Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, tentu saja masyarakat di Indonesia berbondong-bondong untuk saling membela dan menyatukan bangsa atas nama agama. Namun nyatanya pembelaan tersebut tak jarang berbuah kedamaian, melainkan sebaliknya. Banyak sekali muncul cuitan dengan mengatasnamakan Islam, namun semata-mata untuk merendahkan yang lain. Membela dengan alasan yang tidak benar, bukan?

Bukannya Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika? Apa sih arti dari Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri? Kita semua adalah berbeda, beda suku, beda ras, beda golongan, serta beda agama, namun disatukan dalam satu negara Indonesia.

Kurangnya Pemahaman

Akhir-akhir ini, banyak sekali berita nyeleneh yang menarik perhatian kita. Banyak orang yang menghina sesuatu hanya dari ampasnya. Membahas topik permasalahan mentah-mentah dan tidak diolah terlebih dahulu sebelum berkomentar. Setelah itu, menilainya dengan kritikan yang amat pedas bak Tuhan yang Maha Benar. 

Pepatah mengatakan bahwa “Mulutmu adalah harimaumu”, namun kini sudah tak berarti lagi karena orang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain dengan cara tidak berbicara langsung melainkan hanya dengan apa yang kita tulis di laman komentar.

Belajar dari berita yang sedang tenar beberapa waktu lalu, bahwa ada seorang atlet bela diri Judo, Miftahul Jannah, dikenakan diskualifikasi pada ajang pertandingan olahraga bergengsi “Asian Para Games 2018” yang dilaksanakan di Jakarta. Kemalangan ini terjadi padanya dikarenakan ia mengenakan hijab pada saat lomba dilaksanakan. Yang lebih krusialnya, ia didiskualifikasi pada detik-detik dimulainya pertandingan. 

Menelaah dari dua kalimat sebelumnya sangat memancing emosi, bukan, bagi para pembaca? Mengapa memakai hijab dilarang? Mengapa Judo dilarang berhijab sedangkan cabang beladiri lain seperti Karate masih diperbolehkan? Mengapa olahraga renang dan panahan diperbolehkan berhijab sedangkan Judo tidak? Waaaah ini pelanggaran HAM namanya. Waaaah merendahkan Agama Islam ini namanya!

Yap! Kurang lebih begitulah komentar-komentar orang. Tetapi apakah kita memahami betul bahwa segala larangan yang dikenakan oleh International Regulation itu ada maksudnya

Tak hanya itu, sekarang ini banyak muncul kasus-kasus baru yang sangat sensitif bagi masyarakat Indonesia, terlebih lagi soal agama. Banyak pertengkaran yang terjadi dikarenakan oleh salah satu pihak yang membakar bendera HTI. Ada juga kasus komika Indonesia yang diancam bahkan langsung berhubungan dengan hukum karena dianggap menista agama melalui candaan/lawakan.

Banyak orang yang berkomentar dan langsung menghina karena mereka percaya bahwa hal tersebut adalah hal yang tidak benar tanpa mencaritahu terlebih dahulu kasusnya. Mereka asal main judge begitu saja padahal tanpa mereka sadari mereka (para netizen) sendiri telah melakukan hal yang tidak terpuji dengan mengatasnamakan “membela kebenaran/membela agama itu sendiri”.

Yang lebih membuat emosi terpancing adalah semua judul berita tersebut dibuat dengan judul yang mengompor-kompori pembaca seperti Waaah dia hebat karena dia membela agamanya, Waaah dia hebat karena dia memiliki pendirian yang teguh, Tolak buka hijab, Atlet Judo didiskualifikasi, Pujian kepada Miftah yang tolak lepas jilbab, Penjarakan orang-orang yang menista agama” dan banyak lagi judul lainnya yang sebenarnya masih memiliki ambiguitas.

Banyak orang tidak mengerti karena mereka bukan atlet, bukan pecinta olahraga, ataupun mereka yang tidak paham tentang dunia per-atlet-an. Mereka juga bukanlah orang yang paling mengerti agama, dan mereka bukanlah pengamat media yang baik.

Alangkah baiknya jika sebelum berkomentar kita mengetahui terlebih dahulu asal-usul beritanya dan mengetahui alasan dari segala kontroversial yang beredar. Yang paling penting adalah jangan menilai suatu berita dari satu pihak saja, cobalah untuk bersikap objektif.

Pengetahuan, Objektivitas, dan Berpikiran luas

Hal seperti yang telah dijelaskan di ataslah yang dibutuhkan dalam suatu penyampaian berita, tidak lain dan tidak bukan untuk mengurangi kesalahpahaman. Kejadian seperti ini sangat mudah sekali dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung-jawab demi meraup keuntungan. Apalagi sekarang ini Indonesia sedang panas-panasnya akan hal ini, sehingga dikaitkan dengan berbagai hal seperti politik, pemerintahan, dan lain-lain.

Contoh dari kasus Atlet Judo, pembakaran bendera, dan masalah komika tersebut merupakan sebagian dari sekian banyak kasus yang disalahgunakan atau memiliki kesalahpahaman di mata masyarakat Indoneisa sendiri. Lalu apa yang bisa kita lakukan sebagai pembaca sekaligus netizen yang pintar?

Untuk para penyiar berita, cobalah membuat suatu konsumsi publik yang jelas dan tidak setengah-setengah, dimana informasi tersebut diberikan kepada pembaca lalu disertai penjelasan agar si pembaca bisa menerima. Dalam membuat berita sedemikian rupa, cobalah untuk menjadi objektif dan apa adanya.

Untuk semua “smart people” yang ada di Indonesia, janganlah melihat berita dari satu titik apalagi karena sebuah judul yang bikin panas dan emosi. Cobalah menelaah lebih jauh lagi dan jangan gampang percaya dengan berita yang beredar yang belum tahu benar-tidaknya. Alangkah indahnya Indonesia jika memiliki pembuat dan pembaca berita yang sama pintarnya. Perlu ditekankan lagi, cobalah untuk mengupas tuntas sebelum di-judge.