Menarik untuk menilik pernyataan Bapak Jusuf Kalla selaku Wakil Presiden yang juga berkedudukan sebagai Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Dalam beberapa kesempatan, beliau sering menyatakan kader HMI terlalu aktif berpolitik. Pernyataan tersebut pernah disampaikan beliau pada tahun 2015 saat penyelenggaraan Kongres HMI di Riau. 

Bukan sekali beliau menyampaikan hal tersebut. Pada awal tahun 2018, Pak JK (sapaan Pak Jusuf Kalla), juga menyampaikan hal yang sama saat HMI ingin menyelenggarakan Kongres ke-XXX di Ambon, pada 12 hingga 17 Februari 2018. Walaupun secara konten memang sama, namun terdapat perbedaaan pesan, untuk yang kedua ini beliau menekankan agar kader HMI tidak melupakan aspek akademis organisasi.

Sebagai bagian yang pernah berkontribusi pada saat masih menjadi anggota di HMI, tentu sudah paham bagaimana organisasi ini berkontribusi bagi negara Indonesia. Namun pernyataan yang disampaikan tersebut juga merupakan sebagai bentuk kepedulian JK terhadap perkembangan organisasi ini. Maka penulis pun ingin membahas memiliki keresahan dengan Kanda JK selaku salah satu alumni yang disegani dalam organisasi HMI.

(Me)nurut (Me)reka

Dalam perspektif mahasiswa biasa (yang tidak memasuki organisasi ekstra kampus), HMI dipandang begitu serakah, begitu haus akan kekuasaan, begitu ekslusif, dan masih banyak lagi yang terdengar oleh penulis. Seperti begitu rendahnya organisasi ini di mata mereka yang melihat dari luar. Sehingga tidak jarang ketika ada suatu kegiatan yang ingin dilaksanakan, selalu nada negatif yang terdengar lebih nyaring ketimbang yang positif.

Nada sumbang tersebut memang disebabkan oleh kader HMI sendiri. Ada yang kadang berbuat onar pada saat momen-momen politik, seperti Pemilihan Umum Kampus (kalau di tempat saya bernama Pemira), Rapat Anggota Komisariat (RAK), Konferensi Cabang (Konfercab), atau bahkan Kongres HMI, atau  kegiatan lain yang berkaitan dengan khalayak umum. Padahal kegiatan tersebut tidak jarang dilaksanakan di tengah pemukiman warga, sehingga warga merasa terganggu.

Ada juga pengalaman penulis ketika sedang menaiki kendaraan umum. Saat itu jalan raya sedang macet parah. Namun di tengah perjalanan, terdengar kabar bahwa mahasiswa di sebuah kampus sedang demonstrasi sehingga melakukan pemblokiran jalan. Disitu hati penulis merasa sedikit kesal. Namun penulis merasa, ini sebagai bentuk kritis masyarakat yang tidak di dengar oleh para aktivis HMI saat melakukan sebuah kegiatan.

Tidak mengherankan jika Pak JK sampai menyampaikan pesan tersebut sebanyak 2 (dua) kali, atau bahkan setiap Kongres HMI akan dilaksanakan. Tapi pertanyaannya, apakah hanya HMI saja yang melakukan hal tersebut ? apakah tidak ada organisasi lain yang juga melakukan hal tersebut ?

Jiwa Akademis

Jika anda memang seorang yang pernah bersekolah, baik itu masih pada tingkat pelajar atau sudah mahasiswa, tentu anda mengetahui salah nilai yang harus dimiliki adalah rasa ingin tahu. Bagi pelajar, hal tersebut harus ditanamkan oleh guru kepada setiap yang dididiknya. Sementara bagi mahasiswa, anda memiliki tri dharma perguruan tinggi yang salah satu pointnya adalah penelitian. Dalam penelitian juga terkandung nilai rasa ingin tahu.

Maka jika anda memang memiliki rasa ingi tahu, seharusnya anda tidak langsung menjustifikasi sebuah organisasi itu baik atau buruk, benar atau tidak, sesat atau tidak. Namun seharusnya anda mencari tahu terlebih dahulu secara berimbang yang kemudia baru anda tinjau kembali pendapat anda. Caranya beragam, bisa membaca buku (dalam bentuk elektronik maupun cetak), berdiskusi, dan masih ada cara lainnya.

Dalam HMI sendiri, ada 5 point, atau yang biasa dikenal oleh para kader dengan sebutan kualitas insan cita, yang harus dimiliki oleh seorang kader. Pertama, kualitas insan akademis. Kedua, kualitas insan pencipta. Ketiga, kualitas insan pengabdi. Keempat, kualitas insan yang bernafaskan Islam. Kemudian yang kelima, kualitas insan yang bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah SWT.

Dari kelima point tersebut, insan akademis menjadi point awal yang ingin dibentuk oleh HMI kepada para anggota. Karena dengan membina kader yang memiliki nilai akademisi, maka setidaknya seorang kader HMI akan berpikir secara kritis, inklusif, berpikiran luas, serta objektif. Namun benarkah nilai akademis pada HMI sudah pudar ?

Penulis bisa katakan tidak begitu sepakat dengan pendapat tersebut. Ada beberapa alasan yang ingin penulis sampaikan bahwa sebenarnya aspek insan akademis masih belum pudar. Pertama, masih banyak anggota HMI yang melanjutkan studinya ke luar negeri, baik untuk master maupun doktoral.

Kedua, masih banyak para kader maupun alumni yang aktif menulis, meneliti, serta menulis buku. Sebagai contohnya saja, Ketua Umum PB HMI Periode 2018-2020, saudara R. Sadam Al-Jihadi, sudah menulis buku, bahkan buku tersebut sudah terpampang di Gramedia. Kemudian ada juga beberapa kader yang aktif mengisi kolom tulis-menulis, baik itu cetak, maupun elektronik. Bahkan penulis sempat bertemu dengan kader yang aktif membantu penelitian dosen.

Ketiga, berdirinya Yayasan Insancita Bangsa (YIB). Mungkin bagi sebagian kader HMI, nama YIB ini bergitu asing terdengar. Penulis pun sebenarnya baru mendengar beberapa minggu belakangan ini, ketika bertemu dengan teman yang masuk yayasan tersebut. Penulis menilai, salah satu bentuk keresahan dari para KAHMI terhadap penurunan nilai pada aspek akademis di HMI ini adalah dengan membentuk Yayasan Insancita Bangsa (YIB). Yayasan ini bergerak pada bidang bahasa, yang bertujuan mengasah kemampuan bahasa yang dimiliki oleh kader HMI agar terus meningkat dan mampu melanjutkan studinya ke luar negeri.

Sebagai organisasi mahasiswa tertua, HMI seharusnya bisa menjadi contoh bagi semua organisasi mahasiswa di Indonesia. Bukan hanya AD-ART, metode pelatihan, struktural, atau persuratannya saja, tapi juga moral para kader serta organisasi yang bisa dijadikan percontohan.

Dalam pekat malam penulis berharap. Semoga organisasi ini bisa mengembalikan citranya yang pernah dicapai dahulu. Kemudian semoga organisasi ini bisa mencapai tujuannya sehingga membantu tujuan dari negara Indonesia. Semoga

Wallahu A’lam