Secara umum, tafsir adalah upaya untuk memahami suatu makna yang terkandung di dalam Alquran dengan membongkar makna terdalam atau pesan tersirat yang terkandung di dalamnya. Sementara itu, dalam peta keilmuan Islam, ilmu tafsir adalah ilmu yang tergolong belum matang, sehingga selalu terbuka untuk dikembangkan.

Setiap periode memiliki perkembangan yang berbeda-beda hingga sampai pada saat ini. Meskipun sama-sama mengungkapkan makna yang terkandung dalam Alquran, akan tetapi setiap metode menggunakan cara dan pendekatan yang berbeda-beda. Sehingga tidak mengherankan kalau metode yang digunakan para ulama dalam penafsiran pun mengalami perkembangan yang dinamis dan berbeda pada setiap zaman. Metode-metode tersebut berkembang seiring dengan perkembangan pemikiran yang ada.

Selain itu, peradaban manusia dan masalah-masalah yang berkembang di masyarakat juga menjadi alasan berkembangnya metode penafsiran Alquran. Perkembangan tersebut terjadi karena kebutuhan manusia dengan metode baru sebagai konsekuensi terhadap perkembangan zaman yang tidak bisa dihindari.

Oleh karena itu, hubungan yang terus-menerus antara teks dan kebudayaan manusia yang senantiasa berkembang pesat adalah sebuah keharusan. Jika hal ini tidak dilakukan, maka teks Alquran hanya akan menjadi teks, dalam artian benda mati yang tidak mempunyai arti apa-apa dalam menjawab tantangan peradaban manusia. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan sikap-sikap anarkisme dan radikalisme dalam agama.

Tidak berhentinya penafsiran Alquran dengan lahirnya ribuan kitab-kitab tafsir dari dulu hingga sekarang, dari zaman Ibnu Katsir sampai dengan Hamka atau Quraish Shihab, adalah sebagai bukti penafsiran atas teks Alquran tidak pernah final (selesai) seiring perkembangan zaman. Bahkan akan terus bermunculan kitab-kitab tafsir yang lainnya guna menjawab problematika yang ada dan penyesuaian dengan konteks peradaban.

Perbedaan dalam menafsirkan Alquran akan selalu ada di kalangan para ulama ahli tafsir. Selain perbedaan metode penafsiran, konteks zaman penafsiran juga sangat memengaruhi hasil penafsiran tersebut. Selamanya, penafsiran Alquran akan terus dipengaruhi oleh tradisi dan budaya yang memengaruhinya, bukan hanya sebatas teks saja.

Sebagai misal, tradisi tahlilan, acara haul, hajatan, dan yang lainnya merupakan ajaran yang baru jika merujuk kepada teks literal atau yang sekarang ini akrab dengan sebutan bid’ah. Hal ini ada dikarenakan para Walisongo membawa ajaran Islam yang sudah disesuaikan dengan konteks tradisi dan budaya masyarakat Jawa pada saat itu.

Semua yang disebutkan tersebut merupakan bentuk penggabungan akulturasi budaya lokal dengan agama yang melahirkan ajaran-ajaran baru yang dulunya tidak pernah ada dalam teks awal Islam. Ini membuktikan bahwa penafsiran agama akan terus berkembang sesuai dengan dinamika sosial dan budaya.

Pada awalnya perbedaan dalam penafsiran Alquran tidak terjadi, karena segala kesukaran atau sesuatu yang sulit dipahami dapat ditanyakan kepada Rasul sebagai sumber utama penafsiran tersebut. Kemudian setelah Nabi wafat, maka mulai bermunculan aliran-aliran dalam penafsiran.

Setidaknya terdapat dua alasan yang melatarbelakangi munculnya aliran-aliran tersebut: internal dan eksternal. Alasan internalnya adalah kitab Alquran itu sendiri yang memungkinkan untuk dibaca dan ditafsirkan secara beragam, serta makna yang terkandung di dalam Alquran itu bersifat ambiguitas.

Hal ini dikarenakan adanya kata-kata musytarak (memiliki makna ganda), seperti kalimat Al qur’u yang dapat bermakna suci atau haid. Demikian pula kata-kata yang dapat diartikan hakiki atau majas, seperti Lamasa dalam Q.S. An-Nisa: 43 yang dapat diartikan menyentuh dan bisa pula diartikan jimak (bersetubuh).

Sedangkan alasan eksternalnya adalah faktor-faktor yang terdapat di luar Alquran, seperti pemahaman manusia terhadap makna Alquran yang selalu berkembang atau tidak monoton mengikuti perkembangan zaman. Begitu juga kondisi subjektif si mufassir itu sendiri.

Selain itu, prespektif dan keahlian atau ilmu yang ditekuninya juga merupakan faktor yang cukup signifikan. Termasuk pula riwayat-riwayat atau sumber yang dijadikan rujukan dalam menafsirkan suatu ayat.

Aliran-aliran yang muncul ini, dalam kajian ilmu Alquran, disebut dengan Mazahibut Tafsir yang artinya aliran atau kecenderungan seorang mufassir dalam menafsirkan Alquran. Bahkan saking luasnya wilayah kajian dalam hal ini, maka disebutkan bahwa Mazahibut Tafsir memilih ruang kajian ilmu tersendiri.

Para ahli tafsir berbeda-beda dalam pemetaan keilmuannya. Di antaranya ada yang membaginya pada periodesasi atau kronologis waktunya. Ada pula sesuai kecenderungannya, sisi perspektif, dan bahkan ada yang membaginya sesuai perkembangan pemikiran manusia.

Dalam periodesasi atau kronologis waktunya, terbagi menjadi tiga bagian: tafsir klasik, pertengahan, dan modern. Sedangkan dalam kecenderungannya, terbagi menjadi tafsir sunni, mu’tazilah, syi’I, dan lain-lain. Dari segi prespektifnya, terbagi menjadi tafsir sufi, falsafi, fiqhi, adabi, dan lain-lain.

Adapun dari segi perkembangan pemikiran manusia, maka dalam hal ini terbagi menjadi tafsir periode mitologis, ideologis, dan ilmiyah.