Akhir-akhir ini entah kenapa saya jadi lebih sering mengecek beranda/home di Facebook. Bukan karena lagi stalking seseorang, tapi saya lagi stalking semua manusia Indonesia.

Sering bergidik ngeri saya membaca status, komen atau meme-meme yang di-posting para warga Facebook. Sudah seperti sedang perang saja ini negeri.

Nah, ceritanya pas lagi ngeri-ngeri nyelekit baca-baca status di facebook, mendadak saya ingat pelajaran sejarah zaman dulu kala waktu saya masih berseragam. Entah itu waktu seragamnya masih merah putih atau biru putih. Entahlah, saya tak ingat pasti. Pelajaran sejarah ini tentang “Divide et Impera”. Teknik yang digunakan Belanda untuk bisa menjajah Indonesia.

Kalau ditanya ke Google ini artinya : Divide et Impera merupakan politik pecah belah atau disebut juga dengan adu domba adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan.

Dulu, Divide et Impera dilakukan dengan memecah belah penduduk Indonesia. Lalu dengan mudah Belanda menguasai suatu daerah dan berangsur menguasi negara ini. Berhasil, mereka menjajah alangkah lamanya.

Entah kenapa sekarang ini saya merasa ada orang-orang yang memanfaatkan momen-momen tertentu demi memecah belah masyarakat Indonesia. Sedikit saja ada peluang momen, BAMMMM!! mereka langsung beraksi.

Imajinasi saya membayangkan dulu sewaktu pemilihan Presiden, aktor-aktor ini menggunakan Divide et Impera. Mereka memanfaatkan momen perbedaan pilihan calon presiden masyarakat. Alhasil, abracadabra, Indonesia terpecah menjadi dua kubu. Kubu Jokowi dan kubu Prabowo.

Pra dan Pasca Pilpres tersebut alangkah terasa jurang itu. Indonesia seolah sedang perang dingin saja. Saling ejek, saling memaki, saling tuding demi membela keyakinan kubu masing-masing.

Waktu itu, jelas sekali perang ini terlihat di jejaring sosial. Bahkan, sampai ke dunia nyata juga. Waktu itu saya sempat mikir, ya sudahlah, dua-duanya saja jadi presiden. Jadi presidennya dua, wakilnya dua. Soalnya saya ketakutan perang tentang ini tak akan selesai. Ujung-ujungnya NKRI yang pecah belah seperti gelas-gelas kaca.

Divide et Impera pada momen pilpres ini sudah lumayan agak adem. Tapi sampai sekarang kadang masih ada juga. Padahal sudah dua tahun berlalu.

Nah, sekarang imajinasi saya mengatakan ada lagi orang-orang yang memanfaatkan momen untuk merusak negara kecintaan kita ini. Dengan cara Divide et Impera lagi.

Kali ini mereka memanfaatkan soal dugaan penistaan agama Islam oleh Gubernur DKI Jakarta non-aktif, Basuki Tjahaya Purnama aka Ahok. Eeeits, tunggu dulu, jangan langsung protes dulu, saya tak bilang kaum Muslim yang tersinggung sebagai oknum yang melakukan divide et impera. (Muslim boleh tersinggung. Proses hukum boleh berjalan, monggo...)

Tapi imajinasi saya mengatakan ada orang-orang yang memanfaatkan momen ini untuk memecah belah persatuan Indonesia dengan divide et impera. Mereka lalu bertepuk-tepuk riang melihat perang antara Ahok lovers vs. Ahok haters yang semakin menggebu di tengah masyarakat. Alhasil divide et impera, adu domba antara dua kubu itu jadi semakin panas mereka kipas-kipasi. Api semakin berkobar, mereka tinggal tepuk tangan kegirangan.

Lalu apakah akhirnya NKRI terpecah belah? Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi tak bisa dipungkiri, kalau para petinggi negara ini belingsatan. Cemas, was wasan kalau-kalau perpecahan semakin meruncing, lalu negara jadi kacau balau. Apalagi sampai sekarang masih juga belum selesai. Sampai ada pula rencana rush money dan aksi-aksi susulan.

Para petinggi memang was-wasan, jika tidak maka tak akan ada safari ke para tokoh-tokoh dan juga tak akan banyak himbau-himbau tentang persatuan dan kedamaian, tak akan pula blokar blokir situs.

Di masa-masa mendatang, inilah yang saya takutkan. Entah karena memang saya penakut, atau saya memang drama queen, yang suka panik berlebihan, membesar-besarkan masalah. Bisa jadi.

Yang saya takutkan akan ada banyak momen yang bisa dimanfaatkan untuk divide et impera. Yang sudah, pilpres lalu dan dugaan penistaan agama yang sekarang masih berlangsung. Nanti, apa lagi momen yang akan mereka manfaatkan? Toh, pasti akan ada banyak momen, namanya juga negara. Rumah tangga saja ada banyak masalah, singgungan dan cobaan, apalagi negara.

Masalah dan singgungan, cobaan, tak bisa selalu dihindari. Pun juga orang-orang yang mau mengadu domba dengan Divide et impera. Mereka tak bisa dihilangkan, untuk dideteksi saja susah. Pun diberantas bisa jadi bakal ada lagi.

Yang bisa Cuma bikin diri sendiri adem seadem-ademnya. Jangan mudah dikompori, dikipasi. Rasional dan jangan mudah membenci, memaki, mendendam utamanya maunya ya satu aja, jangan musuh-musuhan.

Tapi pertanyaan lanjutannya, bagaimana kalau sebenarnya tak ada orang-orang yang mengadu domba kita? Bagaimana kalau kita sendiri yang hobi mengadu domba sesama kita? Divide et impera sesama kita sendiri? Waduh, kalau begini? Saya mau bilang apa lagi.