Ada yang pernah mendengar tentang Christine de Pizan? Sempat terabaikan dan kemudian terlupakan, belakangan ini ia kembali jadi topik perbincangan di Prancis. 

Christine de Pizan adalah filsuf dan penyair Prancis kelahiran Italia yang hidup pada abad pertengahan. Ia lahir di Venesia pada tahun 1364 dan meninggal pada tahun 1430  (perkiraan) di biara Poissy. Kecerdasan dan khasanah pengetahuannya membedakannya dari penulis-penulis lain di zamannya. 

Popularitasnya semasa hidupnya menggapai seluruh Eropa. Ia dikenal sebagai penulis profesional perempuan pertama dan satu-satunya pada abad itu. Janda di usia 24 tahun, ia menghidupi dirinya dan keluarganya dari buah pena-nya. 

Karya-karya Christine de Pizan bukan karya-karya biasa, apalagi pada zaman itu. Bukan hanya tema-temanya dianggap sebagai tema "laki-laki" seperti politik dan militer, tetapi dalam tiap karyanya terkandung female virtue. Christine de Pizan mengandalkan ujung pena bukan semata untuk mencari nafkah. Tulisan-tulisannya menjadi alat baginya untuk menentang budaya misogini. 

Christine de Pizan aktif membela hak-hak perempuan dan menentang diskriminasi terhadap perempuan. Ia juga mengkritik penggambaran perempuan dalam karya sastra pada masa itu. Dengan tegas ia menyatakan bahwa ketidaksetaraan intelektual antara laki-laki dan perempuan tidak disebabkan oleh faktor bawaan melainkan karena faktor pendidikan/pengasuhan. 

Jika anak-anak perempuan mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar, mereka juga akan secerdas anak-anak laki-laki, tegasnya. Ia juga mengecam penggambaran perempuan yang negatif dalam literatur akibat wacana misogini, yang dianggapnya turut andil dalam menyebabkan ketidaksetaraan ini. 

Christine de Pizan juga bergabung dengan tokoh-tokoh pemegang kekuasaan (yang umumnya adalah laki-laki) dalam debat epistemologis terhadap karya Jean de Meung, Roman de la rose. Para feminis modern menobatkannya sebagai peletak cikal bakal feminisme (proto-feminisme).

Ayahnya, Thomas de Pizan, seorang dokter yang sangat terkenal. Beliau juga sering dipanggil sebagai pakar astrologi di Universitas Bolonia dan universitas-universitas di negara-negara lain. Pada tahun 1368, Raja Charles V memintanya datang ke Paris. 

Ia memenuhi panggilan ini dan memilih untuk tidak kembali ke Italia. Christine de Pizan, ibu, dan saudara-saudaranya pun menyusul kemudian. Sejak itu, mereka menikmati kehidupan dalam lingkungan kerajaan.  

Sedari kecil, Christine de Pizan sudah diperkenalkan pada dunia musik dan sastra. Kemudahan untuk masuk dalam perpustakaan kerajaan tidak disia-siakannya. Dari ayahnya, ia mewarisi gairah untuk belajar dan kehausan akan ilmu pengetahuan. Thomas de Pizan memang seorang pria yang berpikiran terbuka. 

Beliau juga peka dalam memahami kecerdasan dan antusiasme putrinya. Ia banyak mengajari dan menyemangati Christine de Pizan. Sementara ibunya yang konservatif lebih mengharapkan putrinya menjadi “perempuan biasa” yang mengikuti tuntutan norma. 

Pada tahun 1379, ketika Christine de Pizan berusia 15 tahun, ia menikah dengan Etienne Castel. Meski pernikahan ini adalah perjodohan, mereka saling mencintai. Thomas de Pizan sepertinya pandai memilihkan pasangan yang sepadan dengan putrinya. Etienne tidak berasal dari keluarga yang kaya raya, tetapi dihormati. 

Ia pemuda terpelajar dan berbudi pekerti. Ia menyelesaikan studinya dengan gemilang sehingga Raja Charles V pun mengangkatnya sebagai notaris. Ayah Christine melihatnya sebagai pemuda yang memiliki harta esensial : ilmu pengetahuan dan kepribadian luhur. 

Masih pada tahun yang sama, raja Charles V wafat; yang membawa konsekuensi pada kondisi perekonomian keluarga de Pizan. Meski tidak diabaikan secara total, keluarga ini mulai tersingkirkan. Situasi sosial ekonomi mereka memburuk ketika tujuh tahun kemudian, Thomas de Pizan meninggal. 

Masih di tahun yang sama, Etienne Castel juga meninggal akibat wabah. Pada usia 24 tahun, Christine de Pizan menjadi janda, dengan tiga anak, ibu, dan satu keponakannya berada di bawah tanggungannya. 

Christine de Pizan sempat mengalami depresi selama kurang lebih setahun, sebelum akhirnya ia bangkit untuk menghidupi keluarganya. Selama kurang lebih 14 tahun, ia jatuh bangun mencari nafkah. Penghasilannya hanya pas-pasan. Ayah dan suaminya tidak banyak meninggalkan warisan, dan yang sedikit inipun, Christine de Pizan masih harus berjuang untuk mendapatkannya melalui proses hukum yang panjang. 

Belum lagi, ia masih harus menghadapi cemoohan masyarakat karena statusnya sebagai janda yang menolak untuk hidup dalam biara dan menolak untuk menikah kembali. Namun, selama masa-masa sulit ini pula, ia mempelajari secara mendalam berbagai topik mulai dari sejarah, politik, hingga kemiliteran; topik-topik yang (terutama) pada zaman abad pertengahan hanya ditekuni oleh laki-laki. 

Pada tahun 1402, Christine de Pizan mulai mempelajari filosofi. Ia juga mendalami budaya laik dan puisi. Kumpulan lirik pertamanya, Le livre de cent ballades, mendapatkan sukses besar. 

Kumpulan lirik ini berbicara mengenai dukanya atas kepergian suami serta kondisi perempuan di tengah kehidupan istana yang kejam. Ia mulai mendapatkan perhatian dari tokoh berpengaruh seperti Jean de Berry dan Louis 1er dari Orleans. Berkat kegigihannya, ia mulai dikenal publik. 

Christine de Pizan sangat produktif; ia menghasilkan puluhan karya sepanjang hidupnya. Meski dalam banyak karyanya, ia berbicara mengenai kondisi perempuan, hanya dua buku yang mengantarkannya pada predikat “pelopor perjuangan hak-hak perempuan”: La cité des dames (diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai The Book of the City of Ladies ) dan Le livre des trois vertue à l’enseignement des dames (dikenal pula dengan judul Le trésor de la cité des dames, diterjemahkan dalam bahasa Inggris:  The Treasure of the City of Ladies).  Keduanya ia tulis pada tahun yang sama (1405).

Dalam La cité des dames, Christine de Pizan memaparkan kehidupan 159 figur perempuan, di antaranya adalah Maria Magdalena, Ratu Saba, Isis, dan Julia putri Caesar. Melalui buku ini, ia ingin menunjukkan bahwa perempuan juga berkontribusi secara signifikan dalam kehidupan bermasyarakat. 

Buku ini merupakan tanggapannya terhadap paparan misogini dalam salah satu bab dalam buku Roman de la rose yang ditulis Jean de Meung. Buku ini disebut-sebut sebagai buku yang pertama kalinya membahas tentang sejarah perempuan, secara lengkap pula. 

Sedangkan dalam Le trésor de la cité des dames, yang dikenal sebagai buku panduan pendidikan perempuan, Christine de Pizan mengajarkan kepada setiap perempuan, siapapun dia, terlepas dari status atau profesinya, entah biarawati atau pelacur, entah menikah atau lajang, untuk mengembangkan nilai-nilai keutamaan perempuan. 

Salah satu pesannya yang terkenal dalam buku ini adalah : perempuan sedapat mungkin hendaknya menghindari hal buruk. Jika tidak mungkin, hendaknya dapat meminimalisir konsekuensi buruk yang dapat terjadi. Tetapi jika suatu waktu tidak dapat menghindari hal buruk ataupun meminimalisir dampaknya, perempuan harus menjalani situasi sulit ini dengan keberanian. Kehidupan Christine de Pizan tampaknya menjadi contoh nyata untuk pesannya ini.