Jika kita berbicara tentang kegiatan literasi, hal yang paling pertama diingat adalah buku. Kemudian kita merujuk kepada aktivitas membaca dan menulis. 

Hal terakhir yang lekat dalam ingatan adalah data mengenaskan terhadap minat baca di Indonesia. Poin ketiga ini merupakan fakta yang tidak bisa dipisahkan dari budaya membaca kita.

Dilihat dari statistik yang ditunjukan dari berbagai macam lembaga riset dunia, Indonesia sulit untuk keluar dari peringkat bawah dalam daftar negara-negara yang disurvei. Pada tahun 2014 saja misalnya, menurut CIA World Factbook, Indonesia berada di urutan 129 dalam daftar negara dengan tingkat melek huruf.

Kemudian pada tahun 2016, peringkat Indonesia dalam riset World’s Most Literate Nations yang dilakukan Central Connecticut State University sedikit lebih baik dengan menduduki peringkat 60 dalam hal minat baca. Itu pun hanya dari 61 negara.

Tentunya data ini merupakan sebuah gambaran tersendiri bagaimana rendahnya minat baca di Indonesia. Padahal, kegiatan membaca erat kaitannya dengan cara kita berpikir dan menerima informasi. Selain itu, membaca juga dapat meningkatkan daya nalar masyarakat.

Kenapa kemudian kegiatan membaca di Indonesia begitu rendah? Pertanyaan ini sebenarnya bisa kita jawab dengan berkaca dari aktivitas kita sehari-hari. 

Seberapa sering kita memegang buku dibandingkan gawai? Seberapa sering kita melihat tayangan televisi atau YouTube dibanding dengan menghabiskan waktu membaca buku?

Rendahnya minat baca di Indonesia memang erat kaitannya dengan kebiasaan kita sehari-hari. Tak perlu disangkal bahwa tayangan televisi lebih menarik dan ringan untuk dilihat dibanding tulisan dalam buku. Begitu pun dengan YouTube, atau instastory di akun Instagram kita.

Dari data yang dikeluarkan BPS tahun 2012, disebutkan bahwa 91 persen orang berumur 10 tahun ke atas lebih tertarik untuk menonton televisi. Hanya 17 persen saja anak usia 10 tahun ke atas yang lebih menyukai membaca buku. 

Dari sini saja terlihat bagaimana jauhnya minat baca di Indonesia jika dibandingkan dengan minat untuk melihat tayangan televisi.

Digitalisasi, Pergeseran Budaya, dan Akses Literasi

Harus dicermati bersama bahwa rendahnya minat baca disebabkan oleh beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Artinya, permasalahan rendahnya minat baca tidak semata-mata hanya karena minimnya ketertarikan masyarakat dalam membaca buku.

Jika selama ini proses membaca hanya diasosiasikan dengan buku fisik sebagai bahan bacaan, maka dalam era digitalisasi ini kita tidak lagi berpikir hanya sebatas itu. Perlu diketahui bahwa digitalisasi, atau proses penggunaan sistem digital, dalam penerapannya cukup memengaruhi bagaimana cara masyarakat dalam mendapatkan bahan bacaan.

Beredarnya buku elektronik, atau biasa kita kenal dengan e-book, merupakan salah satu contoh bagaimana proses digitalisasi berkembang. Buku elektronik ini kemudian menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat dalam memperoleh bahan bacaan, selain buku fisik.

Selain buku elektronik, portal berita online yang saat ini mulai berkembang dan bahkan merambah sampai kepada sosial media ini juga merupakan alternatif masyarakat dalam mengakses bahan bacaan.

Dengan banyaknya alternatif bacaan yang berbasis digital ini juga perlahan memang mengurangi buku fisik atau koran sebagai bahan bacaan yang digunakan masyarakat. Namun berkembangnya akses bacaan digital ini juga tidak semata-mata tumbuh begitu saja. Tingginya permintaan akan berbanding lurus pula dengan penawaran.

Artinya, mulai banyaknya buku elektronik dan portal berita online yang ada saat ini juga disebabkan karena tingginya minat masyarakat terhadap akses bacaan yang mudah diakses. Salah satunya dengan menggunakan gawai, benda yang lekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Jika kemudian kita membuat simplifikasi bahwa kegiatan membaca harus menggunakan bacaan fisik, maka tentunya kegiatan membaca ini akan sangat jarang dilakukan orang-orang, khususnya mereka yang rutinitasnya sebagian besar dihabiskan di jalanan karena statusnya sebagai pelaju.

Dalam kondisi tersebut, buku fisik merupakan benda yang sangat tidak direkomendasikan untuk digunakan. Sebagai gantinya, orang akan cenderung untuk menggunakan gawai untuk mengakses bahan bacaan.

Sebagai seorang pelaju yang sehari-hari bepergian dari Jakarta-Tangerang dengan kendaraan umum, sejauh pengamatan saya cukup banyak memang masyarakat yang membaca dengan menggunakan gawainya. Hanya untuk melepas kejenuhan dalam kendaraan umum.

Dari sini kemudian saya dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya minat baca masyarakat tidak terlalu menyedihkan. Hanya saja media yang digunakan berbeda, bukan lagi menggunakan buku fisik, melainkan dengan gawai.

Perkembangan teknologi digital ini kemudian menjadikan adanya pergeseran budaya membaca dari masyarakat yang diikuti dengan alih fungsi kerja manusia karena pengaruh digitalisasi. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa kita cegah, tapi tentunya ini menjadi keuntungan sendiri.

Jika pada sebelumnya kita mengandalkan buku fisik yang dalam beberapa penerapannya justru menjauhkan pembaca dari buku, entah karena harganya yang terlalu tinggi untuk dijangkau atau karena stoknya yang terbatas, dengan digitalisasi ini, pembaca menjadi lebih dekat bahan bacaan karena hanya tinggal mengunduh saja.

Tentunya dalam hal ini saya tidak menganjurkan untuk mengunduh buku elektronik bajakan. Namun dengan segala kelebihan akses yang dimiliki buku elektronik, pembaca dapat lebih mudah mendapatkan bacaan yang diinginkannya tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga untuk pergi ke toko buku.

Pengaruh digitalisasi sendiri sebenarnya mampu memanjakan masyarakat untuk mendapatkan bacaan. Akses yang lebih mudah dan cepat, serta lebih fleksibel karena bisa dibaca di mana saja, menjadikan masyarakat tidak lagi mempunyai alasan untuk tidak membiasakan diri untuk membaca.

Walaupun pada akhirnya buku fisik perlahan mulai ditinggalkan, toh setidaknya kita bisa berharap penggunaan gawai ini dapat dijadikan stimulus kepada masyarakat untuk membiasakan membaca. Dimulai dari bacaan ringan yang banyak ditemukan di internet, sampai kemudian masyarakat beralih ke buku fisik.

Harapan untuk meningkatkan minat baca masyarakat sejatinya terbuka luas. Namun yang menjadi permasalahan adalah seberapa besar kita semua peduli untuk menularkan virus literasi ke orang di sekitar kita, serta bagaimana kita memanfaatkan teknologi dalam meningkatkan minat baca.