Kemunduran kualitas lingkungan hidup adalah sebuah teriakan yang menggaung dalam beberapa dasawarsa belakangan ini, yang akan melahirkan implikasi serius bagi kehidupan manusia pada masa kini ataupun masa yang akan datang. Kerusakannya mulai terlihat diberbagai lini, yang akhirnya saling tuding untuk menyalahkan diantara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Manusia yang mengatasnamakan diri sebagai kendali kehidupan di bumi ini, merupakan paradigma yang salah. Secara realitasnya, manusia adalah makhluk yang termasuk dalam komunitas ekologis bersama makhluk yang lainnya. Sudah barang tentu peran kita sama sebagai makhluk, yaitu menjaga dan melestarikan bumi sebagai lingkungan hidup kita semua.

Anehnya, kita sama-sama terkerangkeng dalam sangkar yang sama. Yaitu ke-Aku-an yang tetap tumbuh dalam diri kita, menguncinya  dan membiarkannya terus berkembang. Akhirnya, siapa yang akan kita salahkan jika alam ini rusak?  Manusia yang mana? Sedangkan kita semua masih betah menina-bobokan ke-Aku-an kita masing-masing.

Indikasinya adalah manusia terlalu konsumtif, penggunaan bahan-bahan sekali pakai sudah begitu lumrah, semuanya serba instan, meninggakan nilai-nilai kearifan lokal karena takut dikatakan ketinggalan zaman. Tidak ada salahnya kita menggunakan Mazhab Romatis yang diperkenalkan oleh Schleiermacher, kembali ke masa lalu dalam konteks lingkungan hidup.

Karena keseringan dari kita adalah menolak budaya nenek moyang sebagai budaya yang kolot, budaya yang sudah tidak sesuai dengan zaman. Dengan mengcopy-paste budaya modern, maka secara otomatis pula kita menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalam kearifan lokal tersebut. Sedangkan, jika kita telisik lebih mendalam, ada value yang terkandung dan bisa diterapkan dalam berbagai konteks.

Kembali ke Alam; Belajar dari Tradisi Masyarakat Adat Baduy

Masyarakat adat Baduy adalah masyarakat yang masih memegang tradisi leluhurnya sampai saat ini, ketergantungan akut terhadap alam salah satu ciri utama. Hidup selaras bersama alam merupakan keseharian yang dilakukan oleh setiap masyarakatnya, maka prinsip yang dipakai adalah saling peduli dan mengasihi sesama makhluk ekologis.

Mereka hidup dalam hutan adat yang dijaga secara turun temurun, melestarikan tradisi yang dilakukan oleh para leluhurnya dan mengajarkan kepada anak cucu mereka. Segala bentuk yang menyangkut dengan keberlangsungan hidup, alam akan selalu menjadi partner mereka. Karena menurut mereka, alam –khususnya; hutan- yang mereka jaga telah memberikan manfaat yang besar terhadap keberlangsungan hidup manusia dan juga habitat ekosistem lainnya. Apabila hutan tidak dijaga, mereka beranggapan bahwa akan ada malapetaka yaitu bencana alam.

Keharmonisan masyarakat adat Baduy dengan alam sangat jelas terlihat, meskipun topografi pemukiman masyarakat adat Baduy yang perbukitan dan pegunungan serta dialiri oleh beberapa sungai besar, meskipun demikian hutan adat mereka belum pernah mengalami longsoran atau banjir.

Dalam bercocok tanam misalnya, masyarakat adat Baduy masih menggunakan sistem ladang padi, yaitu sitem pertanian yang masih primitif. Sistem ini masih dipegang teguh oleh mereka berdasarkan buyut (larangan), tidak boleh merubah struktur tanah. Masyarakat adat Baduy pun menolak program revolusi hijau, sebuah program yang lebih menekankan dan dirancang secara homogen, sentralistis dan mengabaikan keragaman sistem ekologi, sosial dan budaya pada masyarakat lokal.

Lumbung pangan atau yang biasa mereka sebut dengan istilah Leuit, adalah bangunan untuk menyimpan gabah –padi ‘huma’ yang sudah kering. Bangunan ini memiliki berbagai macam fungsi, diantaranya; fungsi sosial perperan ketika masyarakat mengalami masa paceklik atau kekurangan pangan, fungsi ritual berperan dalam menjaga tradisi dalam konteks kebudayaan setempat dan fungsi ekonomi sebagai tempat untuk menyimpan gabah sebagai tabungan.

Begitupun dengan fasilitas fisik, seperti struktur rumah yang masih menggunakan bentuk panggung, dengan pondasi batu kali tanpa sambungan bahan-bahan material seperti yang digunakan oleh masyarakat modern masa kini. Struktur jembatan pun masih memanfaatkan bahan-bahan dari alam, menggunakan akar-akar pohon dan kayu ataupun bambu yang masih relatif banyak dijumpai di hutan adat Baduy.

Menjaga Hutan dan Melestarikan Alam; Narasi Masyarakat Adat Baduy

Tidak hanya masyarakat adat Baduy, secara umum berbagai masyarakat di Indonesia memiliki basis nilai (local wisdom) sebagai ciri khas ditiap daerahnya. Jauh ke belakang, ketika agama-agama langit dan bumi belum menyentuh tanah Indonesia. Masyarakat Indonesia menganut paham Animisme dan Dinamisme, yaitu kepercayaan terhadap pemujaan alam dan arwah lelurur.

Kepercayaan dimana ketika hidup manusia tidak harmonis terhadap alam, maka malapetakan akan datang menghampiri. Kepercayaan seperti itu pulalah yang dianut oleh masyarakat Adat Baduy sampai sekarang, selalu menghormati alam, dengan melakukan beberapa ritual sebagai bentuk rasa terima kasih terhadap alam yang telah memberikan kehidupan.

Masyarakat adat Baduy menanggap bahwa hutan mereka adalah sebagai inti jagat, memiliki hak untuk terpelihara dan tidak terganggu oleh perubahan. Proteksi terhadap lingkungan ditujukan untuk mempertahankan kehidupan mereka supaya tetap utuh dan dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, pandangan ini sama dengan pemikiran dalam pembangunan berkelanjutan.

Bentuk konservasi yang dilakukan oleh masyarakat adat Baduy pun tercermin dalam kehidupan keseharian mereka, bagi mereka hutan dianggap sakral sehingga masyarakat adat menghormati kawasan hutan mereka. Dengan melestarikan warisan leluhur inilah, terlihat jelas sinergi positif yang dilakukan oleh masyarakat adat Baduy dalam menjaga hutan adat mereka. Sehingga, pada hakikatnya kegiatan utama masyarakat adat Baduy adalah menyelamatkan dan menjaga tanah larangan yang telah dikeramatkan oleh leluhurnya. Oleh karena itu, perilaku masyarakat adat Baduy selalu diarahkan pada pengelolaan hutan dan lingkungan.