“Hidup bersama satu juta orang ateis-humanis adalah jauh lebih baik dibanding harus berkawan dengan satu orang hipokrit.”

Kredo saya di atas adalah respons untuk sebuah fenomena empiris di lingkungan tempat saya bersosialisasi. Betapa memprihatinkan, pandangan tentang kebenaran hanya menjadi kata-kata yang dipajang membosankan dengan bingkai berdebu dan ditempel pada dinding-dinding ruangan kantor, taman, sekolah, bahkan rumah ibadah. Segalanya terasa kering dan penuh retorika pura-pura.

Anda bisa mulai membayangkan secara lebih radikal, apa jadinya bila semua aspek nilai kehidupan dalam bertetangga, berorganisasi, beragama, dan bernegara, hanyalah kumpulan prinsip yang dijalankan oleh manusia-manusia hipokrit yang hidup dalam kebohongan dan pengkhianatan demi pertahanan diri pribadi agar tetap memiliki nilai di masyarakat.

Anda boleh percaya atau beriman tentang visi dan misi damai agama, namun dalam realitasnya, bisakah anda menemukan hal tersebut sebagai sebuah manifestasi? Agama mengajarkan kasih sayang dan nilai damai, namun sudah berapa banyak nyawa manusia harus direnggut karena pertikaian berlandaskan agama?

Seperti halnya tagline keimanan yang sering kali kita dengar dalam helatan aksi masa yang menyimpang. Teriakan takbir di Cikeusik, misalnya, adalah manifestasi spirit pembunuhan dari kelompok munafik tuna-adab yang tega membantai saudara sekemanusiaan, yang seolah-olah berlindung di balik jubah religiositas agar pembunuhan bisa terkonversi menjadi jihad.

Bagi keluarga korban, gema takbir yang biasa mereka dengarkan sebagai kemenangan dan kemerdekaan sebagaimana spirit pembebasan Islam autentik, boleh jadi berubah menjadi auman singa yang lapar dan siap memangsa tanpa belas kasihan. Kebiadaban ini terjadi dalam basis nilai agama yang diterjemahkan dengan darah dan kebencian terhadap yang mereka anggap perlu untuk dimusnahkan dengan sandaran keyakinan yang benar-benar berseberangan dengan kemanusiaan.

Apakah anda meyakini bahwa “kebersihan adalah sebagian daripada iman”? Tagline keimanan ini pun hadir sebagai slogan normatif yang tidak berdaya. Bagaimana saya, yang seorang pemikir bebas, harus percaya bahwa ungkapan tadi adalah sebuah ajaran nilai keimanan ketika para pemercayanya (believers) saja hampir tidak pernah menjaga kebersihan? Apakah saya salah karena telah skeptis bahwa kebersihan memang bagian dari iman? Jangan-jangan itu hanyalah slogan yang berlaku ketika ada inspeksi mendadak saja, atau ketika ada asesor datang dalam rangka visitasi akreditasi ke sekolah saja.

Selanjutnya, ada orang yang sehari-harinya tidak pernah ketinggalan salat berjamaah, melantunkan ayat suci di waktu luangnya, bicara tentang akhlak dengan penuh percaya diri dan wibawa, bahkan jidatnya diberi tanda hitam sebagai indikasi golongan beriman (versinya), yang kemudian tertangkap berselingkuh dengan rekan kerjanya, bermain nakal dalam proyek-proyek manipulatifnya, sampai pada kasus mengambil hak orang lain, yaitu kotak nasi dan snack yang seharusnya menjadi hak para office boy di kantor yang juga dia embat tanpa perlu tobat. Sampai pada titik se receh itu! Adakah kita temukan secuil saja manifestasi iman dalam diri orang semacam ini?

Saya bahkan pernah tidak ingin pergi salat berjamaah karena tidak ingin diimami oleh manusia yang dengan jelas hidup dalam hipokrisi. Lebih jauh, saya beribadah sudah tidak pada pola berdagang dengan mengkalkulasi pahala untuk bisa membeli tiket hidup di surga. Saya memilih untuk dicap kurang beriman atau kurang saleh demi sebuah prinsip yang saya jalankan dengan penuh kesadaran. Biar Tuhan saja yang melakukan penghakiman tentang segala amal ibadah saya, itu pun kalau memang perlu dilakukan oleh Tuhan.

Ada hal lain yang serupa, beberapa orang yang saya kenal cukup dekat, tetiba menjaga jarak hanya karena sebuah pandangan politik yang berbeda. Bagi saya itu biasa saja, namun aksi mereka yang kemudian melakukan fitnah-fitnah personal di belakang saya tanpa adanya tabayyun terlebih dulu, akhirnya memperkuat hipotesis bahwa nilai-nilai keimanan hari ini hanyalah hiasan yang pada titik tertentu, tidak memiliki nilai etika dan estetika apa pun.

Dalam kasus lain, ada kelompok yang mati-matian mengkampanyekan tentang riba, namun dana mereka berkampanye saja dibayar dengan prosedur yang masuk kriteria riba yang mereka kampanyekan sendiri. Seperti halnya ada oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menabur kritik bahwa negara menjalankan praktik kekufuran dan tidak berlandaskan hukum Tuhan, sehingga segala aktivitas yang bersumber dari negara, secara otomatis bernilai kufur. Namun orang-orang atau kelompok ini pun tidak pernah berusaha keluar dari statusnya sebagai ASN untuk kemudian memulai profesi atau pekerjaan yang “halal” atau bisa terhindar dari praktik yang mereka nilai sebagai riba itu.

Sebaliknya, mereka menikmati berbagai tunjangan dari negara, menghabiskan waktu luang berbelanja barang-barang diskon dengan desain ekonomi kapital dan tetap melakukan angsuran kredit kendaraan yang bermitra dengan bank konvensional. Lalu di mana sesungguhnya ghirah kampanye anti ribanya? Atau memang riba di mata mereka hanyalah sebuah kebutuhan wacana publik untuk mendapat simpati masyarakat dan golongan saja? Apalagi ketika hajatan demokrasi berupa pemilihan calon kepala daerah berlangsung. Nilai-nilai keimanan sejauh ini tetap menjadi komoditi politik yang masih laku diperjualbelikan dengan pasar konsumen yang masih sangat besar.

Yang lebih lucu sekaligus murahan, ada tokoh lokal yang cukup dikenal oleh masyarakat dilingkungan tempat saya bekerja, tidak pernah absen untuk melakukan fitnah kepada pemerintah khususnya kepala negara (Presiden dan Wakil Presiden) di media sosial. Fitnah ini dia lakukan sudah seperti kebutuhan pokok sehari-hari. Parahnya, ketika saat itu ada pemberian paket idulfitri dari pemerintah, dia adalah orang pertama yang memboyong paket itu. Lalu di mana atau berapa harga keimanan orang semacam ini?

Banyak sekali kisah tentang hipokrisi yang bersentuhan langsung dalam kehidupan sosial yang saya saksikan secara langsung. Yang menjadi kekhawatiran saya adalah ketika kelompok ini dominan dan menduduki posisi-posisi di pemerintahan setempat, mulai tingkat lokal-regional, terlebih di tingkat nasional. Maka paradigma berpikir kita hari ini sudah harus berubah. Misalnya, orang baik akan tetap baik apa pun agamanya. 

Orang jahat juga berpotensi tetap jahat serajin dan sebanyak apa pun ritus agama yang dia pertontonkan. Kita sudah jangan terus-menerus terjebak dalam sirkus kesalehan yang ditampilkan oleh kelompok hipokrit di depan publik. Kita sudah harus lebih rasional dan objektif dalam memutuskan segala sesuatu termasuk penilaian kita terhadap orang lain.

Proyek jual-beli nilai dan ritus agama sudah harus mengalami kebangkrutan dalam rangka mengembalikan nilai kebenaran universal kemanusiaan. Kita sudah harus kembali pada semangat menaruh kemanusiaan di atas segalanya. 

Atribut sosial apa pun yang melekat setelah kemanusiaan, dan itu berseberangan, maka harus direparasi atau diubah sama sekali demi mengubur hipokrisi. Di tengah perilaku masyarakat yang semakin hipokrit dan memengaruhi tatanan sosial yang cenderung mundur dan kontraproduktif, spirit autentikasi kemanusiaan menjadi sebuah keharusan bagi setiap orang yang berpikir.