“Lalu bangsa kita, Indonesia, yang sebagian besar umat Islam ini diajak bersama-sama menjadikan Israel sebagai musuh bersama, menghakimi orang-orang Israel sebagai sekumpulan orang yang tak layak hidup di bumi.

Itu tidak adil dan mengolok-olok.”

 Kewajiban Menjadi Adil Tanpa Mengolok

Mencoba memahami tentang fakta kondisi hubungan politis, multilateral dua negara Palestina dan Israel, maka menarik untuk mengacu Kalam Ilahiah.

Pertama adalah Firman Tuhan sebagaimana tertera dalam surah Al Maidah ayat 8 dan Al Hujurat ayat 11;

“.... Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil lah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa.’”
(Al Maidah ayat 08).

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)...”
(Al Hujurat ayat 11).

Memaknai kedua surah Quran tersebut di atas, berarti dalam memahami suatu pertikaian kita dituntut adil dan tidak terjebak untuk mengolok-olok suatu kaum.


Fakta Bangsa Merdeka

Sekarang sedikit fakta dan kajian sejarah tentang Palestina.

Palestina itu sudah menjadi negara merdeka yang berdaulat sejak 15 Nopember 1988.

Diakui dan didukung oleh resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB pada 29 November 2012.

Beberapa negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI), Liga Arab, Gerakan Non Blok dan ASEAN termasuk Indonesia, telah mengakui Palestina sebagai negara merdeka berdaulat.

Dengan demikian, cara berpikir bahwa Palestina dijajah oleh Israel, itu kurang tepat.

Perjuangan bangsa Palestina meraih kemerdekaan, mirip perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan yang melalui dua cara, yakni secara de facto dengan memproklamasikan diri sebagai negara Republik Indonesia 17 Agustus 1945.

Lalu setelah melalui proses menghadapi aksi polisionil Belanda, yang dikenal sebagai agresi militer I dan II masing-masing pada 1946 dan 1948, kemudian diakui secara de jure oleh pihak Belanda pada 27 Desember 1949 pasca Konferensi Meja Bundar (KMB), hingga diakui pula oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai negara berdaulat pada 28 September 1950.

Akhirnya Indonesia memiliki peta nasional yang lengkap sesuai cita-cita bangsa yang diwakili oleh para Bapak Pendiri Bangsa, lepas dari cengkeraman negara Belanda selengkapnya setelah Irian Barat berhasil direbut pada tahun 15 Agustus 1962.


Berbeda Memaknai Tanah Air dan Tumpah Darah

Perjuangan bangsa Indonesia tak hanya menjadi tanggung jawab aparat pertahanan dan keamanan, namun juga seluruh rakyat Indonesia.

Palestina juga demikian, hingga berhasil memproklamasikan diri pada tahun 1988 dan diakui PBB pada 2012 tersebut di atas.

Palestina punya lambang dan bendera negara, punya presiden, punya perdana menteri, punya parlemen, punya legislatif selayaknya negara merdeka.

Namun antara Indonesia dan Palestina terdapat perbedaan dalam mencapai kemerdekaan dan mempertahankannya.

Indonesia dibela oleh para rakyat dan peran para pahlawan perjuangan bangsa baik sebagai pejuang fisik, ahli bertempur dengan pejuang penggalang opini dan lobi internasional, ahli diplomasi.

Juga, Indonesia mendapat berkah berupa tanah subur dan kekayaan alam yang menjadi bekal menjalani visi, misi serta nilai-nilai sebuah negara berdaulat.

Sementara Palestina, perjuangan fisik hanya mengandalkan satu organisasi kombatan yakni Hamas. Itupun oleh banyak negara seperti Amerika, Kanada, Uni Eropa, Jepang, Yordania, Mesir dan tentunya Israel sendiri menganggap Hamas sebagai organisasi teroris.

Lalu, karena tak punya kekayaan sumber daya alam, Palestina juga mengandalkan donasi dana untuk putaran ekonomi negerinya, salah satunya dari negara-negara yang mengakui kedaulatan Palestina dan yang juga sudah disahkan oleh PBB melalui UNRWA (United Nation Relief And Works Agency for Palestine Refugees in the near East). Pendonor terbesarnya adalah Amerika Serikat.

Berbeda dengan Indonesia yang meraih dan mempertahankan kemerdekaan hingga diakui banyak negara karena perjuangan bangsa yang sama yang kompak antara peran militer. Seperti Jendral Sudirman, Jendral Oerip Soemohardjo, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan kawan-kawan. Juga peran kepiawaian berdiplomasi tingkat internasional, seperti H Agus Salim, Muh. Hatta, Mh. Natsyir dan kawan-kawan.

Termasuk, peran Agamawan dalam menyemangati perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia seperti; KH. Hasyim Ashari, KH. Ahmad Dahlan, Uskup Soegijapranata dan guru besar berpolitik para Bapak pendiri bangsa; HOS Tjokroaminoto.


Hindari Ajakan Tak Adil dan Suka Mengolok

Dalam hal menjaga kemerdekaan, kiranya Palestina kurang kompak dalam menjaga wibawa sebagai negara berdaulat, antara politisi sipil dengan angkatan bersenjatanya yakni Hamas yang sudah kadung dikenal dalam perspektif organisasi teroris oleh banyak negara.

Bisa jadi, Israel menyerang balik wilayah Palestina karena wilayahnya juga sering diserang secara fisik oleh Hamas. Hal ini perlu diklarifikasi kebenarannya sebelum kita memutuskan penilaian suatu masalah ataupun mengirimkan berita-berita secara sepihak tentang hubungan Palestina dan Israel terkini.

Apalagi jika sudah mengklaim bahwa hubungan Palestina dan Israel yang sering memanas adalah karena faktor agama.

Lalu bangsa kita, Indonesia, yang sebagian besar umat Islam ini diajak bersama-sama menjadikan Israel sebagai musuh bersama, menghakimi orang-orang Israel sebagai sekumpulan orang yang tak layak hidup di bumi.

Itu tidak adil dan mengolok-olok.


Memaknai Kisah-Kisah Nabi Musa AS

Menarik untuk memaknai isi surah-surah Quran, maka nama nabi yang sering disebut adalah Nabi Musa Alaihis Salam.

Beliau terlahir sebagai orang Israel yang menyelamatkan kaumnya, Bani Israel dari penganiayaan dan perbudakan oleh bangsa Mesir pada jaman jahiliyah, serta menyelamatkan kaumnya dari kejaran Firaun dan bala tentaranya.

Juga Quran mengakui kitab-kitab terdahulu seperti Taurat, Zabur, Injil sebagai kumpulan Kalam Ilahi yang disebarkan oleh para nabi dan rasul kepada kaumnya.

Nabi Musa menebar makna Taurat kepada Bani Israel.

Dengan memaknai surah-surah tentang perjalanan nabi Musa dan Bani Israel maka tak semua orang Israel lalu menjadi musuh bersama dalam bumi ini.

Orang-orang Israel juga Ahli Kitabnya yang mengakui Taurat dan patuh pada ajaran Nabi Musa, maka mereka termasuk orang saleh.


Beriman dan Berilmu Agar Menjadi Bijak

Jadi, dalam memaknai hubungan Palestina-Israel yang selalu naik turun tensi dan suhu adem panasnya, maka kita perlu bijak dan sepenuhnya membekali diri kita dengan ilmu yang bisa digali dari makna Al Quran dan kajian sejarah panjang perjalanan bangsa Palestina dan Israel.

Mari menjadi Mukmin yang beriman, berakal dan berilmu.

Penulis berusaha menjadi Mukmin dan mendoakan kebaikan terhadap sesama

Berperilaku dalam takaran berimbang, selayaknya suatu proses perjalanan Bilangan Antaran (Transference Number) yang menebar keberimbangan ionik dalam sebuah Sel Konsentrasi Galvanik, yang mampu mengubah perbedaan konsentrasi larutan ionik menjadi energi listrik yang berguna bagi kehidupan.

Satu set piranti Sel Hittorf sebagai Sel Konsentrasi Penentu Transference Number

Mari kita menjadi bijak dan tak mudah terbakar hati.


Bahan bacaan menginspirasi tulisan:

  1. Quran Surah ke 5, Al Maidah (Jamuan Hidangan) ayat 8
  2. Quran Surah ke 49, Al Hujurat (Kamar-Kamar) ayat 11.
  3. Monica, Mario Della, et. all, September 1979, Transference Numbers in Concentrated Sodium Chloride Solutions, Electrochimica Acta 24.