Sentralitas ASEAN sedang diuji dalam Pertemuan Ke-53 Menteri Luar Negeri Negara-negara ASEAN (9/9/2020). Pertemuan virtual itu mengangkat isu strategis, yaitu soliditas ASEAN. Isu ini sangat terkait dengan sentralitas ASEAN sebagai subyek di kawasan Asia Tenggara. Soliditas ASEAN ditujukan untuk mendorong kembali semangat kerjasama organisasi regional ini di tengah persoalan pandemi Covid-19 dan konflik di Laut China Selatan (LCS).

Menurut saya, urgensi mengenai soliditas ASEAN sangat penting mengingat organisasi regional itu baru saja memperingati 53 tahun pembentukannya pada pada 8 Agustus lalu. ASEAN dihadapkan pada kenyataan pahit. Negara-negara anggota ASEAN dipaksa atau terpaksa tidak bisa bersatu menghadapi pandemi Covid-19 dan konflik klaim di LCS.

Pertama, sejak awal virus Corona menyebar di kawasan Asia Tenggara pada Februari 2020, semua anggota ASEAN lebih berorientasi nasionalistik dan unilateral demi melindungi kesehatan warganegaranya sendiri. Pintu-pintu internasional ditutup untuk menghambat perpindahan manusia melintas batas negara-negara ASEAN sejak Maret 2020. 

Kecenderungan nasionalistik itu masih berlangsung hingga sekarang. Ke-10 negara anggota ASEAN itu masih menutup pintu internasional masing-masing bagi warganegara ASEAN. Alasannya adalah kekhawatiran terhadap kasus impor pandemi Covid-19.

Selain itu, negara-negara anggota ASEAN juga berbeda dalam kerjasama penyediaan vaksin Covid-19 bagi warganegaranya. Indonesia, Filipina, Kamboja lebih bekerjasama dengan China. Sedangkan Singapura bekerjasama dengan Amerika Serikat (AS). Kecenderungan itu juga mencerminkan kepentingan geopolitik masing-masing negara anggota ASEAN terhadap rivalitas antara AS dan China di kawasan Asia Tenggara.

Kedua, negara-negara anggota ASEAN juga tidak bisa bersatu menghadapi konflik klaim di perairan LCS. Konflik antara China dan 4 negara anggota ASEAN (Vietnam, Filipina, Brunei Darusallam, dan Malaysia) telah mempersulit posisi ASEAN. Mereka tidak bisa menyatukan posisi mereka berempat untuk bersama-sama menantang China. 

Perbedaan kebijakan itu bahkan melebar pada perbedaan dukungan mereka terhadap manuver Amerika Serikat (AS) di perairan LCS. Dibandingkan ketiga negara lain yang cenderung di pihak Amerika Serikat (AS), Filipina lebih memihak China.

Kedua persoalan itu menjadi tantangan terbesar bagi sentralitas ASEAN pada saat ini. Apakah ASEAN diam saja tanpa tanggapan terhadap kedua masalah itu? Tentu saja tidak. Sentralitas ASEAN telah mendorong organisasi regional ini mengambil sikap tidak memihak terhadap AS dan China. 

Kedua negara besar itu tetap memiliki arti strategis, namun ASEAN menolak keras untuk terjebak dalam rivalitas kedua negara itu. Oleh karena itu, pertemuan virtual itu menjadi ujian untuk mendorong lembaga regional ini selalu 'hadir' dalam dinamika persoalan di Asia Tenggara.

Optimisme regional

Dalam pandangan saya, di tengah situasi pandemi Covid-19 pada saat ini, ASEAN tidak bisa secara maksimal mengambil tindakan-tindakan konkrit di tingkat regional, selain memaksimalkan upaya-upaya bersama untuk membuat norma-norma regional. 

ASEAN tampaknya sangat menyadari keterbatasan gerakan lembaganya Dalam keterbatasan itu, berbagai protokol atau aturan main regional telah diusulkan pada Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) khusus tentang penanganan Covid-19 di Februari dan KTT ke-36 ASEAN di Juni lalu.

Ketika berbagai inisiatif regional untuk merespon pandemi Covid-19 telah dilakukan, ASEAN mulai memikirkan kembali tantangan internalnya, yaitu kesatuan ASEAN melalui identitasnya sebagai sebuah komunitas regional. Isu identitas ASEAN ini sangat menarik karena realitas negara-negara ASEAN yang berbeda ini yang selama ini malah berkontribusi penting dalan menyatukan ASEAN.

Dalam soal identitas ini, ASEAN seringkali dibandingkan dengan Uni Eropa (UE). Kenyataannya memang ASEAN berbeda dari UE dalam membangun organisasi regionalnya. UE memerlukan syarat kesamaan struktur ekonomi, politik, dan sosial-budaya di antara negara-negara anggotanya. Sedangkan ASEAN, perbedaan struktur sosial-budaya, ekonomi, dan politik malahan telah membangun semangat kebersatuannya.

Dalam pandangan saya, karakteristik ini menyebabkan peran ASEAN lebih terbatas dibandingkan UE. Terbatas dalam pengertian ASEAN terpaksa tidak bisa menyatukan sikap negara-negara anggota ASEAN. Prinsip non-intervensi telah membatasi ASEAN untuk mencampuri isu-isu nasional dari negara-negara anggotanya. 

Yang bisa dilakukan ASEAN adalah tidak mengambil sikap memihak terhadap kekuatan besar (AS dan China), namun lebih fokus kepada upaya-upaya proaktif ikut merespon persoalan-persoalan regional, seperti pandemi Covid-19 dan konflik di LCS.

Soliditas di antara ke-10 negara-negara anggota ASEAN tentu saja menjadi harapan bersama bagi organisasi regional ini. Kebersatuan ASEAN diyakini menjadi modalitas strategis dalam mendorong sentralitasnya di kawasan ini dalam berinteraksi dengan mitra-mitranya (seperti AS, China, Rusia, India, Jepang) dalam memperoleh dukungan terhadap inisiatif regional, seperti Indo-Pasifik.

Optimisme regional ASEAN yang bersatu atau solid akan selalu menghadapi tantangan, yaitu perbedaan sikap negara-negara anggotanya yang didorong kepentingan nasional. Kecenderungan nasionalistik ini tidak akan bisa dihindarkan. 

Namun demikian, perbedaan sikap nasionalistik negara-negara anggota seharusnya tidak menghalangi soliditas ASEAN dalam mengambil satu sikap bersama sebagai bagian dari posisi sentralnya di kawasan Asia Tenggara ini.