Terjebak dalam situasi  pulang ke kota kelahiran, dan segenap keluarga besar sedang sibuk mempersiapkan pernikahan adik sepupu laki-lakimu yang terpaut empat tahun di bawah usiamu, tentu ini adalah situasi yang tidak mengenakkan.

Berbagai komentar bullying akan mewarnai hari-harimu, celetukan seperti “Baru si kakak kapan?” atau “Jangan kelamaan ya, ingat usia!” akan menjadi bahan meditasi yang dalam di masa liburanmu yang mahal bersama dengan keluarga.

Sambil nonton TV, pikiranmu akan menjelajahi jejak-jejak asmara yang penuh kegagalan, luka-luka batin yang terlupakan menyapa dan mempertanyakan: apa salahku? Apa dosaku? Kok belum-belum dipersunting? Ya, itu segelintir uneg-uneg saya sendiri di beberapa pekan ini.

Memang demikian berat menjadi seorang perempuan, terutama di penghujung angka dua-puluh. Berbagai ijazah sudah di pelukanmu, segala ekspektasi tentang kesempurnaan anak gadis telah kau rengkuh, tapi itu belum cukup jika kau tak ada tanda-tanda menuju dekapan laki-laki.

Karena bagi masyarakat patriakis, nilai perempuan melekat dengan laki-laki di sampingnya. Perempuan tanpa laki-laki bagai seribu tanpa rupiah. Hanya sebuah angka tiada arti.

Menariknya, beberapa pekan ini saya juga belajar banyak hal. Seperti kata orang, bullying menimbulkan konsekuensi yang relevan bagi korban.  

Baca Juga: Kapan Kawin?

Saya pikir saya juga demikian. Setelah menyelam ke dasar perenungan “Mengapa saya belum menikah?”, saya berenang kembali menuju permukaan air, kali ini dengan mutiara-mutiara kebajikan.

Kebajikan yang ingin saya bagi dengan semua yang sedang atau akan mengalami apa yang saya alami.

Pertama, jangan lari dan menghidar. Kebanyakan orang memilih untuk menghindar dari pertanyaan keluarga dan kerabatnya di seputar pernikahan, lalu tak pulang kampung bertahun-tahun, menyendiri, dan terhilang. Bagi saya, itu sesuatu yang justru harus dihadapi. Sebetapa menyakitkan dan mengganggu itu. Hadapilah!

Kembangkan sikap pengertian yang tinggi terhadap kepedulian dan perhatian dari para saudara dan kerabat. Bahwa mereka peduli dan ingin kita juga bahagia, sekalipun definisi kebahagiaan menurut mereka terlampau dangkal dan menyesakkan hati.

Kita hanya perlu saling menerima, terima mereka dengan segala kejujuran dan kepolosan mereka mendoakan kebahagiaan kita. Lalu nyatakan sikap bahwa kita juga menginginkan penerimaan yang sama atas segala pilihan dan keputusan masa muda kita.

Sesekali celetukan mereka juga perlu diadu argumentasikan, misalnya soal ketergantungan terhadap laki-laki. Sekalipun kita juga harus mengerti bahwa kebanyakan dari mereka tumbuh dalam langgengnya patriaki, lantas kesetaraan gender adalah nilai yang asing. Tapi wawasan kesetaraan perlu menjadi warna dalam percakapan-percakapan di antara kita.

Sehingga, kita bahkan keluarga dan kerabat kita belajar untuk menghormati kehidupan sebagai suatu kebersamaan yang penuh perbedaan.

Kedua, berdamai dengan diri sendiri. Situasi semacam ini rentan menimbulkan perasaan terintimidasi dan galau berat. Namun, pertama-tama perdamaian harus terjadi di dalam diri kita sendiri, antara kita dengan kita. Temukan alasan mengapa hingga kini kau belum kunjung menikah, berdamai dengan alasan itu, seasam atau sepahit apa pun itu, terimalah!

Kembangkan suatu sikap percaya diri dan bertanggung jawab terhadap segala keputusan dan pilihan-pilihan hidup yang kita tempuh. Jujur dan mencintai diri sendiri membuat kita lebih legowo dalam hal menata diri atau juga hubungan dengan orang lain.

Alasan-alasan mendasar di balik keadaan yang belum menikah akan membawa kita kepada rentetan kenangan tentang siapa kita dan apa yang telah kita lakukan. Pikirkan tentang prestasi, karya, dan kebaikan tapi juga kegagalan dan kekeliruan yang membuat kita banyak belajar. Berdamailah dengan semua itu!

Ketiga, tetap bermanfaat. Situasi yang tidak enak tidak boleh menjadi racun yang memebunuh niai-nilai kebaikan dalam dirimu. Terjunlah dalam berbagai aktivitas menjadi bermanfaat dalam keluarga besar. Benamkan diri dalam kesibukan persiapan si saudara sepupu. Baper, tentu! lalu, bersukacitalah!

Kembangkan suatu sikap yang positif dalam hubungan yang positif dengan orang lain. Temukan sukacita yang berarti dengan menjadi penolong. Berbuat baik dan bermanfaat akan menjauhkan kita dari sikap manipulatif dan perasaan mengasihani diri sendiri.

Menjadi bermanfaat juga menolong kita untuk memahami bahwa kita bukan pusat dari dunia ini. Menjadi bermanfaat membawa kita melihat pergumulan orang lain lebih dekat, bahwa rumput tetangga yang kelihatannya hijau adakalanya tidak sehijau itu juga jika dipandang dari dekat.

Kita akan belajar bahwa kebahagian itu tidak berstandar. Jadi kita juga tidak perlu mengejar sesuatu hanya karena orang lain sudah memperolehnya. Sesuatu pantas untuk dikejar ketika kita merasa pantas pula untuk memilikinya. Itu haruslah sesuatu yang lahir karena keputusan kita bukan karena desakkan atau penilaian orang lain.

Demikianlah liburan bersama keluarga dan kerabat di kampung halaman dengan sepupu yang hendak menikah, bukanlah momok yang menakutkan! Tidak perlu mengorbankan kebahagiaan yang demikian hanya karena takut terintimidasi situasi.

 Jika hatimu siap, keluarga justru dapat menjadi support system yang tangguh dalam perjalanan hidupmu. Sekali lagi, kita hanya perlu untuk saling menerima. 

Hadapilah, terimalah! Temukan sukacitamu bersama keluarga dan kerabat di kampung halaman dengan sepupu yang akan menikah. Bahagialah bersama mereka semua.