif. Bangsa yang sangat besar ini hanya menjadi konsumen terhadap produk yang diahasilkan bangsa lain tanpa menghasilkan apapun. Hal besar apa yang diciptakan oleh bangsa ini yang memberi dampak global dalam beberapa tahun terkhir? Tidak ada!

Ayolah, kita segera bangun dari tidur panjang kita. Bangsa ini tidak sebaik yang kita bayangkan. Kita ini masih rendah dan harus selalu merasa rendah untuk terus mencapai sesuatu yang lebih tingi. Toleransi yang kita banggakan itu sebanarnya hanya toleransi semu karena sebenarnya kita tidak setoleran itu. Buktinya tiap hari kita ribut masalah agama, etnis dan sebagainya. Kita tidak seramah yang dibayangkan oleh bangsa lain karena tiap hari kita sibuk menebarkan kebencian dan saling caci maki yang entah kapan akan berakhir.