Kemarin, tepatnya aku telah lupa saat itu hari apa dan aku juga lupa waktu itu tanggal berapa, tapi aku masih ingat detailnya. Saat itu aku dan salah satu temanku duduk di tempat tongkrongan anak-anak kids zaman now yang ada di kotaku, Sungai Guntung. Kami duduk bersama dan berbincang-bincang banyak hal, mulai dari hal yang remeh temeh sampai pada sesuatu yang penting. Kami sama-sama saling tukar pendapat dan saling menghargai pendapat masing-masing.

Saat itu kami bertemu kali pertama setelah beberapa bulan tak jumpa karena temanku itu sedang di perantauannya menempuh pendidikan strata 1 sistem informasinya di Jogja. Aku kenal dia sejak lama saat kami sama-sama duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ia tumbuh semakin tahun semakin cerdas, ditambah dengan keluarganya yang mendukung dengan maksimal, dilengkapi pula dengan dirinya yang melek teknologi menjadikan dirinya makin hari makin canggih. Bahkan menurutku ia adalah teman paling canggih yang pernah kukenal bila berkaitan dengan hal-hal yang berbau teknologi zaman ini.

Kadang sesekali aku bertanya padanya hal yang berkaitan dengan komputer bila ada hal yang tak kuketahui. Aku suka caranya menjelaskan dan caranya memberitahu yang tak aku tahu, caranya menjelaskan mudah kupahami, dengan gayanya yang menjelaskan secara santai yang tidak terlalu serius buat aku enjoy untuk bertanya-tanya sesuka hati.

Perbincangan yang menjadi penting dan memberikanku wawasan baru malam itu adalah tat kala ia mengeluarkan tiga buah buku dari tas yang ia bawa. Buku yang ia bawa itu adalah milikku, aku menitip padanya untuk dibelikan buku yang ingin kubaca karena memang ditempatku tinggal tak ada gramedia. Sebenarnya bisa saja aku beli via online tapi pasti ongkirnya mahal.

Saat ia menyerahkan buku, saat itulah ada perbincangan yang agak penting. Saat itu ia sangat menyayangkan atas diriku yang masih suka buku fisik dan belum beralih ke buku digital. “Pindahlah ke Google Play Book Gus” katanya saat menyerahkan buku pesananku, “memakai buku fisik bukannya tak bagus,” katanya kembali memberitahu, “tapi memakai Google Play Book itu salah satu cara kita untuk menghemat penggunan kertas. Hal itu juga menjadikan kita ikut merawat hutan karena menghemat penggunaan kertas. Dengan Google Play Book kau tak akan repot-repot membawa buku lagi, tinggal kau simpan di handphone genggammu, lalu kau baca dan harganya pun murah tak semahal buku fisik. Saat ini aku sudah menggunakannya.” Katanya bersemangat.

Mendengar itu aku hanya mengangguk tanda setuju tapi juga ikut memberikan alasanku kenapa aku saat itu masih menggunakan buku fisik, “Bukannya aku tak ingin menghemat penggunaan kertas dan bukan pula aku tak mau ikut andil merawat hutan dengan mengurangi penggunaan kertas. Aku suka buku fisik karena aku sudah begitu cinta dengan buku fisik ini” kataku padanya sambil menunjukkan buku yang telah kupegang, kubuka lebel buku baru itu dan kubuka sambil kuhirup aromanya.

“San” kataku padanya setelah diam beberapa saat, “bagiku ada kebahagiaan tersendiri dan ada kenikmatan yang sulit untuk kujelaskan. Membaca buku fisik seperti ini lebih nikmat. Kadang adakalanya hanya dengan memejamkan mata, menghirup aroma, dan menyentuh halaman buku. Aku sudah merasa amat sangat bahagia. Ya, teramat bahagia. Apalagi bila buku itu buku baru. Sebab itulah sampai hari ini aku belum bisa berpindah ke Google Play Book seperti yang telah kau gunakan, karena tak kutemui kebahagiaan seperti saat aku menggunakan buku fisik”

“Oooo begitu,” katanya “tapi tetap kau harus pindah Gus, demi merawat hutan kita agar lebih terjaga. Penggunaan kertas harus dikurangi, kita harus berpindah ke hal-hal yang bisa mengurangi penggunaan kertas demi merawat hutan.”

“Aku setuju,” kataku “aku akan mencoba mengurangi penggunaan kertas, mungkin dengan cara yang lain” lanjutku

“Bukannya kau saat ini bekerja sebagai pengadministraaian umum di Puskesmas”

“Iya” jawabku singkat

“Nah, di sana bisa kau terapkan pengurangan penggunaan kertas, karena kerja kantoran itu pasti banyak menggunakan kertas. Perlu juga kau ketahui bahwa dalam 15 rim kertas HVS A4 itu perlu menebang satu batang pohon. Lakukan saja penghematan penggunaan kertas dari tempatmu bekerja, kau mulai dari dirimu sendiri, seperti menggunakan kertas HVS pada dua sisi jangan hanya satu sisi, lebih memanfaatkan penggunaan e-mail dalam pelaporan, surat menyurat dan hal lain atau memanfaatkan file softcopy ketimbang hardcopy, atau bisa juga mendaur ulang kertas HVS yang telah terpakai satu sisi tapi tak digunakan lagi untuk dimanfaatkan menjadi amplop seperti di kantor lain yang pernah ku lihat. Mungkin itu cara sederhana tapi juga merawat hutan. Ya, lakukan saja. Karena mengurangi penggunaan kertas dan merawat hutan itu di mulai dari diri kita sendiri dan setelah itu sebarkan virus itu ke sekelilingmu. Kelihatan memang sepele tapi pasti bermakna.”

“Terima kasih San, itu menjadi masukan penting buatku. Memang kadang aku boros menggunakan kertas HVS dalam pekerjaan. Mulai besok dan ke depannya aku akan bertekat untuk mengurangi penggunaan kertas guna ikut andil merawat hutan.” Kataku bersemangat

“Bagus” katanya, “itu keharusan memang. Tapi tetap saja, setiap hari kita tak akan bisa lepas dari menggunakan kertas. Seperti malam ini, kita duduk di sini. Sebelum pulang kita harus membayar minuman ini dengan uang berbahan kertas” katanya sambil terkekeh dan kami pun siap-siap pulang karena telah cukup larut malam.

Sejak malam itu, berkat temanku, aku mulai berazam pada diriku untuk dapat mengurangi penggunaan kertas dan merawat hutan. Ya, aku mulai dari diriku sendiri kemudian kutularkan virus menghemat kertas dan merawat hutan kepada orang yang ada di sekelilingku.

---------------------------------------------------------------------

Itulah ceritaku tentang kertas dan merawat hutan. Memang, sebenarnya ada banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk mengurangi penggunaan kertas demi merawat hutan. Lakukan saja dari diri sendiri dengan versi kita sendiri karena sekecil apapun andil kita pasti bernilai besar bila dilakukan berkelanjutan dan pasti akan bernilai lebih jika kita dapat menularkannya ke orang lain.

Dalam keseharian memang kita tak akan bisa terlepas dari menggunakan kertas, karena hampir dalam semua kegiatan dan aktivitas, kita selalu menggunakan dan memerlukan kertas, seperti uang, media baca tulis, alat pembungkus, tisu, koran dan lebih banyak lagi. Dan tanpa kita sadari ternyata pemborosan kertas itu sangatlah tidak baik karena ternyata dengan pemborosan menggunakan kertas berarti kita turut membantu laju penguranga hutan (deforestasi). Namun, tentu kita pasti dapat mengurangi penggunaan kertas dalam keseharian bila kita mau dan bila kita memang bertekat untuk dapat mengurangi penggunaan kertas demi sama-sama merawat hutan.

Saat ini hingga nanti. Yuk, kita kurangi penggunaan kertas demi merawat hutan. Kita lakukan dari diri sendiri dan kita mulai dari hari ini sampai nanti.