Mengapa kita menulis? 

Siswa dan mahasiswa menulis karena mengikuti pembelajaran di kelas. Ini berkaitan dengan kegiatan menulis yang telah direncanakan dan disusun oleh guru mata pelajaran dan dosen mata kuliah. 

Dengan demikian. kegiatan menulis di dalam kelas merupakan kegiatan yang sudah terprogram. Sehingga siswa dan mahasiswa, setelah mengikuti pembelajaran, diharapkan mampu menulis berbagai jenis tulisan.

Selain untuk memenuhi tugas-tugas pembelajaran bagi siswa dan mahasiswa, kita yang berkecimpung dan menyukai dunia literasi bisa jadi dilandasi beragam motivasi. Misalnya untuk berekspresi, memperjuangkan idealisme, berdakwah, terlibat dalam proses perubahan sosial, atau mencari nafkah dengan menulis sebagai mata pencaharian.

Tidak ada yang melarang orang yang memiliki satu, dua, atau banyak motif dalam kegiatan menulis.

Banyak Manfaat

Menurut Dr. Pennebaker (melalui Hernowo, 3003), menulis memberikan banyak manfaat. Secara terinci, manfaat menulis tersebut adalah menjernihkan pikiran, mengatasi trauma, membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, membantu memecahkan masalah, dan kegiatan menulis bebas membantu kita ketika terpaksa menulis.

Sementara itu, Caryn Mirriam-Goldberg (2004) mengemukakan 12 alasan mengapa kita menulis. Kedua belas alasan tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, menulis membantu menemukan siapa diri Anda. Kedua, pada saat menulis, Anda percaya diri dan meningkatkan kebanggaan. Ketiga, menulis dapat membantu Anda percaya diri dan meningkatkan kebanggaan. Keempat, menulis menunjukkan apa yang dapat Anda dapat berikan kepada dunia.

Kelima, dengan menulis, Anda mencari jawaban terhadap pertanyaan dan menemukan pertanyaan baru untuk dinatanyakan. Keenam, menulis meningkatkan kreativitas. Ketujuh, Anda dapat berbagi dengan orang lain melalui kegiatan menulis. Kedelapan, menulis memberikan Anda tempat untuk melepaskan amarah, ketakutan, kesedihan, dan perasaan menyakitkan lainnya. 

Kesembilan, Anda dapat membantu menyembuhkan diri dengan menulis. Kesepuluh, menulis memberi Anda kesenangan dan cara mengungkapkannya. Kesebelas, menulis membuat Anda lebih hidup. Kedua belas, Anda menemukan impian Anda melalui menulis.

Itu sebabnya, kita layaknya menulis karena didasarkan pada manfaat dan alasan yang jelas. Kita makin memahami bahwa ternyata kegiatan menulis berdampak sangat positif. 

Kegiatan menulis bukanlah kegiatan yang hanya sekadar untuk membunuh waktu dan sia-sia belaka, atau pekerjaan bagi orang-orang iseng.

Hindari Plagiasi

Menghindari plagiasi adalah peraturan atau rambu-rambu dalam tulis-menulis yang harus kita patuhi. Plagiasi atau plagiarisme itu haram bagi penulis. Jangan sekalipun mencobanya hanya karena kita ingin terkenal.

Plagiasi adalah penjiplakan atau pengambilan tulisan dari orang lain dan menjadikannya seolah tulisan sendiri. Dengan demikian, maka perbuatan plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana. Plagiator dapat diadukan ke meja hijau

Plagiasi merupakan perwujudan budaya instan dan mental menerabas masyarakat akademik. Para plagiator ingin memperoleh hasil cemerlang tanpa kerja keras dan melalui proses yang panjang dan melelahkan.

Meskipun melanggar hak cipta dan cepat diketahui publik karena kemajuan teknologi informasi, uniknya, menurut Wibowo (2006), plagiasi di Indonesia seolah menjadi "hal yang biasa".

Menteri Pendidikan Jerman, Annete Schavan, mengundurkan diri setelah gelar doktornya dicabut karena dinilai telah melakukan plagiasi (Kompas,11 Februari 2013). Gelar doktor Mochamad Ulfiansyah dicopot pihak Institut Teknologi Bandung (ITB) setelah tim investigasi ITB menemukan bukti plagiasi dalam disertasinya (Media Indonesia, 27 April 2010).

Itu sebabnya, sebaiknya kita tidak melakukan plagiasi dalam menjalani proses kreatif menulis. Buatlah tulisan dengan menggunakan segala kemampuan mengolah kata. Karunia Allah yang tak terkira dan tak dapat digantikan oleh apa pun, yaitu otak dan hati, selayaknya kita berdayakan secara maksimal untuk menulis.

Jadilah diri sendiri karena kita memiliki karena kita memiliki otak dan hati sendiri. Kita tidak ingin bergantung kepda orang lain. Menulis apa pun tidak perlu berbuat curang. Sebab, modal utama menulis adalah kejujuran.

Bertanggung Jawab

"Semua penulis akan mati. Hanya karyanyalah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti," kata Ali bin Abi Thalib.

Pesan yang disampaikan sahabat, sepupu, dan menantu Nabi Muhammad ini sangat jelas. Penulis layak menulis sesuatu yang membuat bahagia si penulis kelak di akhirat. Bukan menulis sesuatu yang akan membuat si penulis berduka.

Dengan demikian, kita harus menulis sesuatu yang bermanfaat bagi sesama. Sesuatu yang dapat menjunjung dan meninggikan derajat, harkat, dan martabat kemanusiaan. Bukan menulis sesuatu yang menghancurkan nila-nilai kemanuiaan.

Sebab, tulisan yang bermanfaat maupun tulisan yang mudarat, penulisnya akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Ini juga sesuai dengan firman Allah:

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula (QS Az Zalzalah [99]: 7-8).

Sebaiknya kita menulis sesuatu yang bermanfaat dan mendatangkan pahala. Karena tulisan yang kita buat itu kelakan menjadi saksi yang akan membuat kita bahagia. Bukan menulis sesuatu yang akan membuat kita menderita. Marilah kita menjadi penulis yang bertanggung jawab.