“Hutan ditebang kering kerontang
Hutan ditebang banjir datang
Hutan ditebang penyakit meradang
Hutan-hutanku hilang anak negeri bernasib malang
Hutan-hutanku hilang bangsa ini tenggelam”

(Iwan Fals, Hutanku)

Hutan adalah paru-paru dunia. Ungkapan akan hal ini memang sangat lazim dikonotasikan dengan keberadaan hutan yang tak lain adalah penyuplai ketersediaan udara bersih, sumber sandang dan penyangga kestabilan semesta.Jutaan manusia bergantung kepada hutan sebagai sumber air, makanan, obat-obatan dan kebutuhan dasar lainnya. Dalam skala global, hutan juga berfungsi untuk menjaga kestabilan iklim. Beberapa bait lagu salah satu maestro tanah air di atas setidaknya juga sangat mewakili secara holistik gagasan akan pentingnya menjaga keberadaan hutan sebagai aspek vital keberlangsungan kehidupan.

Pada era yang semakin modern ini, kompleksitas pemanfaatan hutan kian tak terkendali lagi. Pembalakan liar dan kehadiran perusahan pertambangan untuk kepentingan eksploitasi kekayaan alam yang bervariasipun semakin memperparah keadaan. Pemberian ijin yang asal-asalan, serta peran oknum yang tak bertanggungjawab demi meraup keuntungan silih berganti. Belum lagi, kasus pembakaran hutan yang terjadi dibeberapa wilayah di Indonesia menunjukan bahwa kesadaran akan pengelolaan dan kelestarian hutan semakit mengalami ke kritisan.

Di Indonesia, model pemanfaatan hutan dari waktu ke waktu terus mengalami masalah, mulai dari pemanfaatan  untuk industri, utamanya industri minyak sawit, kertas dan tambang yang pada beberapa dekade terakhir mengakibatkan kerusakan dan ketidakstabilan ekosistem yang sangat menghawatirkan. Hal ini diperkuat dengan data yang dirilis Program Lingkungan PBB, United Nation Environmental Programme (UNEP), pada tahun 2022 mendatang, sebagian besar hutan hujan Indonesia semakin banyak lagi yang ditebang untuk pemenuhan permintaan sawit dunia.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya. Data Kementerian Kehutanan menyebutkan dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar diantaranya sudah habis ditebang. Hal ini tentunya akan kian memperparah kondisi hutan kita, apalagi tanpa adanya pola reboisasi yang matang. Sejatinya penebangan dan pemanfaatan hutan yang tidak ekofilosofi juga akan berimbas pada  hilangnya habitat flora dan fauna langkah yang ada di Indonesia, bahkan di dunia.

Untuk menjaga kelangsungan hutan di Indonesia, upaya serius dan maksimal harus tetap digalakan semaksimal mungkin. Selama ini, pengelolaan akan kelestarian dan pemanfaatan hutan kita yang agak rancu, utamanya dalam prospek dan regulasi yang dibuat pemerintah, disamping masyarakat juga yang berfikir statis akan keberlangsungan fungsi hutan untuk generasi masa depan.

Pada aspek regulasi dan penerapan misalnya, lintas koordinasi pemerintah pusat dan daerah selama ini hanya berkutat pada persoalan investasi yang mendatangkan keuntungan, belum lagi korupsi dan pungli berjamaah di sektor-sektor strategis pengelolaan hutan, pemberian sanksi yang tidak tidak begitu tegas terhadap oknum/kelompok terkait yang terlibat melakukan penyimpangan dan penyalahgunaan dalam pemanfaatan fungsi hutan, dst. Hal ini kemudian diperparah dengan pola pikir masyarakat yang fakultatif akan fungsi hutan, sebagai bagian dari masyarakat yang peka terhadapa fungsi hutan.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan diantaranya ialah; tidak melakukan penebangan secara liar, tidak membakar hutan, penggunaan lahan hutan untuk bercocok tanan semaksimal mungkin.  Jikapun tidak pada tahapan itu, kita bisa ikut mengkampanyekannya dengan penghematan penggunaan hasil hutan dengan baik (penggunaan kertas, dsb.) Ikhtiar akan fungsi hutan harus terus digalakkan sehingga kita tidak hanya berfikir tentang kehidupan hari ini tanpa pertimbangan nilai hutan untuk kemaslahatan dan keberlangsungan berbagai jenis mahluk hidup selanjutnya.

Pada akhirnya, hutan akan terus bekerja sebagaimana keniscayaanya untuk kehidupan kesemestaan, hutan akan tetap selamanya menjadi paru-paru dunia. Kita harus sadar, paru-paru dunia sekarang telah mengalami pesakitan yang berkepanjangan. Meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap bumi ini salah satunya dengan berbakti untuk kesehatan hutan dan kesehatan dunia.