Tidak mudah menjadi orang tua tunggal, terlebih kalau penyebab perpisahan sesuatu yang tidak kita duga atau tidak kita inginkan. Tatkala hati dan pikiran masih dirundung kemarahan, kesedihan, dan kekalutan, di saat yang sama juga harus menyiapkan diri untuk tetap tegak berdiri dan melanjutkan kehidupan.

Saya tahu, dilema ini tidak mudah dilalui siapa pun yang menjadi orang tua tunggal, entah dia laki-laki atau perempuan. Tak sedikit yang terpuruk dan enggan untuk bangkit lagi. Tetapi mentari harus terbit lagi, bukan, untuk menggantikan pekat malam?

Saya sadar, pasti ada ketakutan menghadapi masalah finansial, kebutuhan komunikasi, siapa yang akan membantu mengasuh anak, bagaimana mengatur waktu, dan bertumpuk ketakutan lain terhadap peran baru ini. 

Persoalan akan sedikit lain bila memang sejak awal seseorang berniat untuk menjadi orang tua tunggal. Meski masih kurang lazim di Indonesia, tetapi saya yakin, mungkin banyak juga yang sudah memulainya, berniat, atau bahkan sudah menjalaninya untuk memiliki anak tetapi tidak memiliki pasangan; pasti ada alasan kenapa seseorang menjalani hal tersebut.

Ada waktu memang untuk berkutat dengan ketakutan ini. Tetapi bukan tidak bisa diatasi. Meski ketakutan ini bukan sekadar imaji, tetapi membangun paradigma baru cara berpikir kita akan sangat membantu. 

Cara paling gampang adalah kita taruh ketakutan ini dalam keranjang kelemahan dan kita tutup di atasnya. Tak perlu keranjang ini dibuka lagi, karena hanya akan membuat kita larut di dalamnya atau mengutuki mengapa harus kita yang mendapat peran ini. Ibarat mengubur sesuatu, pamali, bukan, kalau kita buka-buka lagi?

Keranjang satunya lagi kita buat untuk kita isi dengan harapan, keyakinan, dan rencana-rencana yang menyemangati untuk melanjutkan hidup dengan lebih indah lagi. Tak ada batasan waktu pasti kapan seseorang akan berhenti meratapi dirinya sendiri dan bersiap bangkit lagi. Ini tergantung ketekatan hati masing-masing.  

Lingkungan terdekat bisa menjadi support system yang kuat. Atau justru lingkungan terdekat ini yang justru membebani untuk bisa bangkit lagi? Masing-masing memiliki lingkungan sosialnya sendiri-sendiri.

Ada kecenderungan, keluarga dengan orang tua tunggal biasanya akan terfokus pada kelemahan dan masalah yang dihadapi. Padahal sebenarnya, sebuah keluarga dengan orang tua tunggal tetap bisa menjadi keluarga yang efektif. Syaratnya hanya satu, tidak larut dalam kelemahan dan masalah yang dihadapinya.

Dalam diri setiap orang, selalu ada kemampuan minimal untuk bertahan. Dari sinilah titik tolak itu dibangun. 

Menjadi orang tua tunggal bukan akhir dari dunia. Prinsipnya sederhana saja, hidup itu akan njimet kalau kita melihatnya dari kacamata yang ribet. Tetapi hidup itu indah dan mudah kalau kita melihatnya dari sudut ini. 

Sekarang tinggal pilihan kita, mau hidup yang mudah atau yang njimet? Bukankah belokan itu hanya ada dua: ke kiri atau ke kanan?

Pertama yang harus kita niatkan adalah membangun komunikasi yang baik dengan anak. 

Tentu ada perasaan kehilangan pada anak karena ketidaklengkapan orang tuanya ini. Tetapi komunikasi yang intim dan intensif akan membantu anak mengatasi masalahnya, termasuk menyiapkan anak memiliki emosi yang terkendali, tidak merasa tertekan karena tidak bisa menjelaskan kenapa hanya ada ibu atau ayah saja di keluarganya.

Penting pula untuk diingat agar tetap memperlakukan anak dalam usianya. Jangan karena peran kita sebagai orang tua tunggal lalu kita meng-karbit-nya menjadi cepat dewasa. 

Kebingunan anak karena orang tuanya tak lengkap, pelan-pelan harus dijelaskan. Ayah atau ibu bisa tergantikan dengan eyang kakung atau eyang uti yang ada, begitu juga dengan om dan tante. Syukur bila dengan mantan pasangan kita masih berbagi peran untuk menjaga anak sesuai jadwal yang telah disepakati. 

Jauh dari keluarga inti? Bukankah ada teman-teman di lingkungan sosial yang masih tetap dengan tangan terbuka menerima pertemanan kita?

Kedua, kalau memungkinkan, pilih pekerjaan yang fleksibel, sehingga komunikasi intensif akan terjembatani. Ya, meskipun di zaman sulit ini tidak leluasa buat kita untuk menentukan pekerjaan yang kita maui. 

Tahap-tahap awal ini pasti tidak mudah. Menitipkan anak di penitipan, pasti mengeluarkan biaya yang lumayan banyak. Maraknya platform belanja online barangkali bisa menjadi alternatif. Atau memang fokus pada pekerjaan yang tidak perlu harus datang ke kantor secara rutin.  

Drama mendampingi anak sebagai orang tua tunggal pasti seru. Orang tua yang komplet pun sering kali kebingungan menghadapi perkembangan anaknya, bukan?

Catatan penting: Anda dan anak dapat menjadi tim yang hebat bila menganggap single parent bukan beban. Dari sinilah kekuatan-kekuatan itu dibangun. 

Jadi, berhentilah mengutuki diri sendiri. Bangkit dan bangunlah kekuatan-kekuatan itu. Dunia tidak akan runtuh kok meski berperan sebagai orang tua tunggal. Pilihlah jalan bahagia, lalu ikutilah iramanya.