Di Sudan Selatan Afrika, pada tahun 1973, lahir seekor badak jantan yang diberi nama Sudan. Seperti anak badak lainnya, Sudan harus menunggu induknya melahirkan lagi sebelum ia bisa hidup sendiri. 

Sudan dan keluarganya, yaitu Badak Putih Utara, badak pemakan rumput yang merupakan mamalia darat terbesar kedua setelah gajah, tentunya lebih besar dari 4 kerabatnya: Badak Hitam, Badak Cula Satu, Badak Sumatra, dan Badak Jawa.

Tahun 1975, ketika itu Sudan sudah berumur dua tahun dan cula depannya mulai memanjang. Di Shambe, Sudan dan si jantan Saut, serta 4 betina Nola, Nuri, Nadi, dan Nesari, ditangkap oleh Chipperfield’s Circus untuk dipamerkan di kebun binatang Dvur Kralove di Republik Ceko.

Kebun binatang Dvur Kralove mendapat banyak kritikan dari berbagai kelompok pencinta binatang, karena pada waktu itu jumlah Badak Putih Utara di alam liar menurun. 

Selain memiliki banyak koleksi Badak Putih, Josef Wagner pemilik Dvur Kralove telah memisahkan banyak Badak Putih Utara dari habitat aslinya. Mereka pun sulit berkembang biak yang menyebabkan penurunan populasi.

Pada tahun 1977, di kebun binatang Ceko, kelompok Sudan dipertemukan dengan Nasima si Badak Putih Utara betina dari Uganda yang diangkut dari taman safari Knowsley, Inggris. Sayang, Saut temannya Sudan harus diberangkatkan ke kebun binatang San Diego, Amerika Serikat untuk diteliti.

Jumlah spesies Badak Putih Utara di Uganda dan Sudan terus menurun. Selain karena konflik saudara antara Sudan dan Sudan Selatan, mereka diburu dan dicuri culanya untuk memenuhi permintaan bahan baku obat-obatan dari Cina dan Vietnam. 

Di tahun 1980, 13 badak tersisa di taman nasional Kongo. Sehingga pada tahun 1986, IUCN (Sebuah organisasi internasional untuk konservasi sumber daya alam) mendatangi kebun binatang Dvur Kralove sebagai kebun binatang yang masih memiliki koleksi Badak Putih Utara, termasuk Sudan. Mereka bersepakat memgupayakan pelestarian Badak Putih Utara.

Sudan bersama Nasima telah menghasilkan tiga anak. Nabire lahir pada tahun 1983, enam tahun berikutnya si betina Najin, dan si anak terakhir lahir prematur dan mati.

Upaya konservasi terus dilakukan dengan mendatangkan Badak Putih Selatan untuk dikawinkan dengan Badak Putih Utara. Sehingga di tahun 1998, Badak Putih Selatan tulen si Saut dari San Diego dipulangkan ke Ceko bersama Sudan. 

Tahun 2000, lahirlah cucu "milenial" Sudan dari Najin bernama Fatu. Namun, di tahun yang sama, pembiakan sulit berhasil. Beberapa badak mati dan beberapa sudah mencapai masa tuanya.

Kondisi yang sangat memprihatinkan ini mengundang berbagai kelompok pegiat lingkungan, peneliti, dan dokter-dokter di Eropa pada sebuah pertemuan di kebun binatang Dvur Kralove Ceko tahun 2008. Hasil kesepakatan pada pertemuan itu adalah memindahkan badak-badak dari Ceko yang dingin ke Afrika yang hangat, dengan harapan mereka dapat berkembang biak di habitat aslinya.

Desember 2009, kala itu di Afrika, hujan lebat menyambut kedatangan Sudan, Najin anaknya, Fatu cucunya dari Najin, juga Suni si jantan anak Nasima dan Saut. Sudan berguling-guling di lumpur dan sangat bergembira. Sesekali ia berdiri dan menghadapkan kepalanya ke langit.

Di Balai konservasi OI Pejeta, Kenya, mereka hidup bersama dengan Badak Putih Selatan untuk dibiakan.

Seiring waktu berjalan, beberapa Badak Putih Utara yang mengikuti program Last Chance to Survive di Kenya mati, termasuk si jantan Suni, yang kemudian menyisakan Sudan sebagai Badak Putih Utara jantan terakhir. 

Sebenarnya, di kebun binatang San Diego, ada seekor Badak Putih Utara bernama Angalifu, tetapi ia bukan pejantan yang subur. Angalifu mati pada Desember 2014. Juli 2015, Nabire anak Sudan yang pertama mati di kebun binatang Dvur Kralova, lalu Suni pada tahun 2016. 

Pengamanan di Balai konservasi OI Pajeta, Kenya makin diperketat. Sudan, Najin, dan Fatu dijaga oleh petugas bersenjata selama 24 jam. 

Meski mulai tua, Sudan masih menunjukkan ketertarikannya pada badak betina. Namun, dalam dunia mereka sebelum kawin, seekor badak jantan harus memenangkan pertarungan dengan betina yang ingin dikawininya. Tentu saja, kekuatan Sudan dilampaui sang betina dan ia harus dihindarkan dari aktivitas itu untuk keselamatannya sendiri.

Di akhir 2017, memasuki awal tahun 2018, Sudan mengalami infeksi pada kaki belakangnya. Ia mulai dirawat secara intensif oleh dokter hewan. 

Tepat pada tanggal 19 Maret 2018 (waktu Kenya), luka di kulit yang dideritanya makin memburuk dan fungsi tulang dan otot menurun karena usia. Dengan sangat berat hati, ia diwafatkan di usianya yang ke-45. Sebelum itu, ia dihibur oleh para dokter yang merawatnya, juga para petugas keamanan yang rela menjaganya siang dan malam, bahkan menemainya buang air.

Saat ini kita hanya memiliki dua Badak Putih Utara betina yang tersisa. Walau agak utopis, upaya pelestarian masih terus dilakukan dengan mengambil sperma Sudan untuk kemudian akan diteliti lebih lanjut.

Berdasarkan data populasi badak milik WWF, menyebutkan bahwa dari ke 4 spesies badak, Badak Jawa dan Sumatra, berada di urutan pertama dan kedua yang berstatus kritis atau hampir punah. Disusul Badak Bercula Satu, Badak Hitam, dan Badak Putih (Selatan).

Setelah the last male northern white rhino, siapa yang akan menjadi the last male javan rhino?