Sudah lama sebenarnya saya ingin curhat, sebagai warga negara, eh salah sebagai warga Wonosobo maksudnya. Entah kenapa setelah membaca salah satu tulisan di salah satu media dengan judul "Menonton Jakarta dari Medan" saya tergerak untuk menulis hal serupa.

Ya, dengan mengganti judul dari Medan ke Wonosobo, yang bisa dibayangkan isinya tak jauh beda soal kejengkelan saya sebagai warga Wonosobo yang hanya disodori berita yang berisi soal Jakarta melulu. Mumeeetttttt…., kalau kata orang Dieng Rak Pantongan!!!!.

Yuk mulai baca curhatan saya (andai tulisan ini bisa bicara seperti di film Harry Potter pasti asyik di mana nada suara saya sambil mecucu dan berbusa-busa).

Pertama, lihatlah bahwa segala berita yang bersumber dari Jakarta kenapa selalu menjadi hits, bahkan berita yang tidak penting pun bisa menjadi hits. Dan media di sana, ya allah, dengan bangga menayangkan berita-berita yang sebenarnya murahan. Bagaimana tidak, sampai berita Sandiaga Uno yang klarifikasi soal tonjolan pada celana juga dimuat. Kamfreeeettttttt, apa ngak kurang kerjaan tuh?

Dan ini lagi, ya allah, pertanda apa ini sampai-sampai kami warga Wonosobo yang hidup jauh dari ingar-binger ibu kota harus dipaksa menyaksikan episode sidang yang sangat tidak penting untuk kami lihat. Ya, bukan berarti kami tidak berduka. Tidak! Tapi demi jeroan singa, kami bosan dengan berita itu.

Pak Jokowi atau Pak Mukidi, tolonglah kami warga Wonosobo ini, kami butuh tontonan yang menghibur. Kami sudah cukup lelah ketika sedang asik menonton sinetron dan tiba-tiba kekhusyukan kami harus terusik dengan kehadiran Mars Partai Perindo, dan sampai kini sidang Sianida itu belum juga kelar, ya allah kasiahanilah kami.

Apa tidak ada sedikit saja belas kasihan untuk kami, atau barangkali ayolah media liput Wonosobo, saya kira pesona Sunrise di Sikunir lebih menakjubkan daripada memperbincangkan AwKarin yang di sini pun gak terkenal amat, bahkan anak unyu-unyu yang udah pada maen anjroit pun belum tau siapa itu AwKarin. Tapi, mungkin karena dienye di Jakarte aje jadi beken.

Curhatan saya panjang, dan maaf apabila dibilang kurang kerjaan. Tapi, bukankah hal yang kurang kerjaan dan buang-buang waktu juga belakangan menjadi hits, ya to?

Masih soal Jakarte dan Wonosobo. Ada beberapa virus yang saya rasa sangat meresahkan bagi warga Indonesia, yang mana virus itu dibawa dari Jakarte. Nah, saya perlu menuliskan ini supaya waga Indonesia semua pada hati-hati, beneran ni, ini di Wonosobo udah sangat membahayakan. Kite bahas yang beberape virusnye:

Bahasa Alay

Bahasa Alay berakar dari Jakarte berkat kecanggihan media, bukanya menggunkana bahasa Indonesia yang sesuai EYD tapi disini dari anak kecil sampe emak-emak muda lebih suka menggunakan bahasa Alay. Selain kecanggihannya, media virus ini juga menyebar dari para pembokat yang pulang kampong. Nah loh, gimana nggak berbahaya virus yang satu ini!

Para tetangga yang kebanyakan mbak-mbak yang dulunya kuper yang bahkan kalau jalan saja liat ke bawah mulu berharap nemu receh, dan yang cuma bisa senyum aduhai, kini merasa peradaban mereka berubah berkat bahasa Alay.

“Mbak Atun, saking pundi?” (Mbak Atun dari mana?)

“Heloooowwww…..Atuuun? Mirna keleesssssss, plis duwehhhhh, atun norakxszzz bingitzthh (Sambil bibir mecucu dan ndlawer kemana-mana).

“Duh sudah ganti nama ya mbak?”

“Edistu Rahmat Katolo……Maksud Lhoooo?” (Padahal cuma sekedar mau bilang “maksudnya” -_- hadeeewwhhhh).

Kalau orang yang ngak sabar pasti udah disumpahin supaya tu mulut digampar malaikat, atau mau yang lebih ramah gampar pake gapyak.

Pakaian Trendi

Ini virus kedua yang juga sangat berbahaya, betapa tidak, disini selain udara yang dingin factor agama juga masih sangat berpengaruh kebanyakan disini apalagi di kampong-kampung mayoritas adalah muslim, jadi jangan heran kalau ada cewek keluar rumah tanpa pakai jilbab atau kerudung akan menjadi perbincangan orang terutama ibu-ibu, dengan banyaknya virus dari Ibu Kota ini lebih parah lagi mbak-mbak yang dulunya pakai rok dan baju tertutup sekarang pulang dari perantauan karena sudah mengenal istilah Modern pakianya pun harus Modis, Trendi, Fashionista atau mbuhlah, pakaian pakaian atas bawah harus dipadu padankan, Jilbab Syar’I, baju mulai dengan yang lebih ketat dan bawahan super ketat celana yang menyatu dengan kulit macam belalang jadinya, coba andai Ustad Felix Siaw tau pasti digamprat abis abisan dah, ini yang kebanyakan orang kampong saya menyebut model Cabe-cabean Syari’ah.

Gadget Terbaru

Hari gini maenan hape layar item bukan hape layar tunyuk atau bahsa kekunoanya hape dua tak ya diguyu to, masih soal mbak-mbak yang baru pulang dari Jakarte yang tiap mudik bawa maenan bar uterus dipamerin ke tetangga-tetangga sampil petan (nyari tumo).

Dbukan cuma satu biji tapi ampe tiga biji. Busyettt dah, pembokat aja hape tiga (mungkin satu buat komunikasi ama tuan, satunya nyonya, dan satunye lagi ame non dan den), biasanya sambil pamer hape mereka juga pake baju yang super ketat yang nggak banget sama warna kulit yang map item, mereka juga memamerkan kefasihan bahsa gaul yang medoknya maudzubillah.

“Eh wati, lagi ngapain lu?”

“Alaaahhh gampang nanti Gue bantu, clirlah semua”

“Oke no problem”

“sip…tengkyu…tengkyu…entar gue caling lagi ye”.

Nah itu baru beberapa virus yang masuk penelitian saya, barangkali jamaah Qurataiyah di Wonosobo punya tambahan silahkan ditambahi.

Yang jelas saya curhat disini bukan berarti saya benci dengan Jakarta bukan, saya cuma pengen orang-orang yang ada di Ibu Kota sono tau bahwa Indonesia bukan cuma Jakarte, tentu bisa menjadi renungan untuk media-media di Indonesia bahwa segala sesuatu yang terjadi di Jakarta sebenarnya tidak begitu menarik banget buat kami, hanya saja mau bagaimana lagi kami disini benar-benar tidak punya pilihan lain selain terpaksa menontonya, ya hanya sekedar menjadi penonton yang hanya bisa berkomentar atau berteriak lala yeyeye.

Saya kira warga Indonesia dimanapun berada lebih respect sama berita-berita yang memuat keindahan alam diseluruh pelosok negeri ini daripada sekedar siapa sih yang bakal menjadi Gubernur DKI, atau tentang prestasi-prestasi anak negeri yang mampu mengharumpan nama negeri yang permai ini daripada hanya sekedar mengetahui kelanjutan Drama Sianida, maka andai media belum juga bertobat maka mungkin tuhan memang sudah menakdirkan kami meonton Jakarta dari Wonosobo.

Slahkah dulu dalam ajang Miss Universe Nadine Chandrawinata berkata Indonesia is my City, mungkin merekan di Jakarta bilang “Jakarta is My Country”.