Muharam dikenal sebagai salah satu bulan yang dimuliakan dalam Islam. Dalam ajaran agama, Muharam dikenal dengan bulan yang di dalamnya terdapat berbagai keutamaan, seperti terdapat puasa Asyura yang keutamaannya dapat menghapuskan dosa setahun ke belakang. 

Pada bulan Muharam  ini pula, diyakini bahwa dosa dari perbuatan maksiat dan pahala dari perbuatan amal saleh menjadi lebih besar. Namun di samping kajian kemuliaan bulan Muharam, perlu diingat pula salah satu peristiwa sejarah memilukan dalam sejarah peradaban Islam. Peristiwa tersebut adalah pembantaian terhadap cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Husain bin Ali, beserta sekelompok pengikutnya pada 10 Muharam 61 H di Karbala.

Konteks terjadinya peristiwa Karbala terjadi ketika Husain tidak bersedia membaiat Yazid bin Muawiyah sebagai khalifah pengganti Muawiyah. Dalam beberapa literatur, alasan keengganan Husain untuk membaiat Yazid setidaknya terjadi karena dua hal.

Pertama, terjadi pelanggaran prosedur mekanisme pengangkatan khalifah oleh Muawiyah, di mana Muawiyah pernah bersepakat bahwa jabatan khalifah pasca-Muawiyah akan diserahkan kepada konsensus umat. Namun yang terjadi justru Muawiyah menunjuk putranya yaitu Yazid sebagai sebagai khalifah penerus. 

Alasan kedua, Yazid bin Muawiyah dianggap tidak memenuhi kualifikasi sebagai seorang khalifah. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa Yazid bin Muawiyah dikenal dalam sejarah sebagai sosok yang jauh dari tuntunan agama. Yazid dikenal sebagai sosok suka berfoya-foya, hidup mewah, meminum minuman keras, dan bergaul dengan teman kepercayaannya yang berperangai jelek.

Husain pergi menuju Kufah, Irak, untuk memenuhi seruan penduduknya yang ingin menobatkan dirinya sebagai khalifah yang sah.  Pada 10 Muharam 61 H, tentara rezim khalifah Yazid mengirim sebanyak 4000 personel mengepung Husain dan pengikutnya di Karbala. 

Karena Husain tidak mau menyerah, mereka terlibat pertempuran yang tidak seimbang melawan tentara rezim. Tentara rezim membantai Husain beserta sebagian kalangan dari pengikutnya. 

Sejarah mencatat Husain mengalami luka di seluruh tubuh dengan kondisi kepala dipenggal. Bahkan kepala Husain diarak ke Damaskus sebagai hadiah untuk khalifah Yazid.

Salah satu versi sejarah mencatat total terdapat 72 orang di pihak Husain yang terbunuh dalam peristiwa tersebut. Selain itu, tercatat pula bahwa tentara rezim turut menyerang dan membakar kemah pengikut Husain serta menjadikan para wanita dan anak-anak sebagai tawanan.

Peristiwa tersebut menimbulkan kesedihan bagi seluruh umat Islam pecinta keluarga Nabi. Bahkan konon alam semesta ikut bersedih atas peristiwa tersebut.

Imam as-Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’ misalnya menyebutkantanda-tanda alam yang terjadi sesaat pasca peristiwa Karbala. Imam as-Suyuthi menyebutkan terjadi gerhana matahari, ufuk langit memerah selama enam bulan secara terus menerus, kemudian batu-batu di balik Baitul Madis saat itu di bawahnya ditemukan darah kental, serta tumbuh-tumbuhan hijau di markas tentara menjadi laksana bara, serta mendapati sesuatu laksana api di daging-daging unta sembelihan mereka.

Hingga kini jutaan pencinta keluarga Nabi tetap menyimpan memori kolektif mengenai Karbala. Ratapan yang berjalin dengan untaian doa dilantunkan setiap bulan Muharam mengenang peristiwa tersebut. 

Ekspresi kesedihan mengenai Karbala diwujudkan dengan beragam cara dalam majelis-majelis duka. Namun mengenang Karbala tidak boleh hanya berhenti sebatas sebagai peringatan simbolik kedukaan saja. Harus dapat diambil hikmah pelajaran dari peristiwa tersebut.     

Beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa Karbala. Sebagaimana dijelaskan oleh Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya “Tentara Langit di Karbala: Epic Suci Cucu Sang Nabi”, bahwa Bani Umayyah berupaya mengubah agama menjadi ladang keluarga dan menjadikan kekhalifahan sebagai kerajaan dengan memonopoli trah kekhilafahan. Dalam buku tersebut juga dijelaskan bahwa pendiri Dinasti Umayyah, yaitu Muawiyah, berupaya menahan kekuasaan agar tetap berada keluarga dan keturunannya. 

Trah Umayyah juga hendak mengubah kekuasaan Islam menjadi identik dengan cambuk penyiksa nan otoriter. Selain itu, pembaiatan terhadap Yazid sebagai khalifah adalah dukungan pada kekuasaan jahiliah dengan mengorbankan agama dan umat. Dengan demikian, spirit kekuasaan Islam mengalami kemunduran. Hal inilah yang lantas memicu gerakan perjuangan Husain.

Menurut Muhammad Taufiq Ali Yahya dalam karyanya “Manusia Suci: Biogragi Singkat, Mutiara Hikmah, dan Adab Menziarahinya”, menjelaskan bahwa Husain mengadakan perlawanan terhadap Yazid bukan didorong karena motif keuntungan politik pribadi. Namun Husain mengadakan gerakan perlawanan dalam konteks amar ma’ruf nahi munkar dan mengadakan perbaikan di seluruh negeri Islam. 

Dalam kata-katanya, Husain mengatakan “Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa apa yang kami lakukan ini bukan untuk memperbutkan kekuasaan dan mencari harta dunia. Kami lakukan itu demi menghidupkan kembali agama-Mu, memperbaiki segala kebejatan yang telah merajalela di negeri-Mu, supaya orang-orang Mustadhafin hidup nyaman dan semua hukum-hukum-Mu dapat dilaksanakan.” 

Husain dan pengikutnya menolak berdiam diri melihat kedzaliman rezim. Karena itu, peristiwa Karbala dapat dijadikan sebagai simbol perlawanan terhadap rezim tiran nan dzalim.

Peristiwa Karbala juga dapat disimbolkan sebagai simbol pengorbanan dan ketegaran. Dengan kekuatan imannya, Husain dan para pengikutnya rela mengorbankan kehidupan yang tenang untuk kemudian melakukan perjuangan. Di mana para martir Karbala rela mengorbankan jiwa raga, harta, dan segala yang mereka miliki untuk menegakkan prinsip-prinsip kebenaran. Bahkan di tengah keterjepitan menghadapi ribuan pasukan rezim, Husain dan pengikutnya teguh pendirian untuk tidak tunduk kepada penguasa dzalim. 

Kebenaran adalah standar dan tujuan Husain dan pengikutnya. Padahal Husain dan pengikutnya mengetahui bahwa perlawanan terhadap rezim berarti berkonsekeunsi kehilangan segalanya, termasuk nyawa mereka sendiri. Narasi mengenai kesedihan Karbala dapat dibaca sebagai cerita kepahlawanan yang menakjubkan. Kisah Karbala bukan mengenai kisah kekalahan Husain dan pengikutnya, namun sebuah kisah mengenai kepahlawanan dan kegigihan.

Sayyidina Husain adalah cucu Nabi. Ia adalah tokoh milik seluruh umat Nabi. Mengenang peristiwa Karbala bukanlah hak eksklusif milik salah satu kelompok atau madzhab tertentu. Mengenang Karbala juga bukan berarti membuka luka lama dalam sejarah peradaban Islam. Mengenang Karbala juga tidak dimaksudkan untuk membuka konflik sektarian. 

Sebaliknya, kisah Karbala senantiasa relevan diingat untuk dapat kita ambil pelajaran universal darinya. Kisah pengorbanan dan perlawanan Husain dalam peristiwa Karbala dapat menjadi inspirasi bagi manusia kini untuk bangkit melawan kedzaliman yang senantiasa bermanifestasi di setiap waktu dan di setiap tempat. 

Sebagaimana Ali Syariati dalam salah satu pidatonya mengenai peristiwa Karbala mengatakan:

“….mereka memaparkan, mengajarkan, dan berpesan bahwa ketidakmampuan tidak melepaskan Anda dari kewajiban melawan penindasan dan ketidakadilan. Syahadah menolak alasan yang mengatakan bahwa menang hanyalah menaklukan musuh. Syahid adalah orang yang dikala tidak mampu mengalahkan musuh, meraih kemenangan dengan kematiannya sendiri, dan jika tak bisa mengalahkan musuh, ia meng-aib-kannya.”