Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. AL-Anbiya [21]: 107)

Dewasa ini, Islam dan intoleransi bagai dua molekul yang tidak bisa dipisahkan. Menganut agama Islam tidak sepenuhnya menjamin sebuah bangsa menemukan kedamaian, kesejahteraan, dan kemajuan.

Kasus penistaan agama yang menjerat Basuki Tjahja Purnama (Ahok) merupakan salah satu peristiwa yang menimbulkan indikasi bahwa visi Islam sebagai agama rahmat yang tertera dalam QS. AL-Anbiya [21]: 107 telah dimanipulasi untuk menyebarkan kezaliman dan kerakusan pada kekuasaan.

Perlu adanya upaya kolektif untuk mengembalikan Islam sebagai agama yang membawa rahmat sebagaimana esensi ajaran Nabi Muhammad SAW.

Apakah Ahok Menistakan Agama?

Ahok ditetapkan sebagai terdakwa penistaan agama diawali tindakan Buni Yani menuliskan kata-kata keterangan (caption) pada potongan video rekaman asli berisi pidato Ahok ketika bertemu warga di Kepulauan Seribu. Potongan video beserta caption tersebut diposting di Facebook pada tanggal 6 Oktober 2016.

Menurut Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono, di Mapolda Metro Jaya, Rabu (23/11), yang dilansir Berita Satu (23 November 2016) terdapat tiga caption karya Buni Yani.

Pertama, PENISTAAN TERHADAP AGAMA? Kedua, “Bapak-Ibu (pemilih muslim).. Dibohongi Surat Almaidah 51"... (dan) "masuk neraka" (juga bapak-ibu) dibodohi." Ketiga, "Kelihatannya akan terjadi suatu yang kurang baik dengan video ini”.


Status FB Buni Yani


Bila dicermati, dalam video asli rekaman khususnya yang disebarkan Buni Yani yang berdurasi 30 detik, Ahok tidak melafalkan surah Al-Maidah. Sehingga secara esensial, Ahok tidak melakukan tindakan yang bisa dimaknai sebagai bentuk pelecehan terhadap al-Quran.

Dalam artian, seseorang tidak bisa dinilai membaca surah Al-Maidah dengan hanya menyebutkan surah Al-Maidah tanpa melafalkan bunyi surah Al-Maidah.

Dan, seseorang tidak bisa dinilai membaca al-Quran ketika hanya aksara ‘al-Quran’ terlontar dari getaran pita suaranya; tanpa melafalkan satu ayat pun dalam al-Quran.

Tanpa kata-kata untuk mendeskripsikan sebuah konsep, suatu hal tidak mungkin dianggap nyata. Sebagai contoh beberapa bahasa daerah Indian Amerika tidak punya kata untuk mendeskripsikan “kebohongan”.

Kebohongan adalah suatu konsep yang benar-benar tidak familiar bagi suku-suku yang berbicara dalam bahasa tersebut. Hasilnya kebohongan tidak menjadi bagian dari cara berpikir dan tingkah laku mereka (McCreadie, 2013: 11).

Pada konteks kasus penistaan agama tersebut, tindakan Buni Yani yang menulis caption telah membentuk realitas baru yang menjauh dari esensinya.

Tindakan Buni Yani yang turut menyebarkan potongan video yang asli rekamannya 1 jam 40 menit menjadi 30 detik (mulai dari menit 00.24.16 sampai 00.24.46) telah mereduksi informasi. Langkah ini telah merusak substansi materi eletronik pidato Ahok di Kepulauan Seribu.




Tapi, tanpa caption berupa kata-kata yang ditulis Buni Yani, realitas baru belum terbentuk. Dalam artian, Buni Yani telah mendeskripsikan ulang informasi dari rekaman Ahok.

Jadi, bukan sekadar persoalan semantik kata ‘pake’ dari video orijinal yang tidak muncul dalam video versi Buni Yani, melainkan realitas baru yang dibentuk kata-kata tulisan Buni Yani pada caption tersebut video yang diamputasinya.

Ironisnya, realitas baru yang terbentuk bukanlah realitas membawa rahmat sebagaimana visi agama yang dianut Buni Yani, melainkan realitas yang menyebarkan fitnah dan kezaliman.

Masyarakat yang tidak menyaksikan video rekaman secara utuh akan rentan mempersepsikan bahwa Ahok membacakan surah Al-Maidah 51 dan melakukan tindakan yang bisa diasumsikan penistaan.

Di sisi lain, pada acara Indonesia Lawyers Club TVOne pada Selasa (11/10/2016), Buni Yani mengakui kesalahan transkip video rekaman kontroversial tersebut. Bahwa Buni Yani menghilangkan kata pakai (pake) dari video rekaman orijinal menjadi video versinya.

Buni Yani yang mengaku kecerobohannya timbul karena dirinya tidak menggunakan earphone.

Bila video rekaman Ahok di Kepulauan Seribu dicermati secara utuh, maka umat Islam akan menyaksikan bahwa kehadiran Ahok di Kepulauan Seribu tidak bertujuan untuk menistakan agama, melainkan berdialog dengan masyarakat dan menyampaikan program kerjanya untuk merealisasikan kesejahteraan.

Sebagian kata-kata Ahok bisa dinilai vulgar. Tapi, kita ingat bahwa mantan gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin (Bang Ali) jauh lebih vulgar.

Bahkan, tidak hanya menggunakan kata-kata vulgar, tapi Bang Ali juga bisa melakukan tindakan yang bisa diasumsikan kekerasan yang lazim di dunia militer untuk menegakkan disiplin.

Meskipun demikian, Bang Ali ataupun Ahok dikenal sebagai gubernur yang sangat berdedikasi dalam membangun Jakarta dan menyumbangkan kontribusi luar biasa bagi Jakarta.

Selain itu, realitas yang dibentuk caption Buni Yani dan menimbulkan citra baru dari video rekaman Ahok, telah mengamputasi substansi asli.

Tidak sedikit pernyataan Ahok yang bersifat konstruktif, sebagaimana yang ditranskrip dari video orijinal yang dipublikasikan youtube @PemProv DKI dan berdurasi 47:14 menit.


Gagasan yang disampaikan Ahok tersebut dapat disaksikan pada rentang detik 08.01-09.48 dari durasi 47:14 menit. Apakah pernyataan Ahok dari detik 08.01-09:48 menistakan agama?

Dalam pernyataan Ahok tersebut juga termaktub ‘koperasi didirikan dari pembudidaya yang jujur dan rajin’.

Bila Umat Islam menentang pernyataan tersebut, maka akan timbul asumsi umat Islam ‘menganjurkan’ koperasi diisi oleh orang yang tidak jujur dan tidak rajin, serta tidak ingin rakyat sejahtera.

Apakah ada dalam al-Quran dan Hadis yang ‘menganjurkan’ perbuatan tidak jujur dan tidak rajin, serta tidak ingin rakyat sejahtera?

Dalam video rekaman orijinal tersebut, masih berjejer gagasan Ahok yang konstruktif dengan visi mengantarkan rakyat sejahtera, baik masyarakat Kepulauan Seribu ataupun Indonesia secara keseluruhan.

Tidak mengherankan, berdasarkan data dari Tim Kuasa Hukum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang tergabung dalam Tim Advokasi Bhinneka Tunggal Ika (DetikNews, 29 Desember 2016), tidak ada seorang pun saksi yang berstatus warga dari Kepulawan Seribu.

Hal itu melahirkan fakta kuat bahwa masyarakat Kepulauan Seribu tidak mempersepsikan pernyataan Ahok sebagai penistaan agama.

Implikasi dari tindakan Buni Yani, muncul gerakan aksi Bela Islam pada 4 November 2016 yang menuntut pemerintah menjalankan proses hukum untuk menjebloskan Ahok ke penjara.

Selanjutnya, aksi ‘Bela Islam’ kembali diselenggarakan pada 2 Desember 2016 oleh ormas yang mengklaim menyuarakan suara kolektif umat Islam. Dan, sampai akhir Desember 2016, intensitas desakan untuk memenjarakan Ahok tidak menurun.

Ormas itu tidak hanya mendesak pemenjaraan Ahok, tapi bertebaran pula desakan untuk memusuhi dan membunuh Ahok. Rekaman tersebut menyebar melalui media sosial. Dengan mengatasnamakan Islam, sebagian massa aksi ‘Bela Islam’ melontarkan pernyataan yang memancing konflik.

Tidak hanya menghujat Ahok, massa ‘aksi bela Islam’ turut menghujat umat Muslim yang tidak berpartisipasi dalam aksi mereka. Ujaran kebencian itu dengan mudah kita temukan di media sosial.

Bila tindakan penganut agama merupakan citra dari agama yang dianutnya; maka tindakan umat Muslim yang menghujat Ahok ataupun hujatan terhadap umat Muslim yang tidak setuju aksi ‘bela Islam’ mencerminkan bahwa Islam telah menjauh dari visi Islam sebagai rahmat.

Padahal, aroma politik agitasi sangat nyata dalam aksi Bela Islam tersebut. Bila kita cermati perkembangan alumni 212, mereka secara nyata tidak membela Islam, melainkan berperan aktif dalam mengantarkan politisi tertentu untuk menuju kekuasaan dengan memanipulasi Islam.

Jika alumni 212 membela Islam, timbul beberapa pertanyaan. Di mana mereka ketika para TKI muslim/muslimah disiksa di Arab Saudi?

Hegemoni dalam Islam di Indonesia

Fenomena aksi ‘Bela Islam’ menegaskan bahwa tidak sedikit umat Islam yang hanya ber-Islam dengan sisi eksoterik (formalitas) dan mengabaikan sisi esoterik (esensi). Indikasi ini dikukuhkan dalam aksi ‘Bela Islam’ pada 2 Desember 2016 yang menggelar ‘salat berjamaah’.

Meskipun aksi menggunakan ritual Islam, secara esensial bertujuan untuk mendesak pemerintah dalam mempidanakan Ahok.

Buni Yani telah membuat caption yang melahirkan realitas imajiner yang menyimpang dari fakta, bila umat Islam benar-benar memiliki kemandirian berpikir dan kemandirian psikologis, umat Islam tidak akan mudah terprovokasi.

Ketidakmandirian berpikir tidak muncul secara alamiah, melainkan melalui sociallearning process (proses belajar sosial) yang bersifathegemoni. Hegemoni merupakan akar dari sebagian besar kekerasan yang terjadi dimuka bumi.

MenurutGramsci (Strinati: 1995), hegemoni adalah dominasi oleh satu kelompok terhadapkelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yangdidiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi diterimasebagai sesuatu yang wajar yang bersifat moral, intelektual serta budaya(Syufa'at, 2005).

Hegemonimelahirkan learned-helplessness (ketidakberdayaanyang dipelajari). Individu-individu yang menderita learned-helplessness akanmengalami kelumpuhan kemandirian psikologis, rendahnya harga diri (self-esteem),memiliki konsep diri (self-concept) yangnegatif, mengalami ketegangan (tension), perasaan tidaknyaman (disonan),reaktif, tidak memiliki ketegasan dan kecerdasan dalam berpendapat (assertive).

Sociallearning process yang menciptakan learned-helplessness dapatmuncul dalam beragam cara, seperti agama, sosial budaya, sosial politik, sertaagama. Bagaikan boneka, kesadaran mereka rentan dikendalikan pihak-pihak yangmemiliki otoritas dalam menyebarkan jaring-jaring hegemoni.

Dalam ranahIslam di Indonesia, terdapat dua proses hegemoni, yaitu hegemoni Islam secarainternal dan hegemoni dalam kekuasaan rejim Orde Baru.

Hegemonidalam Islam mulai terjadi sekitar abad ke-10 atau setelah Nabi Muhammad wafat.Di masa ini, ulama atau pihak-pihak yang memiliki hak otoritatif dalam tafsir,mengembangkan corak pemikiran Islam yang akrab disebut mazhab.

Padadasarnya, mazhab hanyalah sebuah bentuk corak pemikiran Islam dan masih bisadikritisi. Dalam prosesnya, mazhab-mazhab kembali beradaptasi dengan budaya danpolitik sebelum datangnya agama Islam.

Kemudian,ulama atau pemilik hak otoritatif tafsir Kitab Suci yang bersekutu denganpenguasa imperium Islam untuk mempertahankan kekuasaan (status quo) menutuppintu ijtihad.

Mulai masaini, visi Islam untuk merealisasikan agama Islam sebagai rahmat bagi semestaalam, mengalami reduksi yang luar biasa. Ayat-ayat dalam al-Quran rentandijadikan sebagai alat propaganda untuk tujuan politis.

Di sisi lain,proses hegemoni masa rejim Orde Baru berjalan dengan lebih sistemik. Semuaaktivitas dan medium komunikasi dikontrol dan dikuasai oleh pemerintah untukmempertahankan status quo penguasa-penguasa rejim Orde Baru dan kroni-kroninya.

Media massadigunakan untuk pencitraan para pemegang status quo. Pendidikan formalditujukan untuk kepatuhan pada pemilik sastus quo.Pihak-pihak yang berseberangan dengan pemerintah pusat akan mengalami represipemerintah dan juga ‘penghilangan paksa’.

Dari analisishegemoni, tidaklah mengherankan bila Islam sulit merealisasikan visi sebagaiagama rahmat dalam tatanan Bhinneka Tunggal Ika. Sebab Islam ataupun Bhinneka TunggalIka sarat dengan politik dan perebutan kekuasaan.

Keberagamanhanyalah slogan untuk menutupi upaya rejim Orde Baru dalam mempertahankanstatus quo dengan dampak masih mengukuh kuat sampai sekarang. Demikian puladengan hegemoni dalam Islam Pasca Orde Baru.

Meskipunmenggunakan atribut Islam dan menggunakan ayat-ayat al-Quran dalam menggerakkanaksi, kita bisa melihat tindakan mereka telah bisa dinilai sebagai bentukkejahatan.

Seluruh wargaIndonesia khususnya umat Islam perlu keluar dari belenggu hegemoni.

Agar visiIslam sebagai agama rahmat benar-benar terealisasi; bukan malah menjadikankesalehan sebagai topeng untuk melakukan tindakan yang berseberangan dengankeadilan, kemanusiaan, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Merealisasikan Visi Islam sebagai Agama Rahmat

Islammerupakan agama yang memiliki visi sebagai rahmat bagi semesta alam. Agama yangpembawa rahmat semestinya ditegakkan dengan cara rahmat pula.

Upaya untukmerealisasikan dimensi esoterik rahmat memerlukan kemandirian berpikir dankemerdekaan psikologis. Agar hegemoni tidak menjajah kesadaran umat Islam.Langkah-langkah yang bisa wujudkan antara lain:

Pertama,pengembangan budaya literasi

Budayaliterasi merupakan jembatan manusia menuju pintu gerbang ilmu pengetahuan.

Umat yangmemiliki keahlian literasi akan memiliki kemampuan untuk untuk memahami,menganalisis, mengkritisi, mengevaluasi, menguasai, dan memanfaatkan pengaruhsimbol-simbol bahasa (lisan dan tulisan).

Tanpakeahlian literasi, umat Islam mudah dipecah-belah dan tidak bisa berperan aktifdalam mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika.

Perpustakaanmerupakan sebuah fasilitas publik yang harus dimiliki warga negara Indonesia.Bagi umat Islam, setiap masjid (musholla) semestinya menyediakan perpustakaanuntuk mengakomodasi kebutuhan umat untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan.

Dengan terusmemperluas wawasan, umat Islam akan memiliki kemandirian berpikir dan kritis,sehingga tidak diperbudak tafsir monolitik atau terprovokasi.

Tanpakecintaan pada budaya literasi, visi agama Islam sebagai rahmat bagi semestaalam (rahmatanlil’alamin) tidak akan terwujud.

Selama umatIslam tidak membangkitkan budaya literasi, selama itupula paradigma umat Islam terus-menerusdideskripsikan pihak yang memiliki otoritas ataupun kelompok yang tidakbertanggung jawab.

Kasuspenistaan agama yang menempatkan Ahok sebagai tersangka merupakan momentum yangmemperkukuh umat Islam untuk membangkitkan budaya literasi.

Kedua, JudicialReview UU No. 1/PNPS/1965 tentang Penyalahgunaan dan/atauPenodaan Agama.

Tahun 2009 judicialreview terhadap UU No. 1/PNPS/1965 telah diajukan ke MahkamahKonstitusi. Tapi, MK malah menolaknya. Bahkan, Ketua MUI menilai UU tersebutharus diperkuat dan menilainya sebagai agenda liberalisme agama (Arrahman.com,26 November 2016).

Alih-alihmemperkuat pemurnian agama, UU ini sering dimanipulasi untuk kepentinganagitasi dalam perebutan singgasana politik. Sebab, materi UU No. 1/PNPS/1965 cenderungbersifat parsial, tidak holistik, dan terindikasi kuat dibentuk berdasarkanproses mekanisme fiksi hukum.

Pada konteksfiksi hukum, sebuah UU atau aturan-aturan hukum dibentuk pihak-pihak yangmemiliki hak otoritatif tanpa melibatkan elemen-elemen (organisasi) dantokoh-tokoh yang mengakomodasi hak asasi masyarakat.

Bahkan, orangyang buta akasara sudah dianggap mengetahuinya dan dituntut untuk mematuhinya.Tidak mengherankan, Ahok tetap diseret ke pengadilan hanya karena hasilkreativitas Buni Yani yang menciptakan realitas imajiner baru dan persepsinegatif.

Judicialreview UU No. 1/PNPS/1965 mutlak diselenggarakan karena Indonesiamerupakan negara demokrasi dan Bhinneka Tunggal Ika.

Selain itu,KUHP juga harus dimaksimalkan. Agar implementasi UU No. 1/PNPS/1965 ini beradadi koridor hukum, tidak menimbulkan aksi kekerasan, dan kedangkalan nalar.

Ketiga,pengembangan bisnis sosial

Di Indonesia,umat Muslim masih banyak yang miskin. Mereka merupakan mangsa yang empuk untukdiprovokasi melakukan tindakan reaktif kejahatan atasnama agama atau dididikmenjadi teroris.

Oleh sebabitu, Bisnis Sosial yang dikembangkan Muhammad Yunus di Bangladesh. MelaluiBisnis Sosial, Professor Muhammad Yunus mendirikan Grameen Bank dan menciptakansistem mikro kredit yang memberi pinjaman tanpa bunga bagi rakyat Bangladeshkhususnya perempuan. Bisnis sosial terbukti menekan secara signifikankemiskinan di Bangladesh, perlu disuburkan secara merata di Indonesia.

Keempat, mengembalikan fungsi masjid atau rumah ibadah sebagaitempat ibadah semata

Menjelangaksi Bela Islam dan upaya untuk memenjarakan Ahok, ujaran-ujaran kebencian atauprovokatif menyebar di masjid khususnya di Yogyakarta. Seruan membenci danupaya pemenjaraan Ahok menyebar di kotbah-kotbah saah Jumat.

Masjid yangsemestinya menjadi rumah yang mendamaikan, menjelma rumah yang penyebar fitnahdan kehancuran. Perlu adanya upaya untuk mengembalikan fungsi masjid sebagairumah ibadah, bukan rumah yang menjadi tempat tumbuhnya kezaliman.

Kelima,pengembangan komunitas dan jaringan lintas iman

Pengembangankomunitas dan jaringan lintas iman perlu dibentuk. Agar ormas-ormas yanganti-Pancasila dan memanipulasi Islam untuk pemuasan nafsu berkuasa, tidakleluasa mengklaim tindakan yang represif dengan mengatasnamakan umat Islamsecara kolektif. Salah satu contoh komunitas ini terlihat dari umat Muslim yangmembersihkan gereja St Lidwina (Bedog) Sleman-Yogyakarta pascaserangan aksiterorisme pada 11 Februari 2018.

Muslimah berjilbab ini menjadi bukti sederhana, toleransi masih ada di Yogyakarta Muslimah berjilbab ini menjadi bukti sederhana, toleransi masih ada di Yogyakarta


Selain memperteguh ikatan pesaudaraan Bhinneka Tunggal Ika, langkah ini membuktikan bahwa aksi atau tindakan represif yang mengatasnamakan Islam bukan bersumber dari ajaran Islam.

Keenam, pembebasan Ahok

Harus ada upaya umat Islam untuk membebaskan Ahok karena tidak bersalah. Bukti yang memberatkan Ahok adalah palsu atau hasil rekayasa. Bila diwujudkan, usaha ini akan menjadi angin segar yang mengembalikan esensi Islam sebagai agama rahmat.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aksi ‘Bela Islam’ pada 4 November 2016 dan 2 Desember 2016 secara esensial belum memenuhi visi Islam sebagai agama rahmat.

Sebab, aksi ini dipicu realitas baru yang dibentuk caption Buni Yani atas kesalahan transkrip potongan video rekaman Ahok. Pembebasan Ahok adalah angin segar bagi terwujudnya

Seluruh warga Indonesia khususnya umat Islam perlu keluar dari belenggu hegemoni. Agar umat umat Islam memiliki kemandirian berpikir, kemerdekaan psikologis, dan daya kritis.

Agar visi Islam sebagai agama rahmat benar-benar terealisasi; bukan menjadikan kesalehan sebagai alat untuk melakukan tindakan yang berseberangan esensi Islam sebagai agama rahmat. Dengan demikian, agama Islam berpeluang menjadi rahmat bagi Indonesia dan dunia.


Referensi

[1] Latif, Yudi. 2009. Menyemai Karakter Bangsa. Jakarta: Kompas.

[2] Strinati, Dominic. (1995). An Introduction to Theories of Popular Culture. Routledge: London.

[3] Syufa'at. (2005). Hegemoni Politik dan Tertutupnya Pintu Ijtihad. Jurnal Ibda' Januari- Juni 2005. Volume 3 STAIN Purwokerto.

[4] VERSI ASLI Pidato Lengkap AHOK Surat Almaidah Ayat 51 HARAP Di Simak Baik Baik Jangan Setengah: https://www.youtube.com/watch?v=dkeOkOmd6_Y