Saya mengikuti kelas daring seminggu dua kali, yakni setiap Senin dan Kamis siang. Di sana saya belajar cara menulis dengan baik, mulai dari soal penggunaan tanda baca, huruf kapital, imbuhan, hingga hal-hal lainnya terkait dengan dengan literasi. Dari sana saya mencoba membuat tulisan dan mengirimkannya ke media online yang ada sebagai pembuktian apa yang sudah dipelajari bisa diterapkan dalam penulisan.

Di samping kelas daring melalui aplikasi zoom, kelas ini juga membuat grup yang tergabung dalam WAG (Whatsapp Group) yang kami namakan “Jihad Tata Bahasa”, group ini dibuat untuk media komunikasi para anggotanya untuk membahas tata bahasa. 

Melalui WAG tersebut, mentor kami, Khoirul Anam, juga mendorong semua anggota grup untuk membuat tulisan. Setelah itu tulisannya di-share melalui grup untuk diedit bersama. Setelah proses editing selesai, maka tulisan tersebut akan dikirim ke media online yang ada. Di grup kami tersebut, kebetulan ada beberapa anggota yang merupakan admin dari beberapa media online tanah air. 

Setelah sekitar tiga bulan kelas ini berjalan, ada ide untuk mengundang tokoh-tokoh di bidang literasi yang sudah terjun secara profesional di bidangnya. Hal ini diharapkan bisa menjadi penyemangat anggota kelas untuk menulis. Selain itu pengalaman tokoh-tokoh tersebut bisa pula diambil baiknya dan jangan dilakukan apa yang salah, seperti kata pepatah pengalaman adalah guru terbaik.

Tokoh pertama yang diundang adalah Kristin Samah, penulis buku “Saya Sujiatmi Ibunda Jokowi”. Dari beliau kami belajar banyak mengenai menulis, utamanya untuk menjaga kesehatan mental kita. Beliau menjelaskan bahwa ternyata menulis juga merupakan terapi untuk menjaga kesehatan mental manusia

Lalu, pernah juga kami mengundang Bapak Suradi, seorang wartawan dan jurnalis yang bisa mengantarkan ketiga anaknya sekolah ke luar negeri hanya dari menulis. Saat itu, temanya adalah “Menulis untuk Raih Beasiswa Kelas Dunia”. Beliau menjelaskan trik-trik untuk bisa mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri dari membuat tulisan.

Dan tamu istimewa bulan ini adalah Kang Maman Suherman, seorang pegiat literasi yang wajahnya sangat sering kita lihat di layar kaca. Beliau memberikan trik-trik untuk mulai menulis. Terkadang banyak orang terlalu banyak berpikir untuk mulai menulis, sehingga terbentuk mental block untuk menulis. Jangan terlalu terpenjara dengan aturan-aturan dalam teori-teori menulis. Membaca teori menulis boleh saja, tapi jangan terpenjara karenanya. Begitu kira-kira pesan Kang Maman.

Trik pertama yang diajarkan Kang Maman adalah “5W1H++” dalam menulis. Pertama adalah who, siapa yang mau ditulis, kemudian what, apa yang ingin ditulis, selanjutnya where, dimana  setting tulisan tersebut dibuat, selanjutnya when, di era kapan isi tulisan tersebut dibuat, lalu why, mengapa tulisan itu dibuat, dan terakhir adalah how, bagaimana tulisan itu dibuat. Lalu “++”-nya adalah so what dan verification. Hal tersebut bisa membantu penulis baru membuat kerangka tulisan.

Trik selanjutnya adalah selalu ingat akan “5R”, ini adalah modal penulis untuk berhasil. Rumus 5R ini adalah read, research, reliable, reflecting dan (w)rite, demikian rumus Kang Maman yang kini sudah menghasilkan 22 buku dalam lima tahun terakhir ini.

Saya tidak membayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mengikuti seminar-seminar dengan pembicara-pembicara sekelas itu, pastinya sangat mahal.Mungkin tidak akan terjangkau kantong saya. Pengalaman-pengalaman yang diceritakan benar-benar hal yang bisa langsung diaplikasikan secara praktik. Saya merasa sangat beruntung ada dalam kelas seperti ini. Banyak hal yang saya dapatkan melalui pembicara yang dihadirkan.

Jadi sebenarnya, jika ada kemauan, kita bisa menjangkau kelas-kelas seperti ini. Ini baru satu contoh mengenai ilmu menulis atau literasi, masih banyak ilmu-ilmu lain dalam kelas-kelas serupa yang bisa kita cari di luar sana. Jadi, walaupun kita tidak memiliki cukup uang untuk bisa belajar, maka hanya dengan bermodalkan jaringan internet, kita bisa menjangkau ilmu apapun yang kita mau.

Memang kita perlu jeli dan sedikit kreatif dalam mencari ilmu ataupun kecakapan khusus dengan biaya minimalis seperti ini. Perluaslah jaringan pertemanan dengan siapapun yang dirasa bisa menunjang perkembangan diri ke arah yang lebih baik. Mungkin mengikuti kegiatan-kegiatan baru yang juga bisa kita temukan di media sosial yang ada.

Hal seperti ini tentunya sangat menyenangkan, kita bisa belajar apa yang memang menjadi ketertarikan kita. Saya jadi ingat pola pembelajaran di Pesantren Gugel (Gunung Geulis) tehadap santri-santrinya. 

Tidak ada satupun santri yang sekolah secara formal di sana, mereka benar-benar dibebaskan belajar apa saja yang menjadi ketertarikannya. Mereka bahkan menjadi incaran sekolah-sekolah sekitar untuk ujian nasional di sekolah mereka, karena terbukti nilai anak-anak dari pesantren tersebut di atas rata-rata dan bisa “mendongkrak” reputasi sekolah mereka.

Jadi dalam upaya menjangkau ilmu yang saat ini bisa dikatakan mahal, bisa kita dapatkan dengan biaya yang relatif murah. Sediakan jaringan internet dimanapun kita berada, lalu bergaul seluas-luasnya melalui media sosial yang ada, dan terakhir, semangat kuat untuk terus belajar dan mencari ilmu di manapun juga, seperti yang kami lakukan dengan cara mencari kelas-kelas daring yang gratis tapi bernas seperti contoh di atas. Salam Literasi…