Ada dua negara yang dikenal sebagai paru-paru dunia, yaitu Brazil dan Indonesia. Kedua negara ini disebut sebagai paru-paru dunia karena kekayaan hutan yang dimilikinya.

Di Indonesia, terdapat hutan hujan tropis yang menyebar dari sebelah barat sampai ke wilayah tengah Indonesia. Hutan hujan tropis memiliki ciri-ciri pohon besar, tinggi, daun lebat, dan canopy (tudung daun).

Kekayaan hutan ini juga membuat Indonesia dikenal sebagai surga dunia yang mampu memberikan pemandangan yang memanjakan mata wisatawan.

Hutan menambah indah pemandangan dan menjaga udara Indonesia tetap sejuk. Hutan juga mampu menyerap dan menahan air, sehingga Indonesia tidak memiliki kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

Sisa dedaunan hutan hujan tropis yang gugur dan jatuh ke tanah akan bermetamorfosa menjadi zat hara yang menyuburkan tanah, sehingga menghasilkan berbagai macam tumbuhan.

“Tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Itulah sebait lagu yang menggambarkan bumi Indonesia. Tongkat kayu yang merupakan analogi dari batang singkong dapat tumbuh meski tidak dirawat dan dijaga. Cukup lemparkan atau letakkan saja ia di tanah, maka akan tumbuh dan berkembang.

Batu yang merupakan analogi dari biji-bijian akan tumbuh dan bertunas meski tanpa ditanam dan dirawat. Itulah Indonesia.

Namun, sekarang paru-paru dunia ini tidak berfungsi sebaik dulu. Ia mulai sakit. Udara mulai terasa sesak. Bencana alam berupa banjir, tanah longsor, dan kekeringan mulai melanda tanah surga.

Penebangan hutan secara membabi buta terus berlangsung dari waktu ke waktu. Hutan-hutan mulai gundul dan hewan-hewan berlarian ke perkampungan warga. Ekosistem hutan mulai terganggu dan menunjukkan tanda-tanda sakit.

Pertanyaannya, salah siapakah ini? 

Tentunya kita harus melihat untuk apa hutan selama ini dimanfaatkan. Di Indonesia, industri yang bahan bakunya banyak menggunakan kayu atau pohon adalah industri kertas. Namun, apakah industri ini merupakan penyebabnya?

Mungkin industri kertas memberikan andil dalam menyebabkan rusaknya paru-paru dunia. Tetapi, jika industri ini berjalan dengan proses yang sebenarnya, sesuai prosedur yang ditetapkan, maka dapat dipastikan industri ini tidak akan menyebabkan kerusakan. Misalnya dengan menggunakan sistem tebang pilih dan reboisasi dalam pengelolaan hutan.

Penyebab utama kerusakan hutan di Indonesia adalah kerakusan. Banyak oknum yang ingin mendapatkan keuntungan lebih dengan melakukan illegal logging atau penjarahan hutan yang tidak sesuai aturan. Mereka melakukan penebangan hutan secara sembunyi-sembunyi dalam jumlah yang besar.

Aktivitas mereka sebenarnya mudah untuk diketahui, namun biasanya ditutupi oleh kekuatan di belakangnya, seperti pejabat atau lainnya.

Hal ini membuat masyarakat yang mengetahui kegiatan penjarahan hutan tidak dapat berbuat apa-apa karena merasa takut atau segan untuk melaporkan. Dampaknya, kegiatan penjarahan hutan terjadi terus-menerus dan dianggap biasa.

Cara licik oknum tertentu untuk dapat menjarah hutan dengan bebas biasanya dilakukan dengan melibatkan warga sekitar dalam penjarahan hutan. Beberapa warga akan dilibatkan dengan pemberian upah yang lumayan besar, sehingga menjadi alat penutup mulut warga yang lainnya.

Tentu saja aktivitas seperti ini sangat membahayakan kelangsungan ekosistem hutan. Dampak dari penebangan hutan secara liar bukan saja pada ekosistem hutannya, namun juga pada lingkungan dan manusia yang tinggal di sekitarnya.

Untuk itu, sebagai langkah kewaspadaan dan penanggulangan kerusakan hutan, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Pertama, meningkatkan kerja sama antara pemerintah, Polhut (polisi kehutanan), dan masyarakat.

Kerja sama yang dimaksud di sini adalah upaya bersama-sama untuk menjaga kelestarian hutan. Pemerintah perlu menetapkan dan menerapkan aturan yang jelas dan tegas dalam melakukan pengelolaan hutan oleh pihak mana pun.

Melalui Polhut, kegiatan penjagaan hutan dapat lebih ditingkatkan. Polhut harus memiliki kesadaran dan kepedulian yang tinggi dalam menjaga kelestarian hutan, sehingga dapat bertindak sigap dalam menanggapi penyimpangan-penyimpangan pengelolaan hutan.

Keterlibatan masyarakat sangat diperlukan untuk melengkapi tugas Polhut. Masyarakat dapat memberikan laporan atas segala kegiatan pengelolaan hutan yang mencurigakan. Masyarakat juga harus diberikan sosialisasi dan pemahaman tentang pentingnya menjaga dan melestarikan hutan.

Kedua, membuat alternatif bahan baku selain kayu. Langkah kedua ini diperuntukkan kepada industri yang banyak menggunakan bahan baku kayu seperti industri kertas.

Makin meningkatnya kebutuhan akan kertas menyebabkan industri kertas harus berpikir kreatif untuk mencari bahan alternatif pembuat kertas. Seperti pada penelitian Rosmainar (2017), ia menyatakan bahwa bahan baku kertas tidak harus sepenuhnya dari kayu.

Rosmainar menyebutkan alternatif bahan baku kertas dapat diperoleh dari tebu, sampah kertas, batang pisang, enceng gondok, kulit jagung, tongkol jagung, jerami, tandan kosong kelapa sawit, kulit kacang, rumput gajah, serat aren, dan daun kirinyuh.

Dalam proses pembuatan pastinya memerlukan metode kimia, sehingga mampu mengubah beberapa bahan baku alternatif menjadi kertas yang layak pakai.

Peran kaum intelektual dalam mencari bahan baku alternatif dan mengolahnya menjadi kertas sangat penting. Untuk itu, industri-industri kertas harus melibatkan kaum intelektual dari perguruan tinggi atau praktisi yang memiliki ketertarikan terhadap pengelolaan kertas.

Kedua upaya di atas merupakan langkah awal untuk menjaga paru-paru dunia agar tetap berfungsi dengan baik. Sebagai salah satu negara yang memiliki hutan hujan tropis terbesar di dunia, sudah sepantasnya kita sebagai warga negara Indonesia merasa bangga.

Tetapi, rasa bangga saja tidaklah cukup. Kita harus terlibat dalam upaya menjaga dan merawat hutan kita supaya tetap lestari. Upaya-upaya yang dilakukan bisa dalam bentuk apa pun, seperti tidak membuang sampah ke hutan, tidak melakukan pembakaran hutan, atau yang lainnya.

Intinya, sekecil apa pun kontribusi kita dalam menjaga hutan, itu akan membantu menjaga hutan kita tetap lestari atau paling tidak kita telah membantu memperlambat kerusakan hutan.

Ada kata pepatah yang sering diungkapkan oleh para tetua kampung di daerah Sumatra: “Jika tidak mampu memberikan kebaikan, maka tidak merusak pun sudah cukup.”

Jika dikaitkan dengan upaya pelestarian hutan, pepatah tersebut bermakna: jika kita tidak mampu menjaga dan meningkatkan kelestarian hutan, maka tidak ikut melakukan pengrusakan pun sudah cukup.