Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB di tanggal 1 April 2019, saat saya memulai menulis esai ini. Tepat 16 hari lagi di jam yang sama, Tempat Pemungutan Suara (TPS) akan ditutup sebelum dihitung, dibacakan, dan diumumkan hasilnya; menunggu hasilnya ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) sesudahnya.

Di sisa kampanye yang makin lama mendekati hari H pemilihan, sejumlah manuver di antara partai politik pendukung, baik di koalisi TKN 01 maupun BPN 02, makin menunjukkan friksi.

PSI yang menarik garis pembeda sebagai partai nasionalis dengan partai politik lainnya. Golkar melalui Akbar Tanjung yang mengambil friksi terhadap Nasdem.

Lalu, PPP vs PKB di kasus Rommy dan kini kita mendengar, sinisme Demokrat ke komentar Hasyim Djojohadikusumo (Gerindra) soal bagi-bagi jatah menteri untuk Kabinet Prabowo--jika terpilih menjadi presiden.

Situasi ini, tentu saja bukan hal yang spesial. Mengingat waktu pileg dan pilpres dilaksanakan bersamaan. Pun tidak semua partai mendapatkan coattail effect (efek ekor jas) langsung dari calon presiden Jokowi-Maruf Amin atau Prabowo-Sandi.

Hal ini pula yang membuat setiap partai politik dan ikonnya (tokoh), harus memulai memikirkan langkah selanjutnya. Tidak hanya untuk 2019, tapi juga untuk pemilu berikutnya di 2024.

****

Belum lagi saat ini, tak banyak partai politik peserta pemilu yang punya tokoh kuat sebagai identitas branding politik yang berpeluang menjadi capres di 2024. Praktis hanya Cak Imin (PKB) dan AHY (Demokrat), tokoh muda yang punya modal kuat. Disamping mereka peran dan pengaruh yang dominan di partainya masing-masing, juga identitas mereka sebagai pemimpin partai hari ini dan masa depan partai sangat kuat.

Memang ada nama Tri Rismaharini, Puan Maharani dan Ganjar Pranowo (PDI Perjuangan). Namun, posisinya untuk running di 2024 ditentukan oleh situasi internal partai, yang melimpah kader. Belum lagi, banyak prediksi mengatakan 2020 adalah masa suksesi pergantian ketua umum dari Megawati ke kader lainnya. ---Bila transisi memang benar-benar terjadi.

Calon alternatif 2024 lainnya, seperti Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Gatot Nurmantyo, Chairul Tanjung, Mahfud MD atau Nurdin Abdullah pun tak memiliki posisi kuat di partai politik layaknya AHY di Demokrat atau Cak Imin di PKB.

****

AHY tentu saja, pasti pula sangat mengerti situasi ini. Lebih lagi, hasil perolehan suara pileg dan pilpres tahun ini, akan diumumkan bersamaan. Bagaimana suara Partai Demokrat dan/atau siapa yang akan menjadi presiden terpilih di 2019-2024 nanti.

Pun lebih lanjut, elektabilitas Demokrat di 3 (tiga) survei terakhir berada diantara 4,6%-6,7%, tentu AHY membacanya.

Angka itu tentu jauh untuk syarat pencalonan presiden, mengingat tingginya angka President Threshold yaitu 25% suara nasional atau 20% kursi di DPR.

****

Oke, mari kita buat simulasi. seandainya, Prabowo-Sandi yang memenangkan Pilpres tahun ini. Tentu saja, untuk pemilu 2024, posisi AHY untuk jadi capres tentu sangat sulit. Mengingat, pasangan Prabowo-Sandi pasti, tentu saja, ingin berkuasa 2 (dua) periode untuk periode 2024-2029. Hal ini didukung pula oleh elektabilitas Partai Gerindra yang berada diangka 16-19%.

Lawannya juga diprediksi mungkin masih orang yang sama pula yaitu Jokowi atau calon alternatif lainnya yang memiliki kualifikasi yang berkualitas pula.

Pun jika akhirnya, melalui konstalasi politik, AHY mampu mengkonsolodasikan partai politik dan berhasil menjadi capres 2024. Tentu saja yang dilawannya AHY adalah Prabowo itu sendiri, karena ia adalah petahana.

Lebih lanjut, jangan dulu perkirakan berapa umur Prabowo saat itu. Sebab, Kiyai Maruf sudah berumur 75 tahun saat running bersama Jokowi pun diwilayah lainnya, Mahatir Mohammad sudah berumur 92 tahun saat ia terpilih menjadi PM malaysia.

Pada titik ini, masyarakat akan melihat garis pembeda, garis demarkasi antara AHY dan Prabowo. Jika AHY berhasil menjadi capres di 2024. Keduanya, sama-sama militer. Yang satu pensiunan TNI berpangkat terakhir Mayor dan satunya lagi adalah seorang Letnan Jendral (purn) TNI. Ini bukan soal muda atau tua, ini soal personal AHY dalam branding yang tidak mungkin lagi dibentuk sebagai representasi sipil tapi pensiunan militer.

****

Artinya apa?  jika AHY ingin running untuk 2024, maka kemenangan Jokowi-Amin merupakan hal yang logis diharapkannya. Apalagi, suara Partai Demokrat di pemilu 2019 nanti diprediksi berada dikisaran angka kurang dari 10%.

Kemudian tentu saja, pertanyaan berikutnya adalah bukankah SBY (ayah AHY) bisa menjadi capres 2004, meski suara Partai Demokrat 7,45%?

Benar. Namun, bedanya saat SBY-JK menjadi pasangan capres/cawapres. Angka Parlementary Threshold adalah 2,5% dan angka Presidential Theshold kita merujuk UU Nomor 23 tahun 2003 tentang Pemilu adalah 15% kursi di DPR atau 20% suara nasional.

****

Apakah AHY akan menunggu sampai 2029?

Udah...Udah...Udah...! AHY sudah memutuskan mundur dari TNI tahun 2016, 3 tahun lalu. Saat dirinya, memutuskan menjadi kandidat untuk calon gubernur DKI Jakarta. Saat umurnya masih 37 tahun pula. Muda adalah kekuatan, saya sepakat soal AHY disini. Waktu tak bisa diputar dan menunggu 10 tahun bukan waktu yang singkat buat AHY.

AHY, kemenangan Jokowi-Amin tentu hal yang baik untukmu. Jika pada akhirnya yang kau tuju adalah menjadi capres 2024. Meski, memang politik bukan diatas kertas tapi semuanya diawali dari corat coret di kertas, bukan?