Saya sesaat seolah terjebak dalam suasana kehidupan di abad 18. Kaki saya menginjak trotoar bebatuan di sebuah kota tua yang sudah ada sejak ratusan tahun silam. 

Deretan bangunan dan menara kuno dengan arsitektur bergaya neo klasik dan victorian khas Eropa tampak sangat megah di hadapan saya. Hampir semua bangunan mempunyai patung-patung berukuran sangat besar, seakan-akan mereka bernyawa. Beberapa di antaranya dilengkapi dengan simbol salib.

Dari kejauhan, tampak jajaran bukit yang tertutup kabut tipis dengan berberapa menara, monumen, dan kastil yang memancarkan kejayaan peradaban kerajaan di masa lampau.

Cuaca saat itu kurang bersahabat, awan kelabu disertai rintik hujan, dengan suhu sekitar 6 derajat celcius. Jujur, perasaan saya campur aduk, excited dan agak serem. Apalagi untuk menuju apartemen tempat menginap, harus melewati sebuah lorong di bawah bangunan tua tolbothe Wynd (bekas kantor bea cukai dan sel penjara, yang tentu saja berumur ratusan tahun), ditambah dengan suara-suara burung gagak hitam berkoak-koak. Sebuah situasi yang mengingatkan saya pada scene di film-film bergenre horor.

Edinburgh adalah kota ketiga yang saya kunjungi bersama beberapa kawan setelah Manchester dan Liverpool. Butuh waktu sekitar 5 jam perjalanan naik kereta dari Stasiun Manchester Piccadilly menuju Stasiun Edinburgh Weaverly. Inilah kota kuno sarat sejarah dan segala daya tariknya, yang dulu hanya bisa saya kunjungi melalui novel dan film Harry Potter, Robin Hood, ataupun Brave Heart.

Sore itu kami naik bukit Calton Hill yang tidak jauh dari apartemen, menyusuri jalan setapak yang traveller friendly, walaupun cukup membuat ngos-ngosan. Namun meski kelelahan kami tergantikan dengan keindahan panorama kota tua, kami dapat melihat posisi letak apartemen tempat menginap, yang ternyata bersebelahan dengan areal pemakaman kuno khas Eropa, lengkap dengan patung-patungnya. Hanya terpisah tembok bebatuan tinggi dan jalan yang tidak terlalu lebar.

Baca Juga: Winter is Coming

Salah satu kebiasaan kami saat travelling adalah ngobrol tentang kejadian-kejadian yang kami alami selama seharian, sambil melepas penat sebelum istirahat di malam hari. 

Namun suasana malam itu agak berbeda dari biasanya. Bukan saja karena kami sedang berada di kota tua khas Eropa yang konon terkenal dengan cerita-cerita hantunya, namun ternyata view living room apartemen itu adalah areal pemakaman tua, yang terletak di halaman belakang bangunan sebuah gereja, Canon Kirk (Curch).

Sejujurnya, kami merasa agak ngeri, takut, namun penasaran. Kira-kira seperti apakah suasana kuburan itu di malam hari, apalagi malam itu cuaca terasa dingin, hujan gerimis, dengan lampu-lampu temaram yang menerangi area kuburan.

Apakah akan ada penampakan sosok tingi besar berjubah hitam dengan penutup kepala seperti yang digambarkan di novel atau di film-film horor? Ataukah malam ini akan terdengar suara-suara aneh yang membuat bulu kuduk berdiri? Entahlah.

Kami berenam akhirnya memberanikan diri mengintip suasana kuburan dari balik jendela selama beberapa menit. Tidak terlihat penampakan apa pun, sunyi. Suara rintik hujan pun terdengar samar. Hanya terlihat satu-dua orang melawati jalan di samping apartemen, pertanda bahwa kami tidak sendirian tinggal di lingkungan apartemen yang hanya berlantai dua ini. Karena selama seharian kami belum pernah sekalipun berpapasan dengan penghuni lainnya. Dan dari atas bukit, masih terlihat beberapa mobil lalu lalang.

Dari beberapa artikel yang pernah saya baca, hal-hal yang berbau supranatural masih sangat kental di Inggris dan sekitarnya. Mungkin saja karena di sana masih banyak kastil tua dan bangunan-bangunan kuno bersejarah, dengan berbagai cerita di dalamnya termasuk misteri dan mistis. Bahkan di Edinburgh terdapat sebuah kastil tua yang dibangun di atas tebing batu, pada 900 tahun yang lalu. 

Karena terkenal dengan penampakan hantunya, Kastil Edinburgh pun mempunyai wisata hantu.

Terlintas dalam dalam ingatan saya, pemandangan beberapa orang yang kebetulan berpakaian serbahitam, berkunjung di area pemakaman di Canongate Kirkyard menjelang petang. Bisa jadi mereka adalah wisatawan yang mengikuti paket wisata hantu (Ghost Tour), yang terkenal di Edinburgh. Ada juga paket wisata “Ghost Bus Tour”, bis wisata berwarna hitam yang didesign khusus agar sensai angker dapat dirasakan sejak wisatawan masuk di dalam bis.

Sesuai dengan namanya, bis wisata ini menawarkan pengalaman tour ‘seram’ di malam hari kepada wisatawan dengan destinasi tempat-tempat bersejarah yang terkenal mempunyai cerita tragis dan mistis, dilengkapi dengan tour guide yang siap ‘menghibur’ wisatawan tidak hanya cerita horor namun juga paparan sejarah. 

Agar pengunjung dapat merasakan nuansa ngeri kota Edinburgh di malam hari. Bis Wisata yang mirip dengan mobil jenazah berwarna hitam ini mudah ditemui di sepanjang jalan utama Edinburgh.

Terlepas dari benar atau tidak, percaya atau tidak akan hal-hal yang berbau mitos dan supranatural, di peradaban modern dan serba digital saat ini, cerita seputar makhluk tak kasat mata masih menjadi bahasan yang menarik untuk diperbincangkan. Atau hanya sekadar menjadi obrolan ringan.

Ternyata kisah-kisah per-hantu-an tidak hanya tersebar di dunia timur saja. Bahkan di kalangan orang-orang Barat pun masih banyak yang memercayai keberadaannya. Padahal selama ini, kita mengenal mereka sebagai orang-orang yang sangat mengedepankan segala sesuatu dengan logika.

Kenyataannya, tidak sedikit negara-negara Barat yang malah menawarkan destinasi wisata berhantu sebagai daya tarik, seperti Ghost Tour of New York dan The Original London Ghost Walk. Atau mungkin hal-hal yang bersifat tak kasat mata selalu memacu adrenalin dan membuat rasa penasaran, seperti sebuah misteri yang tidak pernah terpecahkan.