Pagi, Ambar

Saya berasumsi bahwa sepertinya selalu ada masa bagi seorang perempuan merasa benci atau kesal dengan tubuhnya sendiri. Entah itu karena menstruasi yang sering menimbulkan rasa mulas di perut dan rasa malu karena darah kadang menembus rok atau celana panjangnya di sekolah, di tempat umum atau di tempat kerja. 

Atau, sangat tidak jarang perempuan merasa tak puas dan tak percaya diri dengan wajah dan tubuh yang didapatinya muncul di cermin, setiap kali ia bercermin. 

Bahkan, masih tentang perempuan dan cermin ini, bahkan pada tiap permukaan yang mengilap, sering mereka tak mampu menahan diri untuk becermin untuk memastikan make-upnya tetap cemerlang, tak luntur karena keringat atau lipstick terhapus usai makan. Seolah, setidaknya sepertiga isi pikirannya telah penuh dihantui dengan pertanyaan “apakah dandanannya masih sesempurna saat masih dari kamar rias atau salon pilihannya?”.

Hey, saya tidak sedang menyuruh para perempuan berhenti bermake-up. Tak perlu buru-buru sebal juga. Seperti saran para kakak-kakak aktivis itu, perempuan berhak penuh mengatur tubuhnya sendiri. Dan, kita pernah tersenyum bersama karena itu, Ambar. 

Sejujurnya malah saya juga kerap merasa dan melakukan hal itu, karena memang perasaan dan kekhawatiran itu telah ditabur sejak dini, ditumbuhkembangkan semenjak moyang kita hingga ke buyut-buyutnya, menembus garis-garis generasi berabad-abad. Meski begitu, pada saat yang sama, kerap muncul juga perasaan cemburu dan tak rela, karena di antara banyak lelaki yang saya tahu dan perhatikan, sangat sedikit yang melakukan dan mengalami semua itu. 

Sesekali saya dapati, seorang lelaki mematut diri di depan cermin, tapi jarang betul di antara mereka yang ‘terobsesi’ pada cermin, atau produk make-up. Tentu saja ada di antara mereka yang membeli produk-produk make-up. Tapi, mereka tidak harus merogoh tabungannya banyak-banyak untuk dialokasikan buat kebutuhan itu.

Seingat saya, sejak usia 18 tahun, ketika saya hidup pindah dari kampung saya ke kota tempat kuliah, saya mulai menanggalkan kebiasaan-kebiasaan memakai make-up untuk setiap kegiatan di luar rumah saya. Tidak seperti kebanyakan teman perempuan saya yang berbekal bedak dan lipstick ke kampus, bahkan sisirpun saya tak punya.

Semua teman-teman perempuan saya mulai mengira saya tak ‘berminat’ untuk menjadi ‘cantik’. Meski, sebenarnya saya masih memiliki persediaan alat make-up saya.Kamu tahu, Ambar, saya cukup rajin berlatih menari dan kadang mementaskannya. Untuk itu saja lah saya akan rela bermake-up.

Namun, apalah daya saya, Ambar. Kini pekerjaan saya meminta saya untuk melakukan pertemuan-pertemuan resmi di kantor-kantor di kota. Meski sering pula pekerjaan saya meminta saya bertemu warga-warga di kampung. Bekerja untuk kegiatan-kegiatan resmi di kota ini yang kadang agak mengganggu. 

Bisa kamu bayangkan, bagaimana cara berpakain perempuan ‘diatur’ sedemikian rupa, dan nyaris tak ada yang tak bermake-up seperti saya. Saya tahu kamu selalu bilang saya konyol, dengan bersikap seperti ini. 

Apakah saya bersikeras dengan kemauan saya untuk tak bermake-up? Hingga kini saya masih tak punya sisir, karena rambut saya termasuk mudah diatur. Jadi saya masih merasa bisa ke mana pun bermodalkan sepuluh jari tangan saya sebagai sisir. Kini, kamu paham, mengapa kamu tak pernah menemukan sisir di kamar saya. 

Namun, saya kadang mulai memakai lipstick karena saya mulai bosan dengan celoteh kawan-kawan di kantor. Katanya “biar tidak terlihat pucat, dan lebih fresh”. Sesekali, saya memoles bibir saya, Ambar. Saya tahu, kamu sedang tertawa membaca ini. 

Tapi, ya, begitulah menjadi perempuan. Apalagi jika perempuan itu adalah saya, yang diajari untuk empan papan, tahu tempat, tahu cara menempatkan diri. Saya rasa, tak mengapa mengorbankan sedikit dari pendirian saya, untuk bisa mencapai hal yang lebih besar.

Saya hanya berusaha untuk tidak menilai kecantikan perempuan mana pun dari make-up yang dipakainya. Atau pakaian yang dikenakannya. Karena saya juga tak ingin diperlakukan demikian. Meski tetap saja,di tengah gempuran iklan bertebaran yang ingin meneladankan bagaimana menjadi cantik dan juga kebiasaan-kebiasaan di kantor tempat kerja, rasa tak percaya diri itu selalu timbul tenggelam berulang-ulang, seperti tak berkesudahan.

Rasanya menyenangkan, ketika suatu kali, saya ikut kelompok meditasi di sebuah pegunungan di Jawa Barat. Saya dan pelaku meditasi lainnya diminta tak berbicara selama hampir dua minggu. Hanya bermeditasi untuk mengakrabi tubuh ini sendiri. Seperti saat menari tanpa harus memikirkan siapa yang menonton saya. Hanya saya dan tubuh ini.

Usai meditasi itu, dan para pelaku meditasi diijinkan saling berbicara, seorang perempuan setengah baya menghampiri saya, mengajak berkenalan. Ia mengaku sebagai seorang pensiunan guru perempuan dari India.

"Saya mohon maaf. Setiap kali kita berangkat ke ruang meditasi, sering tanpa sengaja saya melihat wajah Anda. Entah mengapa saya selalu ikut merasa tenang setiap melihat wajah Anda," ujarnya.

Ambar, saya tertegun dengan ucapannya. Tak pernah saya mendengar ungkapan seperti itu seumur hidup saya. Tak sekalipun saya dengar orang bilang saya cantik, kecuali ketika saya bermake-up.

Saya mungkin sudah terbiasa dengan itu. Namun, bagi saya, rasanya  luar biasa, mendengar seorang perempuan setengah baya merasa tenang hanya dengan melihat wajah saya, bahkan tanpa berbincang. Tanpa sisir dan make-up.

Saya jadi ingat wajah ibu saya. Mungkinkah perasaan perempuan itu sama dengan perasaan damai saat saya menatap ibu saya, yang telah memasuki tahun ketujuhpuluhnya? Tanpa sisiran, bedak maupun lipstick. Mungkin juga itu yang kini bisa saya sebut cantik.