Hari Kartini 21 April 2021 lalu, bagi saya menjadi moment yang sangat berkesan. Ketika saya ditugaskan sebagai moderator di sebuah acara webinar spesial memperingati Hari Kartini, bertajuk "Talenta Perempuan untuk Kemajuan Riset Indonesia". Saya bertemu dengan tiga perempuan hebat sebagai narasumber di acara tersebut. Ketiga orang perempuan ini mewakili 728 orang peneliti perempuan di instansi saya, yang berkarir dan berkarya di bidang riset. Mereka berjuang melakukan kegiatan riset di berbagai bidang keilmuan, yang hasilnya diharapkan dapat berdayaguna bagi masyarakat.

Di instansi saya, peneliti dikelompokkan dalam lima besar bidang keilmuan yaitu ilmu pengetahuan hayati, kebumian, teknik, sosial dan kemanusiaan, serta jasa ilmiah, dengan jumlah total peneliti sebanyak 1548 orang. Lima bidang keilmuan tersebut masih dibagi-bagi lagi dalam beragam bidang kepakaran, dan sangat memungkinkan bagi mereka untuk berkolaborasi satu sama lain. Melakukan riset multidisiplin ilmu yang diharapkan hasilnya akan dapat memberikan manfaat penelitian yang lebih luas bagi bangsa dan negara, bahkan berdampak global.

Selama 20 tahun bekerja di sebuah lembaga penelitian tertua di negeri ini, saya sudah mengenal banyak peneliti perempuan dari berbagai bidang keilmuan.  Tapi tetap saja sebagai sesama perempuan, saya tak pernah berhenti untuk "kagum", ketika berbincang dan mendengar kiprah mereka di dunia riset. Ketiga narasumber yang saya temui di Hari Kartini ini contohnya. Mereka bercerita bagaimana pengalamannya menekuni dunia riset selama bertahun-tahun dan tantangan yang dihadapi. Mereka sangat menginspirasi dengan pengabdian dan prestasi-prestasinya yang luar biasa. Mereka berharap kaum perempuan Indonesia lebih peka dan peduli dengan masalah lingkungan. Mampu berpikir kritis, meningkatkan potensi diri dan melakukan aksi nyata untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di sekelilingnya.

Saya sangat setuju bahwa menjadi peneliti itu perlu talenta. Dan untuk mengasah talenta menjadi keahlian di bidang tertentu, perempuan perlu tekun, aktif, gigih, tidak mudah menyerah dan terus belajar. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, kemauan belajar menjadi keharusan. Apalagi sebagai seorang peneliti, mereka dituntut berpendidikan S3. Dimana untuk mencapainya pasti memerlukan effort yang luar biasa. Pendidikan S3 ini diperlukan untuk memenuhi persyaratan jenjang Peneliti Utama dan gelar kehormatan Profesor Riset, serta berkompetisi di posisi-posisi penting organisasi maupun kepemimpinan di bidang Iptek.  Selain itu, mereka juga mempunyai kewajiban untuk memenuhi hasil kinerja minimal dan standar kompetensi di setiap jenjang jabatan fungsionalnya. Mereka harus aktif melakukan kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (litbangjirap), kerja sama penelitian, diseminasi dan publikasi hasil-hasil penelitian, baik di level nasional maupun internasional.

Sebagai seorang peneliti, mereka telah melalui proses pencarian jati diri dalam karirnya di bidang riset.  Diawali dengan mengenal dunia penelitian, kemudian menemukan  bidang kepakaran yang diminatinya. Hingga kemudian menemukan passion dan rasa "cinta". Rasa cinta ini melahirkan totalitas untuk berkarya dan tanggung jawab di bidang yang ditekuninya. Dan bicara tentang cinta, berarti sesuatu yang tulus, sesuatu yang benar-benar datang dari hati, sesuatu yang benar-benar mereka yakini, dan tentunya tak lepas dari pengorbanan. Pengorbanan memungkinkan para peneliti perempuan ini menjawab berbagai tantangan yang cukup berat di dunia riset sebagai seorang perempuan.

Salah satu narasumber, seorang Profesor Riset dengan bidang kepakaran Taksonomi biota laut yang cukup langka. Dalam kegiatan penelitiannya seringkali harus melakukan ekspedisi dengan kapal riset selama berhari-hari. Doktor lulusan Universite de Paris VI Perancis tahun 1992 ini telah mengikuti beberapa ekspedisi internasional biodiversitas biota laut, di Indonesia, Singapura, Filipina, dan Jepang. Mengarungi lautan yang terkadang tidak bersahabat dan tentunya dengan resiko keselamatan yang cukup besar. Di lingkungan penelitiannya, hanya terdapat lima orang peneliti perempuan. Penelitian bidang kelautan hingga saat ini memang masih didominasi kaum pria, karena besarnya resiko dan tantangan yang dihadapi.

Narasumber berikutnya menceritakan kisahnya sebagai peneliti, dengan bidang kepakaran gender dan politik. Doktor lulusan Kyoto University ini menceritakan ketertarikannya di bidang ini disebabkan adanya  kecenderungan pengabaian pengalaman perempuan dalam bidang politik. Keterbatasan pengetahuan dan referensi dalam studi politik di Asia Tenggara khususnya Indonesia yang masih maskulin (didominasi kaum pria), menjadi peluang yang cukup besar untuk melakukan pendekatan baru di bidang ilmu politik dari sisi gender. Riset yang dilakukannya pada tahun 2012-2021 terkait kiprah perempuan kepala daerah di pilkada Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat dan Banten. Riset ini sangat penting dilakukan, yang bertujuan untuk menjadikan pengalaman perempuan Indonesia di bidang politik, sebagai sumber pengetahuan dunia.

Narasumber terakhir menceritakan pengalamannya dalam menguak potensi sumber daya hayati Indonesia, sebagai sumber antibiotik dan antivirus. Menyelesaikan pendidikan S3 di Institut Teknologi Bandung tahun 2012, di bidang Farmakologi. Doktor dengan bidang kepakaran Biokimia ini juga menjalankan tugas sebagai peneliti utama dalam tim penelitian deteksi RNA Virus SARS-CoV-2 (COVID-19).  Fakta bahwa kita hidup berdampingan dengan makhluk mikro (parasit, jamur, bakteri, virus), dimana sebagian merupakan pathogen bagi manusia dan dapat menyebabkan kematian. Dan saat ini belum semua penyakit karena infeksi makhluk mikro tersedia vaksin dan obatnya. Sehingga munculnya mikroorganisme yang resisten terhadap antibiotik, akan dapat menimbulkan ancaman serius.  Fakta ini menyebabkan riset untuk mengatasi masalah penyakit infeksi akibat mikroorganisme pathogen seperti yang dilakukan bersama timnya, menjadi sangat penting dan relevan.

Kiprah yang luar biasa di bidang riset ternyata tidak menjadikan mereka melupakan kodratnya sebagai perempuan, sebagai istri dan sebagai ibu. Terkait dengan tanggung jawab terhadap keluarga, mereka menyadari perlunya “keseimbangan”. Bagaimana mereka membagi waktu antara keluarga dan tugas-tugas penelitiannya. Mereka juga telah mempunyai komitmen yang kuat dengan pasangannya masing-masing. Komitmen untuk berbagi peran dan perhatian terhadap anak-anak menjadi sangat penting, ketika salah satu dari pasangan harus menjalankan tugas dan meninggalkan keluarga. Beruntung mereka memiliki pasangan yang sangat memahami dan mendukung tuntutan tugasnya sebagai peneliti.  Dukungan keluarga menjadi kunci utama kesuksesan mereka di dunia riset.

Pada dasarnya peneliti perempuan dengan segala keterbatasannya, seringkali dianggap tidak mampu untuk melakukan pekerjaan yang penuh tantangan di dunia riset. Peneliti perempuan membutuhkan kesempatan dan dukungan dalam perjuangannya, agar terus dapat berkontribusi dan berkarya nyata dalam kesetaraan. Dalam closing statement-nya ketiga perempuan hebat ini sepakat, bahwa menempuh bahaya, panas, hujan, kotor, lelah yang mereka rasakan saat melakukan kegiatan penelitian, akan terbayar tuntas ketika mereka mendapatkan temuan yang diharapkan. Itulah CINTA. Rasa cinta pada dunia riset yang digelutinya, rasa cinta pada keluarga, dan rasa cinta pada bangsa dan negara. Dan mereka akan terus berjuang dengan cinta yang mereka yakini di bidang riset, mengejar impian dalam keayuan dan keanggunannya sebagai perempuan, memberikan sumbangsih terbaik bagi masyarakat, bangsa dan negara. (IkS)