Bulan lalu, sahabat saya menelpon dan sampaikan bahwa ia membatalkan urusan adat perkawinan anaknya. “Mengapa?” tanya saya. “Mereka masih bersaudara” jawabnya. “Kok bisa? Setahu saya, kalian dari parona Ratenggaro sedangkan nona itu dari Halle Kadangar” heran saya. “Benar berbeda parona. Tapi nona itu walla Mbiri, sama dengan walla anak saya” jawabnya.

Parona didasarkan pada garis turunan atau marga ayah. Kata parona berarti kampung. Hadir secara fisik dalam bentuk kampung adat.  Sedangkan Walla didasarkan pada garis turunan atau marga ibu.  Kata walla berarti bunga. Ibu dilambangkan dengan bunga. Kehadiran walla tidak memiliki bentuk fisik, tetapi berupa silsilah ikatan kekerabatan. Parona dan walla disandang bersamaan oleh orang kodi.

Secara administratif, orang Kodi terpusat di empat kecamatan Kabupaten Sumba Barat Daya, yakni Kodi, Kodi Bangedo, Kodi Utara dan Kodi Balaghar. Setelah populasi berkembang, mengejar pendidikan, lapangan pekerjaan serta kawin-mawin, banyak orang kodi yang menyebar di luar empat kecamatan tersebut, bahkan di luar kabupaten hingga luar pulau Sumba.

Alur Menurunkan Parona dan Walla 

Ayah dan ibu saya orang Kodi dan tinggal di Kabupaten Sumba Timur.  Ayah berasal dari parona Kaha dan walla Lere, sedangkan ibu saya berasal dari parona Ratenggaro dan Walla Mbilla. Ketika menikah, ibu mengikuti marga ayah, yakni  parona Kaha namun tetap menyandang label walla Mbilla.

Kami bersaudara kandung, terdiri dari sembilan laki-laki dan seorang perempuan. Kami semua, baik laki-laki dan perempuan, menyandang label parona (marga ayah) maupun walla (marga ibu) secara bersamaan.

Kami laki-laki meneruskan label parona (marga ayah) ke anak-anak kami dan hanya anak laki-laki yang berhak menurunkan label parona ke turunan berikutnya.  Label walla (marga ibu) yang disandang anak laki-laki tidak dapat diturunkan ke turunan berikutnya.

Sedangkan saudara perempuan, setelah menikah, berpindah marga mengikuti marga suaminya. Marga anak-anaknya juga mengikuti marga suaminya. Namun, saudara perempuan tetap menyandang label walla (marga ibu) dan diturunkan ke anak-anaknya. Hanya perempuan yang berhak menurunkan label walla ke turunan berikutnya.

Dengan demikian semua anak mendapatkan marga ayah (parona) dan marga ibu (walla). Hanya anak-anak laki-laki yang menurunkan marga ayah (parona) ke turunan berikutnya dan hanya anak peremuan yang menurunkan marga ibu (walla) ke turunan berikutnya.

Orang Kodi yang istrinya bukan orang Kodi (tanpa walla) maka anak-anaknya juga tidak punya walla. Sebaliknya orang Kodi yang suaminya bukan orang Kodi, sekalipun sudah mengikuti marga suami, namun tetap menyandang label walla ibunya dan anak-anaknya tetap menyandang walla tersebut. Karena itu, tidak heran bila ada orang Kodi bertemu dengan orang yang memiliki walla sama namun ia berasal dari kabupaten lain atau pulau lain seperti Sabu, Timor, Flores, Jawa, bahkan luar negeri.

Parona dan Walla dalam Sistem Perkawinan

Ketika SMA saya berlibur ke kampung. Nenek berpesan “Kalo kenal nona Kodi, ingat tanya dia walla apa. Kalau walla Mbilla, kalian tidak boleh ada ‘hubungan’ karena bisa jadi dia itu pangkat saudara perempuan”.

Keluarga pihak ayah (parona) bertanggung jawab dalam urusan perkawinan. Orang  Kodi wajib mencari  jodoh dari luar parona (marga ayah).  Ini berarti menganut sistem eksogami pihak ayah. Orang Kodi juga dilarang kawin dengan pemilik walla (marga ibu) yang sama. Ini berarti menganut sistem eksogami pihak ibu. Karena itu, sistem perkawinan orang Kodi berlaku sistem eksogami ganda, yakni eksogami pihak ayah dan pihak ibu.

 Parona dan Walla dalam Kehidupan Orang Kodi

Parona memiliki pengaruh yang besar dan luas. Mulai dari kawin-mawin, hak waris, penguasaan tanah, upacara adat dan penghargaan. Parona memiliki  perikatan dalam bentuk kampung dan rumah adat. Makna persaudaraan dalam parona disebut “dung  kambhu” yang secara harafiah berarti “berdua dalam satu perut” dan secara luas dapat diartikan sebagai pertalian darah.

Sedangkan walla (marga ibu) pengaruhnya hanya sebatas kawin-mawin dan penghormatan. Pengaturan dalam kawin-mawin berupa larangan kawin dengan pemilik walla  yang sama.  Makna persaudaraan dalam walla disebut “dughu”  yang berasal dari kata “dughu dico” dan secara harafiah berarti “terhubung rapat” yang dapat secara luas dapat diartikan sebagai pertalian perkawinan. 

Selain kawin-mawin, walla juga berkenaan dengan rasa hormat.  Laki-laki bertemu perempuan yang sama walla maka perempuan tersebut bisa berstatus sebagai nenek, mama, saudara perempuan atau keponakan perempuan bahkan cucu perempuan. Bila perempuan bertemu laki-laki yang sama walla  maka yang laki-laki tersebut bisa bersatus sebagai om, saudara laki-laki atau ponakan laki-laki. Disini, rasa hormat diberikan terhadap mereka yang memiliki kedudukan lebih tinggi.

Sistem Kekerabatan  Ganda 

Sebagaimana diketahui secara luas, sistem kekerabatan terbagi tiga jenis, yakni: patrilineal, matrilineal dan parental (ganda). Apakah kekerabatan orang Kodi menganut sistem patrilinial? Ya, karena dalam proses perkawinan ada yang disebut turun marga, dimana seorang istri berpindah marga mengikuti marga suaminya dan anak-anak hasil perkawinan mereka juga mengikuti marga suami. 

Anak-anak menyandang label marga ayah (parona) dan hanya anak laki-laki yang meneruskan garis keturunan marga ayah dan berhak atas aset dan warisan keluarga ayah. Hak istri terhadap harta dan warisan mengikuti hak waris suaminya. Bahkan seorang janda apabila menikah lagi maka yang berhak mengatur urusan perkawinannya adalah keluarga mendiang suami.

Apakah sistem matrilinial? Ya, namun terbatas. Istri tetap menyandang label marga ibunya (walla) sekalipun telah berpindah marga mengikuti marga suami. Bahkan anak-anaknya tetap menyandang label walla dari ibu mereka. Selain itu, ada ketentuan yang melarang seseorang menikah dengan pemilik walla (marga ibu) yang sama karena mereka bersaudara.

Namun demikian, istri (termasuk anak-anak) kehilangan akses terhadap harta dan warisan dari orang tuanya serta tidak memiliki kedudukan dalam upacara adat dalam marga (parona) orang tuanya.

Lantas, apakah sistem parental (ganda)? Ya dan tidak. Dikatakan ya, karena secara formal anak-anak menyandang marga ayah (parona) maupun marga ibu (walla) secara bersamaan. Selain itu, keduanya berperan dalam pengaturan perkawinan (eksogami ganda). Dikatakan tidak, karena secara fungsional,  kewajiban dalam memberi nafkah serta askes harta dan warisan terhadap anak-anak (termasuk istri) hanya terhubung pada garis keturunan ayah dan tidak terhubung dengan garis keturunan ibu.

Sekalipun patrilinial dan matrilinial berlaku bersamaan, namun patrilinial memiliki pengaruh lebih besar dan lebih luas dibanding matrilinial sehingga posisi kedua sistem kekerabatan ini menjadi tidak simetris. Karena itu, sistem kekerabatan orang Kodi dapat disebutkan sebagai parental asimetris. Asimestris yang condong (menonjol) pada patrilinial. Ini adalah varian baru dalam sistem kekerabatan parental. Untuk suku Sumba (empat kabupaten) hanya orang kodi yang memiliki sistem kekerabatan parental asimetris ini, bahkan mungkin satu-satunya di Indonesia. Ya, itulah uniknya sistem kekerabatan orang Kodi.