Pesta sepak bola terbesar di dunia ini dikenal dengan sebutan FIFA World Cup. FIFA World Cup merupakan sebuah event yang diselenggarakan setiap 4 tahun dan berlangsung selama 1 bulan penuh di negara yang menjadi tuan rumah serta berada di bawah naungan Organisasi Sepak Bola Internasional yaitu FIFA. 

Kompetisi ini dimulai sejak tahun 1930 dan sampai tahun 2018 sudah tercatat sebanyak 18 negara telah menjadi ruan rumah (host country). Dari 18 negara tersebut, terdapat dua negara yang menjadi host country secara bersamaan, yaitu Jepang dan Korea Selatan pada tahun 2002.

Mekanisme untuk mengajukan sebagai tuan rumah tidaklah mudah. Negara yang ingin menjadi ruan rumah perlu menyertakan visi dan strategi penyelenggaraan; sejumlah informasi tentang kondisi umum, politik, ekonomi, serta media dan pemasaran; sejumlah aspek teknis termasuk keamanan dan keselamatan; aspek penyelenggaraan lain seperti FIFA Fan Fest; dan penunjang manajemen event seperti standar hak-hak buruh dan HAM.

Ada hal menarik ketika World Cup diselenggarakan di Korea Selatan dan Jepang yaitu tercetak sebuah sejarah baru untuk pertama kali Brazil menjuarai kompetisi ini untuk ke-5 kalinya. Selain terciptanya rekor tersebut, ada hal menarik lain yang tercipta pada gelaran World Cup 2002 yaitu untuk pertama kalinya Korea Selatan yang menjadi wakil dari benua Asia berhasil mencapai fase Semi-Final.

Selain rekor atau pencapaian baru, terdapat banyak hal-hal yang menarik selama penyelenggaraan World Cup 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Hal pertama yang menarik adalah kedua kegara yang menjadi host countries (Korea Selatan dan Jepang) adalah negara yang memiliki sejarah berbeda. Berbeda yang dimaksud adalah Korea Selatan merupakan bagian dari negara yang jajahan Jepang.

Sebuah latar belakang historis yang sangat bertolak-belakang antara kedua Host Countries dalam FIFA World Cup 2002. Sedikit menceritakan kembali, pada 1910 - 1945, Korea merupakan negara yang berada di bawah kekuasaan Jepang. Pada masa ini terjadi migrasi besar orang Korea ke Jepang hingga mencampai 1% populasi Jepang saat itu.

Jepang juga menghentikan gerakan kemerdekaan yang ada seperti “March First Independence Movement of 1919”. Hingga pada tahun 1945, kekalahan Jepang atas Amerika Serikat dan Sekutu membuat Korea terlepas dari jajahan Jepang. Dalam proses pelepasan Korea, Amerika Serikat turut membantu Korea untuk merdeka.

Jepang merupakan sebuah negara yang terkenal sebagai negara “homogen” sehingga terdapat beberapa diskriminasi yang ada di negara Jepang. Seperti kaum Zainichi yaitu sebutan bagi orang asing yang tinggal di Jepang. Sedangkan untuk orang Korea yang tinggal di Jepang disebut Korean Zainichi.

Korean Zainichi ini merupakan sekelompok orang Korea yang sudah lama menetap di Jepang dan tidak kembali ke Korea. Pasca Korea merdeka, mereka tetap menetap di Jepang. Korean Zainichi ini mendapat perlakuan diskriminasi pendidikan dan pekerjaan karena dari bentuk fisik Korean Zainichi tidaklah seperti masyarakat Jepang.

Dengan melihat diskriminasi yang muncul terhadap kaum Korean Zainichi serta dengan mencoba mengaitkan prinsip non-diskriminasi dalam statuta FIFA, seharusnya ini dapat menjadikan langkah yang baik untuk menghilangkan diskriminasi terhadap kaum Korean Zainchi di Jepang.

Hal ini disebabkan oleh prinsip non-diskriminasi yang yang ada dalam statuta FIFA dan wajib dipatuhi oleh semua negara anggota FIFA. Apabila tidak mematuhi statuta FIFA, negara anggota akan mendapatkan sanksi dari FIFA yang dapat merugikan negara yang menerima sanksi tersebut.

Akan tetapi, statuta FIFA hanya berlaku untuk hal-hal yang berkaitan dengan sepak bola. Oleh sebab itu, FIFA tidak bisa mencakup diskriminasi yang secara keseluruhan yang dialami oleh kaum Korean Zainichi

Meskipun demikian, FIFA bisa mewajibkan Japan Football Association (JFA) melakukan kampanye anti-diskriminasi dalam setiap pertandingan level domestik untuk bisa berperang melawan diskriminasi di Jepang. Sehingga masyarakat dapat melihat usaha FIFA dalam melawan diskriminasi tidak hanya melalui event berskala internasional tetapi juga sudah dilakukan di level domestik setiap pertandingan sepak bola.

Jika hal tersebut dilakukan oleh FIFA terhadap JFA atau masing-masing federasi sepak bola negara anggota, kita akan melihat sebuah kolaborasi yang sangat indah antara sepak bola sebagai brand dengan FIFA sebagai pemilik wewenang dalam sepak bola.

Mengapa demikian? Hal ini karena posisi sepak bola jika dilihat sebagai sebuah brand, sudah mendapatkan hati di jutaan penggemar dan FIFA hanya perlu melakukan implementasi terhadap statuta mereka agar masyarakat dunia dapat melihat bahwa sepak bola merupakan olahraga untuk semua kaum dan ikut berpartisipasi aktif dalam melawan diskriminasi.

Dengan melakukan hal tersebut, masyarakat dapat melihat kontinuitas FIFA dalam menghapuskan diskriminasi yang dan dalam sepak bola pada khususnya. Dan cenderung melihat keseriusan FIFA dalam menjalankan statutanya untuk melawan diskriminasi.