Apa yang terlintas di benak kalian bila menyoal perkara Pekerja Seks Komersil atau PSK? Barangkali yang muncul adalah: pelacur, seks, uang, dan ya, yang jelas perempuan tentunya. Sudah tidak dapat disangkal bahwa identifikasi perempuan dalam terminologi PSK sudah mengakar kuat dan tersebar luas di kalangan masyarakat.

Padahal, sebenarnya bila kita kulik dari pemaknaan PSK itu sendiri sama sekali tidak ada embel-embel kata perempuan di dalamnya. Bahkan, bila menukil pernyataan yang disampaikan oleh Koentjoro dalam buku tutur dari sarang pelacur, PSK diartikan sebagai para pekerja yang bertugas melayani aktivitas seksual dengan tujuan untuk mendapatkan upah atau imbalan dari yang telah memakai jasa mereka tersebut. 

Jelas sudah bahwa hal tersebut telah menunjukkan bahwa pemaknaan identifikasi perempuan dengan PSK merupakan sesuatu yang perlu disangsikan, dan bahkan diperdebatkan.

Lebih jauh, bila kita mencoba membuka fakta yang lebih luas, sebenarnya aktivitas seksual untuk tujuan komersil tidak hanya dilakukan oleh perempuan, melainkan juga laki-laki. Di Indonesia, sebagai contoh, dengan jelas dapat kita saksikan di salah satu pulau ikonik nusantara: Pulau Bali.

Di Bali, terdapat sekolompok laki-laki yang melakukan aktivitas seksual dengan tujuan komersil yang dikenal dengan sebutan “gigolo”. Biasanya, mereka menawarkan diri mereka terhadap para perempuan pendatang untuk melakukan aktivitas seksual.

Selain itu, beberapa waktu terakhir juga dapat ditemukan pekerjaan yang terbilang “ngetren”, yakni laki-laki pemburu tante-tante atau yang sering dikenal dengan istilah “brondong simpanan tante-tante”. Layaknya pasangan, mereka juga melakukan aktivitas seksual.

Hal-hal tersebut membuktikan bahwa sebenarnya identifikasi Pekerja Seks Komersil terhadap perempuan adalah anggapan yang salah kaprah. Faktanya, Pekerja Seks Komersil dilakukan juga oleh laki-laki. Terlepas dari apa pun sebutannya, yang jelas semuanya berhubungan dengan aktivitas seksual untuk tujuan komersil.

Meskipun demikian, nyatanya sampai saat ini, persepsi PSK yang identik dengan perempuan masih mengakar kuat dan tersebar luas di kalangan masyarakat. Jelas bukan tanpa alasan, persepsi perempuan identik dengan PSK tampaknya dipengaruhi oleh beberapa hal yang krusial.

Pertama, pertimbangan masyarakat berdasarkan kuantitas dan bukan kualitas. Masyarakat di Indonesia cenderung menggangap hal yang ada berdasarkan proporsi jumlah. 

Meskipun sebenarnya ada laki-laki yang bekerja sebagai pekerja sekss komersil, namun karena tidak sebanyak perempuan atau tidak “populer” di kalangan masyarakat, hal tersebut tidak terlalu diperhatikan. Bahkan sama sekali tidak diperhatikan. Hal ini kontras dengan jumlah perempuan yang bekerja sebagai PSK yang memiliki jumlah yang begitu besar dan tersebar hampir merata di setiap daerah.

Berdasarkan data yang pernah disampaikan oleh kementerian sosial indonesia pada tahun 2015, tercatat terdapat 56.000 orang berstatus PSK yang tersebar di 164 lokalisasi seluruh Indonesia (https://merahputih.com/). Jumlah tersebut berdasarkan pendataan yang tampak saja, bila dikalkulasikan dengan yang tidak terang-terangan, barangkali totalnya akan bertambah tiga kali lipat. 

Uniknya, yang perlu dijadikan sorotan adalah data PSK yang disampaikan secara keseluruhan merupakan perempuan. Pemerintah sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah menyinggung laki-laki yang bekerja sebagai pekerja seks komersil.

Kedua, pemberitaan media mainstream. Tentu kita masih ingat, bila ditelisik lebih jauh, beberapa tahun terakhir ini pemberitaan media mengenai Pekerjas Seks Komersil atau kasus prostitusi selalu digambarkan dengan sosok perempuan. Mulai dari kasus prostitusi artis yang mencuat seperti: Vanesa Angel, Hana Hanifah, Amel Alvi, Tyas Mirasih dan lain sebagainya.

Bahkan hingga pemberitaan kasus relokasi di Surabaya, Bandung, dan Jakarta pun juga demikian. Sekali lagi, semua identik dengan perempuan. Hal tersebut jelas memiliki dampak yang luas bagi masyarakat, terlebih mengingat media memiliki fungsi representasi dan refleksi. Seolah pemberitaan PSK yang selalu identik dengan perempuan telah merefleksikan realitas bahwa PSK hanya perempuan.

Ketiga, aspek historis. Barangkali sudah tentu tidak dapat disangkal bahwa faktor ketimpangan keadilan gender yang terjadi antara laki-laki dan perempuan dalam hal ini dipengaruhi oleh budaya patriarkial, bahkan lebih parahnya dipengaruhi oleh pemikiran misoginis yang telah lama mengakar di masyarakat Indonesia. 

Dulu, perempuan dianggap sebagai kaum yang rentan, lebih parahnya dianggap sebagai kaum yang lebih rendah derajatnya ketimbang laki-laki. Atas dasar pemahaman tersebut juga, hingga saat ini, para lelaki mengklaim bahwa menjadikan perempuan sebagai pemuas nafsu adalah hal yang lumrah, bahkan “halal” secara logika.

Sekali lagi, apa yang terjadi hari ini menunjukkan perspektif yang keliru. Terlepas dari pemahaman mengenai pekerja seks komersil itu layak atau tidak, itu persoalan lain, yang jelas identifikasi PSK terhadap perempuan adalah kekeliruan yang tengah menjadi kebenaran umum saat ini. Oleh karena itu, hal tersebut harus diluruskan.

Meskipun terlihat sepele, bila dibiarkan, hal ini memiliki implikasi yang fatal. Dalam hemat saya, hal tersebut akan makin mensubordinasi kedudukan perempuan. Paling buruk, bila dibiarkan akan melanggengkan budaya patriarkal di Indonesia. 

Sebaliknya, hal tersebut justru akan mengaburkan fakta-fakta mengenai kesetaraan laki-laki dan perempuan dan makin menguatkan dominasi laki-laki. Singkatnya, hal ini akan menjadi salah satu penghambat upaya untuk menyetarkan kedudukan sosial antara laki-laki dan perempuan.