Pagi ini saya membeli susu kambing dari sebuah warung yang biasa saya kunjungi setiap pagi. Selain membeli susu, saya juga membeli tiga butir telur, yang biasanya saya rebus untuk dicampur dengan sepiring nasi. Itulah sarapan rutin saya. Susu, nasi dan telur. 

Sesekali kadang membeli bubuk gandum yang terletak tidak jauh dari flat tempat saya tinggal. Orang Mesir menyebutnya kuskusi. Kuskusi ini biasanya saya makan dengan susu yang saya beli dari warung tadi. Setelah itu baru menulis dan menjalani aktivitas seperti biasanya. Begitulah rutinitas yang saya jalani setiap pagi.

Perhatikan baik-baik. Dalam ilustrasi tersebut setidaknya saya menyebutkan empat macam makanan dan minuman, yang hampir saya konsumsi setiap hari. Yaitu nasi, susu, telur, dan kuskusi (bubuk gandum). 

Pertanyaannya: Apakah keempat macam makanan yang saya sebutkan tadi itu memiliki wujud yang nyata di alam luar? Jelas punya. Tidak perlu berpikir panjang untuk menjawab pertanyaan ini. Kalau tidak punya tidak mungkin saya makan. 

Nah, dalam istilah para filsuf, wujud nyata dari sesuatu yang berada di alam luar ini disebut dengan istilah wujud khâriji. Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti memiliki wujud itu.

Laptop yang saya pakai, buku yang saya baca, baju yang saya kenakan, air yang saya minum, lantai tempat saya duduk, kasur tempat saya tidur, itu semua adalah benda-benda yang memiliki wujud khariji (wujud eksternal). Istilah lainnya, wujud seperti ini sering juga disebut dengan istilah wujud ‘aini. Maknanya sama. Yakni wujud yang berada di alam luar, yang terpisah dari ide dan gagasan kita. 

Artinya, dengan meyakini hal itu, kita percaya bahwa benda-benda tersebut bukan hanya sekedar gagasan yang ada dalam benak manusia—seperti halnya yang diamini oleh para filsuf idealis—tapi dia benar-benar ada di luar pikiran kita. Itulah yang disebut dengan wujud khâriji.

Selain itu, masing-masing dari empat macam makanan tadi juga bisa saya bayangkan wujudnya dalam benak saya. Setelah saya membeli telur, dan telur itu saya makan, misalnya, nalar saya masih bisa membayangkan wujud telur itu, sekalipun telurnya sudah tidak ada. Begitu juga halnya dengan susu dan kuskusi. Kedua-duanya bisa saya bayangkan di dalam kepala saya. 

Karena itu, selain memiliki wujûd khâriji (wujud eksternal), masing-masing dari ketiganya juga memiliki wujud dzihni (wujud yang hanya ada di dalam nalar). Segala sesuatu, kalau Anda bayangkan, dan Anda pikirkan, pasti memiliki wujud yang kedua ini.

Terkait wujud yang kedua ini, para teolog dan para filsuf masih berbeda pendapat. Apakah dia benar-benar bisa dikatakan sebagai wujud atau tidak? Mutakallimûn (para teolog) menjawab tidak. Sementara para filsuf berkata iya. Tapi itu persoalan lain yang bisa kita diskusikan secara terpisah. Masing-masing punya dalil. 

Yang jelas, yang dimaksud dengan wujûd dzihni itu ialah wujud yang ada dalam nalar kita. Dia merupakan “pantulan” dari wujud yang berada di alam luar tadi. Semua benda yang ada di dunia ini, jika Anda bayangkan, akan melahirkan suatu wujud. Dan wujud itulah yang dimaksud dengan wujûd dzihni.

Selain bisa dibayangkan, masing-masing telur, susu dan kuskusi itu juga bisa saya lafalkan. Saya bisa berkata di hadapan Anda sekarang dengan menyebut kata telur, susu dan kuskusi. Semua benda yang ada di alam semesta ini bisa saya lafalkan, selama saya punya kemampuan untuk berbicara. Dan pelafalan saya juga termasuk wujud. 

Tapi wujud apa? Yang jelas bukan wujûd khâriji (wujud eksternal), juga bukan wujûd dzihni (wujud rasional). Para teolog menyebutnya dengan istilah wujûd lafzhi (wujud verbal). Singkatnya, dia adalah wujud yang hanya berupa pelafalan. Dan, wujud yang seperti ini sebenarnya hanya wujud metaforis saja, bukan wujud yang sesungguhnya.

Selain ada di alam luar, bisa dibayangkan, dan bisa dilafalkan, benda-benda yang memiliki wujud itu juga bisa ditulis. Sekarang saya menulis tiga kata tersebut di dalam artikel yang sedang Anda baca. Saya menulis kata telur, susu dan kuskusi. Bukankah sekarang Anda bisa membaca ketiga jenis makanan itu? 

Ya. Dan itulah yang disebut dengan istilah wujud katbi/khatthi (wujud tekstual). Singkatnya, wujûd katbi itu ialah wujud yang berupa tulisan. Sementara wujûd lafzhi adalah wujud yang berupa pelafalan. Dan keduanya, sebagaimana ditegaskan oleh Mahmud Abu Daqiqah, hanya wujud metaforis (wujûd majâzi), sementara wujud yang hakiki adalah wujûd khâriji tadi.

Itulah keempat istilah yang oleh para filsuf sering disebut dengan marâtib al-Wujûd (tingkatan wujud). Segala sesuatu itu berada di alam luar, dan ketika itu wujudnya disebut dengan wujûd khâriji (wujud eksternal). 

Kemudian terbayangkan dalam nalar, sehingga terlahirlah wujûd dzihni (wujud rasional). Lalu dilafalkan, sehingga lahirlah wujûd lafzhi (wujud verbal). Dan selanjutnya ia tertuliskan, dan ketika itu lahirlah wujûd katbi/khatthi (wujud tekstual).

Pertanyaannya: Tuhan memiliki keempat wujud itu atau tidak? Dalam hemat saya, keempat wujud ini hanya berlaku bagi mumkinât (hal-hal yang bersifat kontingen) saja. Artinya dia hanya berlaku bagi alam. Tidak berlaku bagi Tuhan. Sejak awal Tuhan sudah terkeluarkan dari pembagian ini.

Tuhan tidak mungkin memiliki wujûd dzihni. Sebab, wujûd dzihni itu merupakan wujud yang terbayangkan oleh nalar. Sementara Tuhan merupakan sesuatu yang tak bisa terbayangkan, dan tak akan pernah bisa terbayangkan. Wujûd dzihni itu berkaitan dengan esensi-esensi (mâhiyyât), sementara Tuhan tidak memiliki esensi. 

Apapun yang kita bayangkan tentang Tuhan, yang kita bayangkan itu pasti bukan Tuhan. Karena apa yang kita bayangkan itu merupakan ciptaan, sementara Tuhan tidak menerima keterciptaan.

Tapi bagaimana dengan wujûd khâriji? Apakah Tuhan memiliki wujud yang seperti itu? Tergantung seperti apa kita menerjemahkannya. Saya punya pandangan bahwa penyebutan frase “di alam luar” bisa jadi menimbulkan kesalah-pahaman bahwa Tuhan itu bertempat di alam luar. Karena itu, kalau yang dimaksud dengan wujûd khâriji itu ialah wujud Tuhan yang berada di alam luar, maka jelas itu kita tolak.

Tetapi, jika pemberlakuan wujud tersebut kepada Tuhan itu mengandung makna bahwa Tuhan memiliki wujud yang berdiri sendiri, bukan sekedar khayalan, independen, terlepas dari gagasan kita, tidak bertempat, tidak berarah, tidak berada di dalam maupun di luar alam, maka ketika itu bisa saja kita berkata iya. Tuhan memiliki wujûd khâriji, dengan pemaknaan seperti itu. Bahwa dia memilik wujud yang berdiri sendiri, bukan hanya sekedar imajinasi. 

Namun, secara pribadi saya memandang bahwa penyebutan wujûd khâriji itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Karena itu, sejak awal sebaiknya pembagian wujud ini hanya diberlakukan bagi mumkinât saja.

Lalu bagaimana dengan wujûd katbi/khathhi dan wujûd lafzhi? Seperti yang saya jelaskan tadi, bahwa dua wujud terkahir ini hanya wujud metaforis saja, bukan wujud yang sesungguhnya. Artinya, ketika saya melafalkan kata susu, misalnya, ataupun ketika menuliskannya, jelas bahwa apa yang saya lafalkan dan saya tulis itu tidak menunjuk wujud susu yang sesungguhnya. 

Keduanya hanya wujud metaforis saja, bukan wujud yang sesungguhnya. Bahkan wujûd dzihni pun, seperti yang saya katakan tadi, masih diperselisihkan. Yang layak disebut sebagai wujud sungguhan itu ialah wujûd khâriji tadi. Wujud yang berada di alam luar. Karena dia bisa melahirkan dampak-dampak yang nyata.

Karena itu, kalaupun kita bisa melafalkan kata Tuhan, ataupun menuliskannya dalam sebuah tulisan, apa yang kita tulis dan apa yang kita lafalkan itu jelas tidak menunjuk wujud Tuhan yang sesungguhnya. 

Tuhan itu bukan yang terlafalkan, bukan yang tertulis, bukan yang terbayangkan, juga bukan yang berada di alam luar. Tetapi dia adalah wujud yang berdiri sendiri, tidak berada di dalam alam, juga tidak berada di luar alam. Karena dia terbebas dari berbagai macam arah dan kebertempatan. Demikian, wallahu ‘alam bisshawâb.