Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang menempati posisi ke empat terbesar dunia. Tidak heran dengan jumlah populasi yang padat menyebabkan tingkat persaingan semakin ketat.

Banyak anak sedari kecil diajarkan untuk menjadi yang nomor satu, ranking satu dan juara satu. Bahkan sebagian besar orang tua, menjanjikan reward untuk anak-anak mereka sebagai wujud penekanan keseriusan dalam pendidikan.

Menyertakan anak-anak mereka ke lembaga bimbingan belajar juga merupakan ekstensi dari prioritas pendidikan untuk anak. Namun, segala wujud perhatian terhadap pendidikan anak tampak termotivasi untuk “menyelamatkan” sang anak dari persaingan dunia dan justru mengesampingkan pengembangan potensi anak.

Tidak ada yang buruk dari wacana memprioritaskan pendidikan bagi anak, Albert Einstein mengatakan “The development of general ability for independent thinking and judgement should always be placed foremost.” yang dapat ditarik gagasan intinya bahwa pengembangan pendidikan umum untuk berfikir mandiri dan kritis haruslah didahulukan.

Wacana tersebut nampaknya masih berlaku sebagai ekstensi prioritas pendidikan untuk anak-anak. Banyak orang tua yang setuju akan hal tersebut, terbukti tak sedikit orang tua yang berlomba-lomba menyertakan anak-anak mereka ke dalam lembaga bimbingan belajar.

Akibat dari fenomena ini adalah dominasi lembaga bimbingan belajar dalam kehidupan banyak keluarga - termasuk mereka yang khawatir anak-anak mereka tidak menerima dengan baik yang diajarkan guru  di sekolah.

Bimbingan belajar adalah proses pemberian bantuan kepada murid dalam memecahkan kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah belajar.1 Namun, seringkali agenda bimbingan belajar yang wajar kita jumpai adalah untuk menghadapi tekanan ujian dan mempelajari materi yang akan datang.

Bimbingan belajar hadir menjadi lembaga yang oportunis dalam bingkai komersialisasi pendidikan.2 Ajakan untuk mengikuti bimbingan belajar sendiri dapat dengan mudah ditemukan di dalam kelompok kecil ataupun besar, billboard, dan juga melalui internet.

Antusiasme orangtua untuk memasukkan anak mereka ke tempat bimbingan belajar menyebabkan menjamurnya lembaga bimbingan belajar.

Ada banyak bentuk lembaga bimbingan belajar misalnya lembaga bimbingan belajar konvensional dengan merek yang telah di-franchise-kan dan lembaga bimbingan belajar berbasis daring yang memungkinkan lebih banyak siswa mengakses konten pembelajaran. Tidak mengherankan jika lembaga belajar menjadi bisnis yang sangat menguntungkan.

Di sisi lain, lembaga bimbingan belajar telah menjadi masalah utama bagi pembuat kebijakan, praktisi, dan peneliti di seluruh dunia (mis. Bray et al., 2016; Entrich, 2018; Jheng, 2015; Jokić, 2013; Pallegedara dan Mottaleb, 2018). Beberapa bentuk bimbingan telah bergerak di luar suplementasi untuk menjadi pengganti sekolah reguler.

Evolusi ini memiliki implikasi signifikan terhadap struktur dan proses pendidikan, dan dapat menjadi sebab malpraktik-pendidikan yang dihasilkan dari sector lembaga bimbingan belajar yang tidak terorganisir dan tidak diatur.3

Indikasi sosial dari maraknya lembaga bimbingan belajar adalah kesan kapitalisme yang timbul dari pemanfaatan celah sistem pendidikan yang tidak mampu memenuhi kebutuhan siswa.

Kapitalisme memposisikan anak-anak untuk dididik dan diasuh agar siap masuk ke dalam pasar tenaga kerja. Barangkali narasi yang ada mengenai pendidikan sebagai jalan menuju masa depan yang cerah (baca: mendapatkan pekerjaan) menjadi salah satu narasi yang paling kuat.

 Selain itu, bimbingan belajar juga menimbulkan kesenjangan sosial yang  menciptakan ketidaksetaraan kesempatan belajar. 

Selain imbas dari kapitalisme pendidikan yang membuat ketidaksetaraan kesempatan belajar, masalah-masalah politik, ekonomi, sosial dan sebagainya juga turut berpengaruh. Terlalu naif jika mengatakan bahwa pendidikan itu adalah sesuatu yang netral.

Bisa dilihat pada masa orde baru, sistem pendidikan pada masa itu dijadikan sebagai salah satu instrumen untuk menciptakan safety net bagi pelestarian kekuasaan.

Visi dan misi pelestarian kekuasaan melahirkan kebijakan pendidikan yang bersifat straight jacket yang pada akhirnya menjadi penyebab kesenjangan terhadap pendidikan. 4

Melihat realitas yang ada, baik sekolah maupun lembaga bimbingan belajar cenderung mengedepankan aspek kognitif siswa untuk sekadar mencari nilai. Pendidikan yang ada cenderung berorientasi hanya pada persiapan ujian.

Lembaga bimbingan belajar menjadi ‘pasar’ pendidikan yang cenderung mengesampingkan proses yang ada pada sebuah system pendidikan. Siswa hanya diajarkan untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kognitif. Selain itu, nilai afeksi yang seharusnya ada dalam pendidikan tidak diberikan dalam lembaga bimbingan belajar.

Wacana mengenai lembaga pendidikan sebagai tempat ‘mendidik’ karakter siswa seakan kurang signifikan. Hal ini menjadikan nilai kognitif lagi-lagi menjadi sebuah nilai yang diutamakan yang pada akhirnya menghegemoni didalam masyarakat luas. Salah satunya terlihat dari antusiasme orang tua dalam memasukan anak mereka pada lembaga bimbingan belajar.

Jarang disadari bahwa mengikutsertakan anak ke lembaga bimbingan belajar justru menambah beban waktu belajar yang pada akhirnya membawa siswa rentan untuk mengalami  stres.

Kualitas pendidikan yang ada patut dipertanyakan. Bagaimana sekolah dalam membimbing dan mengajarkan siswa dalam belajar ? Bagaimana institusi negara melihat ke dalam realitas  tersebut?

Bimbingan belajar seolah-olah membentuk tatanan pendidikan baru membuat  sekolah formal sebagai ajang kompetisi nilai dan lembaga bimbingan belajar sebagai basis persiapan dalam menghadapi kompetisi tersebut.

Fenomena ini menuntut pemerintah menciptakan sistem pendidikan yang fleksibel namun tetap berkualitas sehingga dapat mengurangi keberadaan lembaga bimbingan belajar dengan pertimbangkan efek samping terhadap siswa.

Referensi : 

[1] Mulyadi. 2010. Diagnosis Kesulitan Belajar dan Bimbingan terhadap Kesulitan Belajar Khusus.Jogjakarta: Nuha Litera

[2] Prayoga, Yoga. 2015. Mahasiswa, Lembaga Bimbel dan Menteri Pendidikan. Harian IndoPROGRESS, https://indoprogress.com/2015/01/mahasiswa-lembaga-bimbel-dan-menteri-pendidikan/ (diakses pada 29 November 2018)

[3] Bhorkara, Shalini  Braya , Mark. 2018. The expansion and roles of private tutoring in India : From supplementation to supplantation. https://doi.org.ezproxy.ugm.ac.id/10.1016/j.ijedudev.2018.03.003 (diakses pada 28 November 2018)

 [4] Hujair AH. Sanaky. 2003. Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia. Yogyakarta: Safiria Insania Press