Setelah sekian tahun sudah berlalu, masa pun sudah berganti tak lagi seruang dan sewaktu di zaman dulu. Pada tahun 1942-1969, banyak sekali hiruk piruk kekacauan di masyarakat saat peralihan kekuasaan dari rezim Soekarno ke rezim Soeharto. Di masa tahun 60-an, di mana saat itu kondisi ekonomi dan politik tidak stabil, sehingga wacana demi wacana untuk menggulingkan pemerintahan Bapak Soekarno tidaklah bisa terhindarkan.

Di masa itu, banyak dan timbul berbagai gerakan pemberontakan, demonstransi, serta permasalahan terjadi di berbagai tempat di kalangan masyarakat. Kita tidak bisa melupakan sejarah, seperti halnya salah seorang tokoh pendemo yang sangat andal dan berpengaruh di dalam berbagai aksi demonstran yang terjadi. Seperti sosok Soe Hok Gie, seorang mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang ikut andil di dalam berbagai gerakan.

Berbicara tentang demonstran di sini adalah orang yang berdemonstrasi atau pelaku demonstrasi. Demonstran merupakan suatu gerakan massal yang bersifat langsung dan juga terbuka, yang dilakukan, baik secara lisan, tulisan, maupun secara tindakan, yang dimana hal ini dilakukan dalam memperjuangkan kepentingan/tuntutan yang harus dilakukan oleh berbagai pihak, terutama oleh rakyat pinggiran dan juga kalangan mahasiswa.

Kita tahu siapa sosok seorang Soe Hok Gie kelahiran 17 Desember 1942 di Jakarta. Soe Hok Gie yang merupakan seorang aktivis Indonesia Tionghoa yang menentang kediktatoran berturut-turut dari presiden Soekarno dan juga Soeharto. Kediktatoran di sini adalah seorang pemimpin negara yang memerintah secara otoriter/tirani dan menindas rakyatnya. Biasanya seorang diktator naik takhta dengan menggunakan kekerasan, sering kali dengan sebuah adanya kudeta.

Soe Hok Gie yang merupakan kelahiran seorang aktivis angkatan 66 yang sangat fenomel itu, terlahirkan di masa ketika perang tengah berkecamuk. Pada masa itu memang telah terjadi Perang Dunia II, yang di mana pada pertengahan 1942 dan juga beberapa bulan di saat pendudukan Jepang dimulai.

Soe Hok Gie memang terkenal sebagai mahasiswa yang sangat aktif di berbagai gerakan dengan kaitannya sebagai seorang aktivis. Seperti halnya Soe Hok Gie, di samping suka turun aksi menyampaikan aspirasinya sebagai masyarakat dan juga mahasiswa kepada pemerintah ke jalan-jalan melakukan aksi, ia juga terkenal bergerak juga di dalam bidang menulis, baik itu puisi, sebagai alternative menyampaikan aspirasinya juga kepada pemerintah, dalam hal mengkritisi apa yang sedang terjadi. Hingga ia juga membuat berbagai karya tulisannya serta berbagai judul puisi dan juga artikel yang dia buat.

Di situasi politik nasional era 1960-an, pada masa itu memanglah sedang panas-panasnya. Berbagai aliran politik membuat masyarakat menjadi tersekat di dalam berbagai beberapa golongan dengan primordialnya masing-masing. Pada saat itu, kekuatan politik terpusat pada tiga kekuatan pada garis besarnya, yakni kanan, kiri, Soekarno, atau biasanya sering dikategorikan dengan politisi Islam, politisi komunis militer, dan Soekarno.

Walaupun bukanlah berarti kekuatan-kekuatan seperti PSI (Partai Sosialis Indonesia) tidak artinya setelah PRRI-Permesta. Kondisi politik yang semacam itu ikut menjalar dan memengaruhi dunia kampus juga. Hal ini di dalam dunia kampus terdapat polarisasi organisasi gerakan mahasiswa dengan adanya afilisasi partai politiknya, seperti HMI dengan Masyumi, Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis), PSI, PMII, dengan NU, GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) denga PNI, CGMI (Sentral Gerakan Mahasiswa Indonesia) dengan PKI.

Di sinilah akan kita lihat bagaimana Soe Hok Gie menentang kampus sebagai suatu tempat pendidikan yang mau dicampuri oleh adanya kepentingan politik praktis yang ingin dimainkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Soe Hok Gie dan beberapa temannya di masa itu melakukan gerakan arus sendiri, yang di mana terkesan bergerak seperti apolitis. Ia ikut di dalam proses lahirnya pembentukan sebuah kelompok pendaki gunung dan pencinta alam di fakultasnya, Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala).

Walaupun awalnya peminat organisasi Mapala ini awalnya sedikit, namun dengan seiring berjalannya waktu tak lama kemudian makin banyak mahasiswa yang tertarik serta ikut serta di dalam pergerakan aktivis Mapala ini yang dibentuk pada November 1964. Pada dasarnya kelompok ini didirikan tidak hanya untuk mengembangkan dari segi teknis dalam pendakian gunung semata.

Namun perlu kita ketahui juga di dalamnya juga didirikan untuk menjalin persahabatan yang bebas (tidak bersekat-sekat), spontan, yang terbentuk dari sebuah perjalanan pendakian mereka. Juga perlu kita ketahui bahwa kelompok mereka ini sangatlah mencita-citakan kehidupan yang sederhana, sehat, berani, bersahabat, dan juga sangat mencintai alam.

Kita tahu di dalam sejarahnya bahwa meskipun Soe Hok Gie dan kelompoknya melakukan apa saja yang bisa dilakukan oleh mereka untuk membatasi pengaruh badan-badan mahasiswa berbasis partai, dengan banyaknya konflik di kampus-kampus lain seperti halnya antara GMNI dan sekutu-sekutunya di satu pihak, dan HMI dan mahasiswa independen di pihak lain, masalah itupun mereka hadapi juga.

Dari situlah kita dapat melihat dan mengetahui Soe Hok Gie, ternyata lebih aktif dalam organisasi intra kampus ketimbang organisasi ekstra kampus. Yang di mana di saat itu masih buming-bumingnya seorang mahasiswa jika mau jadi aktivis. Kalau ikut organisasi di luar kampus, GMS, organisasi ini adalah organisasi kecil yang tidak memiliki basis massa yang signifikan. Tetapi justru ia menciptakan Mapala sebagai wadah dan respons atas politisi yang ada di kampusnya.

Baca Juga: Maaf, Gie

Terkadang Soe Hok Gie tidak sekadar hanya ikut arus dengan segala polemik yang ada di sekitarnya, namun dia terkadang melakukan aksinya dan gerakan sendiri. Semua itu disesuaikannya dengan membaca atas kondisi politik dan gerakan mahasiswa itu sendiri. Inilah yang membuktikan ia berperan sebagai salah satu tokoh penggerak gerakkan 66, yang mana saat itu konteksnya mungkin dimulai dari fakultas sastra yang kurang terkenal dan terutama menjadikan timbul kepedulian terhadap gerakan mahasiswa sebagai tugas moral seorang intelektual.

Karya dari seorang aktivis Soe Hok Gie seperti buku, seperti halnya karyanya yang berjudul Catatan Seorang Demonstran, Di Bawah Lentera Merah, Zaman Peralihan, dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan. Bukan itu saja, beliau juga sangat aktif di dalam menulis artikel-artikel, juga surat-surat yang ia selalu kirim kepada kawan-kawannya maupun ke media saat itu. 

Serta tidak lupa juga bahwa dia sangatlah pandai membuat puisi seperti judul karyanya,yakni Kepada Pejuang-Pejuang Lama, Tentang Kemerdekaan, Mandalawangi-Pangrango, Pesan, Hidup, Sebuah Tanya, dan juga beberapa puisi lainnya yang di dalam catatan hariannya tidak diberi judul.

Soe Hok Gie meninggal sangatlah di usia mudanya, yakni dia meninggal di usianya yang ke-26 tahun (wafatnya 16 Desember 1969), meninggal di Gunung Semeru saat melakukan pendakian bersama teman-temannya se-organisasi Mapala. Dan dia, walaupun hidup sesingkat itu, namun Soe Hok Gie adalah salah seorang tokoh aktivis demonstran yang harus mahasiswa tahu sejarahnya.

Tetapi walaupun begitu, seorang Soe Hok Gie adalah salah seorang aktivis yang akan tetap harum namanya akan semua yang telah ia torehkan dengan berbagai kontribusi dan perjuangannya di masanya serta prestasinya dalam semua aksi yang telah ia lakukan.