Pada tahun 1962, Thomas Samuel Khun menerbitkan karya tentang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan (sains) The Structure of Scientific Revolution. Tujuan Khun untuk menentang anggapan umum yang berlaku mengenai cara terjadinya perubahan ilmu.

Menurut pandangan orang awam dan kebanyakan ilmuwan, kemajuan ilmu terjadi secara kumulatif, setiap tahap kemajuan yang telah tercapai sebelumnya. Ilmu mencapai tingkat kemajuan yang sekarang melalui kenaikan atau tambahan pengetahuan yang secara terus-menerus dan lambat.

Demikian ilmu pengetahuan mengalami kemajuan bahkan ke tingkat yang semakin tinggi di masa depan. Secara historis-sosiologis, pandangan Khun tentang ilmu dan perkembangannya pada dasarnya merupakan respons terhadap pandangan neo-positivisme (logical positivism) generasi terakhir Karl Popper.

Melalui karya masterpiecenya The Structure of Scientific Revolution, Khun dikenal sebagai bapak paradigma. Nah, Siapa Khun?

Thomas Samuel Khun lahir di Cincinnati, Ohio Amerika Serikat, pada 18 Juli 1922. Kuhn mendapat gelar B.S di dalam ilmu fisika dari Harvard University pada tahun 1943 dan M.S pada tahun 1946. Pada tahun 1949 mendapat gelar Ph.D di tempat yang sama dalam bidang ilmu fisika.

Setelah meninggalkan Harvard, Kuhn belajar di Universitas Berkeley, California dan kemudian menjadi pengajar di departemen filsafat dan sains. Kuhn menjadi profesor sejarah ilmu pada 1961. Selain itu, Kuhn mendapat gelar guru besar dari Princeton University dalam bidang filsafat dan sejarah sains pada 1964.

Pencetus teori scientific revolution ini meninggal 17 Juni 1996 pada usia 73 tahun di Cambridge, Amerika Serikat.

Dalam The Structure of Scientific Revolutions, Kuhn menggunakan istilah paradigma untuk banyak arti, seperti matriks disipliner, model atau pola berpikir, dan pandangan dunia kaum ilmuwan.

Khun menulis “Perubahan paradigma menyebabkan para ilmuwan berbeda memandang dunia kegiatan risetnya. Namun, pengertian umum yang lebih banyak dipakai adalah mendefinisikan paradigma sebagai seperangkat asumsi-asumsi teoritis umum dan hukum-hukum serta teknik-teknik aplikasi yang dianut secara bersama oleh para anggota suatu komunitas ilmiah.

Mengutip tulisan Afiq Fikri Almas dalam jurnal at-Tarbawi bahwa Kuhn mengemukakan konsep paradigma (Lubis, 2014:165) sebagai berikut:

Paradigma adalah pandangan dasar tentang pokok bahasan ilmu. Mendefinisikan apa yang harus diteliti dan dibahas, pertanyaan apa yang harus dimunculkan, bagaimana merumuskan pertanyaan, dan aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam mengintepretasikan jawaban.

Paradigma adalah konsensus terluas dalam dunia ilmiah yang berfungsi membedakan satu komunitas ilmiah dengan komunitas lainnya. Paradigma berkaitan dengan pendefinisian, eksemplar ilmiah, teori, metode, serta instrumen yang tercakup di dalamnya.

Erlina Diamastuti menulis beberapa pengertian paradigma dari beberapa tokoh, di antaranya yaitu: paradigma menurut Guba (1990) seperti yang dikutip Denzin & Lincoln, (1994) didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan atau kepercayaan yang mendasari seseorang dalam melakukan segala tindakan.

Selanjutnya oleh Bhaskar (1989) diartikan sebagai seperangkat asumsi yang dianggap benar apabila melakukan suatu pengamatan supaya dapat dipahami dan dipercaya dan asumsi tersebut dapat diterima.

Dengan kata lain, paradigma adalah sebuah bingkai yang hanya perlu diamati tanpa dibuktikan karena masyarakat para pendukungnya telah mempercayainya. Hanya perlu dicermati dari berbagai macam paradigma yang ada.

Selanjutnya Ritzer (1981) mendefinisikan paradigma adalah pandangan yang mendasar dari para ilmuwan atau peneliti mengenai apa yang seharusnya menjadi kajian dalam ilmu, apa yang menjadi pertanyaan dan bagaimana cara menjawabnya.

Paradigma juga dikatakan sebagai konsensus dari para ilmuwan yang dapat melahirkan suatu komunitas atau subkomunitas yang berbeda dengan yang lain. Paradigma yang berbeda tersebut terjadi karena adanya perbedaan dalam teori yang digunakan, metode dan instrument untuk mencapai suatu kebenaran.

Dari penjelasan di atas bahwa paradigma identik dengan pandangan seseorang atau cara pandang, sebagaimana yang pernah ditulis oleh Nurkhalis dalam jurnal Islam Futura bahwa paradigma saintifik identik sebagai worldview.

Paradigma adalah suatu pendekatan investigasi suatu objek atau titik awal mengungkapkan point of view, formulasi suatu teori, mendesign pertanyaan atau. Paradigma dapat diformulasikan sebagai keseluruhan sistem kepercayaan, nilai dan teknik yang digunakan bersama oleh kelompok komunitas ilmiah.

Paradigma dipahami sama dengan world view, cara pandang umum atau cara untuk menguraikan kompleksitas). Makna worldview sebagai kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral.

Perspective sama dengan world view diartikan sebagai pandangan manusia terhadap dunia realitas. Penekanannya pada fungsi worldview sebagai perubahan sosial dan moral. Sehingga worldview diartikan sebagai sistem kepercayaan yang integral tentang hakikat diri manusia, realitas, dan makna eksistensial.

Dalam kaitannya dengan aktivitas ilmiah Alparslan Acikgence memaknai worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktivitas-aktivitas ilmiah sains.

Setiap aktivitas manusia akan mencari dan menguraikan ke dalam worldview. Suatu worldview umumnya memiliki lima struktur konsep atau pandangan yang terdiri dari: struktur konsep tentang ilmu, tentang alam semesta, tentang manusia, tentang kehidupan, dan tentang nilai moralitas.

Khun, merupakan bapak paradigma, ia berargumen bahwa suatu paradigma yang dicetuskan oleh ilmuwan-ilmuwan sebelumnya dan paradigma tersebut tidak mampu menjawab problem-problem baru yang mucul, maka lahir revolusi dengan munculnya paradigma baru dan menendang paradigma-paradigma lama.

Revolusi sains mengalami paradigma shifts (pergeseran paradigma) karena adanya winnowing (unggul) baru dari sebuah discovery, supertitian atau novelty.

Dengan demikian, tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainan-kelainan (anomaly), bahwa konsekwensinya ilmu harus mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik, inilah fungsi dari revolusi.

Dalam ilmu pengetahuan dan perkembangannya terus mengalami perubahan dari masa ke masa, sebagaimana revolusi sains bapak paradigma ini berangkat dari pandangan Karl Popper dan menurut Imre Lakatos, teori Khun memang menakjubkan tetapi menurut Lakatos Khun miskin metodologi normatif.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa ilmu sangat mengagumkan dengan segala perubahannya, selain bersifat statis dan juga bersifat dinamis. Sisi dinamis, dalam artian bahwa pengetahuan merupakan aktivitas manusia yang dilakukan secara sadar dan membutuhkan pemikiran-pemikiran yang refleksi.

Aktivitas manusia dalam cakrawala ilmu pengetauan sebagai upaya mencari dan pembuktian baru berupa fakta dan teori sebagaimana yang telah dilakukan oleh Thomas Samuel Khun yang kemudian dikritisi oleh Imre Lakatos, dan terus berkelanjutan dengan paradigma-paradigma baru di masa depan. Nah!

Bahan Bacaan

  • Ahmad Asnawi. Sejarah Para Filsuf Dunia: 90 Pemikir Terhebat Paling Berpengaruh di Dunia. Yogyakarta: Indoliterasi, 2014.
  • Heriyanto. Paradigma Holistik: Dialog Filsafat, Sains, dan Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead. Jakarta: Teraju, 2003.
  • Zaprulkhan. Filsafat Ilmu: Sebuah Analisis Kontemporer. Depok: RajaGrafindo Persada, 2018.
  • Afiq Fikri Almas, “Sumbangan Paradigma Thomas S. Kuhn dalam Ilmu Dan Pendidikan (Penerapan Metode Problem Based Learning dan Discovery Learning)”, dalam Jurnal at-Tarbawi, Volume. 3, No. 1, Januari - Juni 2018.
  • Erlina Diamastuti, “Paradigma Ilmu Pengetahuan Sebuah Telaah Kritis”, dalam Jurnal Akuntansi Universitas Jember, 2015.
  • Nurkhalis, “Konstruksi Teori Paradigma Thomas S. Khun”, dalam Jurnal Ilmiah Islam Futura, Volume XI, No. 2, Februari 2012.