Secara biologis, perempuan dianggap punya masa kedaluwarsa untuk bereproduksi. Seperti barang dagangan!

Kenyataannya, ada Dewi Yull yang melahirkan di usia 40, Paramitha Rusady dan Andi Soraya di usia 41, Okky Asokawati melahirkan anak pertama di usia 45, dan Cameron Diaz melahirkan anak pertamanya di usia 47 tahun!

Berkaca ke diri sendiri, saya paham betul kenapa melajang itu berat. Bukan karena tidak bisa menghidupi diri sendiri, tapi karena tekanan sosio-kultural dari sekitar. 

Umumnya perempuan lajang memang dianggap perlu dikasihani terkait menurunnya kualitas organ reproduksi seiring usia. Tak berlaku untuk laki-laki karena ada pendapat laki-laki punya privilege organ reproduksi yang siap kapan saja.

Padahal saat perempuan mengenal menopause, laki-laki mengalami hal yang sama disebut dengan andropause. Saya tebak Anda baru pertama kali ini mendengar tentang andropause.

Term andropause dianggap mitos, hanya mengada-ngada, bahkan usaha untuk mengerdilkan laki-laki. Padahal hanya proses biologis saja. Bahkan di kalangan perempuan pun belum tentu paham. Jikapun sudah tahu juga, hal semacam ini tidak dibesar-besarkan oleh perempuan.

Beban untuk segera menikah, bahkan ketika usia baru awal 20-an, terletak di pundak perempuan dengan alasan supaya jangan sampai tak laku, susah bahkan tak bisa hamil, dan jadi perawan tua.

Stigma harus segera laku membuat perempuan melihat dirinya sendiri bagai barang kemudian melakukan segala cara supaya cepat dinikahi laki-laki. Di sisi lain, ada masalah serius yang menyertai pernikahan, yaitu perceraian.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut angka pernikahan dan perceraian di tahun 2015-2017 mengalami peningkatan dan bisa ditaksir terjadi satu perceraian dalam setiap lima pernikahan. Data perceraian tahun 2018 meningkat 9% dibanding tahun sebelumnya, mencapai 408.202 kasus dengan sebab: perselisihan dan pertengkaran terus-menerus, faktor ekonomi, suami/istri pergi, KDRT, perzinahan, kawin paksa, pindah agama, perjudian, dan mabuk.

Kampung saya, Jawa Timur, tahun 2018 tercatat rasio pernikahan dan perceraian 1:3,75. Ini artinya, terjadi satu perceraian dalam setiap tiga pernikahan!

Setelah menjadi pihak yang paling mendapat tekanan untuk segera menikah, perempuan adalah pihak yang paling dirugikan dalam perceraian. Bukan hanya masalah nafkah untuk anak, pembagian harta gono-gini pun tak jelas, apalagi jika pihak istri adalah ibu rumah tangga karena dianggap tidak membantu suami mencari nafkah. 

Dan tentu saja, penting untuk disebut, status sebagai janda cenderung membawa perempuan pada masalah baru di pergaulan.

Tidak berhenti di masalah reproduksi. Seorang teman lama bertanya lewat komentar di postingan status Facebook, "Jane masalahe apa ayu-ayu kok ora payu rabi?" (Sebenarnya masalahnya apa sih cantik-cantik kok belum laku nikah).

Frasa 'ora payu' yang artinya 'tidak laku' ini sebenarnya bisa disebut pelecehan sekaligus penghinaan. Ketika saya tanyakan maksudnya dan protes dengan kalimat yang digunakan, malah lebih galak yang komentar. Memang nggak ada akhlak~

Di pekerjaan pun demikian, pernah mendapat perkataan yang melecehkan saat menegur seseorang karena hasil pekerjaannya buruk, "Maklum perawan tua, sering ngomel gara-gara kurang seks, padahal asal mau bilang sih saya siap." Tentu saja tidak saya biarkan begitu saja. Perlu ditegur supaya tidak jadi kebiasaan.

Ada semacam kebiasaan bagi warga +62 untuk bawa-bawa status lajang seseorang di urusan apa pun. Seakan kebahagiaan itu hanya bisa diperoleh dari pernikahan karena itu menjadi lajang adalah kondisi yang perlu dikasihani. Entah apa dasar dari ilusi tak berfaedah ini.

Masyarakat memang punya fungsi melakukan kontrol sosial, tapi sudahkah setiap individu yang menjadi bagian dari masyarakat memahami apa saja yang yang bisa dikontrolnya dan yang tidak?

Setiap saat, di berbagai tempat, baik itu iklan media, percakapan dengan keluarga dan orang lain tidak sedikit yang suka mendorong untuk segera menikah yang kemudian membangun sebuah fenomena kebahagiaan delusional. Tekanan (sosio-kultural) yang seperti ini kadang berakibat buruk. 

Perkawinan seakan menjadi produk pembawa kebahagiaan bagi lajang, seperti produk skincare yang mengiklankan keunggulan, tanpa menyebut bahwa hasil pemakaian produk tersebut akan berbeda pada setiap orang.

Teknik "marketing" seperti pacaran yang halal, menikah untuk beribadah, kebahagiaan mendapat pasangan dunia-akhirat supaya tidak kesepian, dan sebagainya, tidak disertai pembahasan bahwa perkawinan perlu kematangan emosional, kecukupan finansial, atau hal yang teknis tapi bisa menjadi masalah seperti kecakapan mengurus rumah dan parenting.

Apa perempuan tidak perlu punya kegiatan dan kecemasan selain harus promosi diri supaya laku dilirik laki-laki?

Pada akhirnya menikah itu untuk menyenangkan siapa sih? Apa pentingnya disebut sudah laku karena dinikahi laki-laki?

Menikah adalah keputusan yang sangat personal, apa pun akibat dari pernikahan itu akan ditanggung oleh orang yang menjalani--bukan oleh mereka yang berkomentar, karena itu tidak sepatutnya menjadi bahan untuk memberi tekanan ke seseorang apalagi melakukan pelecehan verbal.