Nama Ch. Rapaport tidak akan kita temukan dalam buku sejarah karena memang namanya tidak dihubungkan dengan peristiwa heroik yang kerap menghiasi sejumlah buku sejarah, khususnya di era Hindia Belanda.

Ch. Rapaport adalah seorang pengusaha Belanda (keturunan Yahudi) yang namanya banyak dilaporkan sejumlah iklan dan artikel koran berbahasa Belanda yang secara tidak sengaja saya temukan.

Begitu seringnya nama Rapaport muncul dengan sejumlah bisnis yang dikerjakannya menuntun saya mengumpulkan sejumlah data secara induktif sehingga mendapatkan sketsa historis bidang usaha yang dikerjakan oleh Rapaport di Gombong.

Hasil sketsa historis mengenai Rappaport telah saya tuangkan dalam dua artikel berjudul Hotel untuk Para Meneer dan Mevrouw di Kebumen dan Gombong Era Kolonial dan Melacak Jejak dan Kisah di Sempor: Dari Sempor Ajer Blanda, Pemandian Air Panas hingga Waduk.

Karena dua artikel tersebut, akhirnya seorang bernama Uri Rapaport (cicit Ch. Rappaport) yang tinggal di Belanda dan berkebetulan ingin mengetahui lebih banyak jejak leluhurnya tersebut secara tidak sengaja menemukan tulisan saya dan menghubungi melalui seorang perantara. Dalam pertemuan dengan Uri Rappaport (29 Juli 2019), diperoleh sejumlah data yang masih missing link selama ini, yaitu latar belakang Ch. Rappaport.

Oleh karena itu, artikel ini ingin menggabungkan antara sketsa historis bisnis Ch. Rapaport di Gombong yang telah dimulai sekitar 1895-an hingga 1915-an melalui pelacakan sejumlah artikel dan berita surat kabar berbahasa Belanda dan informasi mengenai latar belakang kehidupan Rapaport yang diceritakan oleh Uri Rapaport, cicit Ch. Rapaport.

Sejarah bukan soal peristiwa peperangan belaka. Bukan pula sekadar dokumen yang ditandatangani oleh oleh-orang besar yang menentukan arah tujuan sebuah bangsa. Sejarah bukan sekadar peristiwa politik, melainkan peristiwa sosial dan dinamika ekonomi.

Ketika berbicara mengenai peristiwa sosial dan dinamika ekonomi, ada kelas-kelas penggerak kehidupan sosial dan ekonomi yang bukan hanya kelas ningrat dan berkuasa, melainkan kelas menengah, termasuk sejumlah pelaku ekonomi, entah itu orang Eropa atau Inlander (pribumi). 

Jika Kebumen memiliki sosok pekerja keras dan pengusaha genting ternama bernama Aboengamar (Teguh Hindarto, Aboengamar: Eksportir Genting Pribumoi dari Sokka), maka Gombong memiliki Ch. Rapaport.

Menuliskan kepingan kehidupan dan bisnis Rapaport bukan sekadar untuk mengenal sosok Rapaport, namun juga mengenal sebuah distrik bernama Gombong yang pernah menjadi bagian wilayah Kabupaten Karanganyar (sekarang masuk wilayah Kabupaten Kebumen). Ada banyak gedung dan rumah tua serta pusat militer yang hanya dapat dimengerti historisitasnya dengan melacak kembali ke masa lalu.

Itulah sebabnya kehidupan dan bisnis Rapaport perlu dituliskan. Karena secara tidak langsung nama-nama lokasi gedung di mana Rapaport pernah ada saat ini masih ada di tengah-tengah hiruk pikuk aktivitas penduduk dan bangunan modern lainnya. Nama gedung dan sejumlah aktivitas sosial ekonomi dapat memberikan konteks di masa lalu.

Siapakah Ch. Rapaport?

Nama lengkap beliau adalah Chaskel Rapaport. Koran-koran berbahasa Belanda hanya menuliskan “Ch. Rapaport”. Beliau dilahirkan tahun 1864 di Tarnopol (Galicia) yang sekarang bernama Ukraina. Beliau wafat pada 28 Februari 1921 di Gombong, namun dikebumikan di sebuah pemakaman Yahudi di Semarang.

Menurut Uri Rapaport, Chaskel Rapaport memiliki seorang ayah bernama Chaskel yang beristrikan Clara (Rapaport), seorang wanita kelahiran Gombong 5 November 1896 dan wafat 17 Oktober 1977 di Voorburg Belanda.

Ch. Rapaport menikahi seorang wanita bernama Bertha (Rappaport) kelahiran 27 Juli 1882 (Tarnopol) dan meninggal pada 1957 di Rotterdam. Dari hasil pernikahan mereka berdua diperoleh enam anak dan satu anak adopsi. Nama anak-anak mereka adalah sbb: Maksi, Betty, Zusje, Mien, Lien Rosa, Selma, dan Frederyca

Ch. Rapaport memulai karier sebagai seorang prajurit di pasukan KNIL dan kemudian membuka sebuah Toko di Gombong. Tidak banyak informasi yang dapat diketahui selama bertugas di militer KNIL. Kemudian Rapaport membeli tempat itu dengan seorang pria Tionghoa bernama Liem Tiong Ing.

Sebelum saya lanjutkan, perlu disinggung sejenak nama Liem Tiong Ing. Namanya tidak bisa dilepaskan dari sebuah keberadaan bangunan Indische Empire di Jalan Sempor lama 28 yang sekarang dikenal dengan Roemah Martha Tilaar.

Bangunan tua ini dibangun sejak 1920 oleh keluarga Liem Siauw Lan. Keluarga Liem Siauw Lan ini pada masanya terkenal sebagai keluarga Tionghoa yang sangat kaya di Gombong. Liem Siauw Lan dikenal sebagai pengusaha ulung di daerah tersebut. Beliau dikenal sebagai pemasok susu dan daging untuk tangsi Belanda di Fort Cochius (sekarang disebut Benteng van Der Wijck) di Gombong.

Liem Siauw Lan ini mempunyai tiga orang anak, yakni Liem Tiong Ing, Liem Bok Lan dan Liem Trima Nio. Ibu Martha Tilaar yang dikenal seorang pengusaha kecantikan merupakan cucu dari Liem Siauw Lan dari keturunan Liem Bok Lan dengan Yakob Handana. Dengan demikian, Liem Tiong Ing adalah paman dari ibu Martha Tilaar.

Bisnis Rapaport di Gombong

Kembali kepada Ch. Rappaport. Beberapa bisnis yang pernah dilakoninya al, toko barang kebutuhan sehari-hari, pabrik minuman limun dan air mineral. Jasa pemotongan daging hewan di tokonya. Bisnis hotel dan pemandian air panas.

Toko Limun dan Air Mineral

Bisnis air mineral dan limun Ch. Rapaport sudah terlacak dalam iklan yang dimuat surat kabar De Locomotief (3 Desember 1895). Kemungkinan Rapaport hanya menjualkan produk orang lain di tokonya.

Selain air sirup/limun, Rapaport juga memiliki toko yang menjual aneka ragam makanan, termasuk daging dalam iklan “Toko Rapaport” sebagaimana dilaporkan koran De Locomotief (22-04-1895). Toko Rapaport pun sekaligus menjadi rumah penyembelihan hewan (Centraal-Slachterij) dan hewan tersebut dikirim ke seluruh Jawa dengan jasa kereta api (De Locomotief, 07-01-1899).

Toko Rapaport tercatat mengiklankan penjualan senapan dan peluru dalam iklan berjudul Gombongsche Geweer en Munitiehandel (Penjualan Senapan dan Peluru di Gombong) yang dimuat koran De Locomotief (19-09-1902). 

Pada 1906, toko Rapaport pernah mengalami penipuan pembelian dengan adanya bon palsu (valsche bons) oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang memang sedang marak pada zaman itu sebagaimana dilaporkan Het Nieuws (18-01-1906) sbb:

“De tokohouder Rapaport te Gombong, anders een bizonder secuur man van zaken, is de dupe geworden van een of meer brutale oplichters, die tegen afgifte van valsche bons zich een schuif barang uit die toko hebben doen afgeven.”

“Pemilik toko Rapaport di Gombong, bukan orang yang sangat teliti dalam bisnis, telah menjadi korban satu atau lebih penjahat nakal, yang telah menggunakan bon palsu, mengambil barang yang dikeluarkan dari toko.”

Mengelola Bisnis Air Mineral Sempor

Pada suatu hari, Ch. Rapaport bermimpi tentang sebuah harta karun di hutan dan akhirnya dia menemukan yang dimaksudkan, yaitu sebuah mata air hangat yang akhirnya dibeli dari penduduk setempat. Kemudian dia membuat kamar pemandian yang jaraknya sejauh 6 km dari kota Gombong. Dia membuat iklan untuk mendapatkan pengunjung ke tempat ini.

Dalam sebuah berita koran, Het Nieuws  (29 April 1907) dengan judul Mineraalwaterbron (Sumber Mata Air Mineral) disebutkan perihal penemuan sumber air mineral. 

Menurut laporan koran tersebut bahwasanya kualitas air mineral tersebut telah dianalisis oleh seorang ahli dari Batavia bernama Mr. Rathkamp dan dinilai, “is het een zeer gezond water dat met de beste Europeesche bronwateren kan wedfl veren” (air yang sangat sehat yang dapat bersaing dengan perairan mata air Eropa terbaik).

Disebutkan bahwa keberadaan air mineral ini akan segera dipasarkan dan dikirim ke Semarang, Batavia, dan Surabaya. Jika di tahun 1907 belum disebutkan siapa pemilik dan pengelola air mineral yang ditemukan di Desa Sempor, maka pelacakan koran Algemeen Handelsblad (15 Mei 1912) telah menyebut satu nama, yaitu Ch. Rapaport.

Dalam laporan koran ini disebutkan bahwa sebelum Ch. Rapaport menjadi pemilik dan pengelola perusahaan air mineral ini, sumber mata air ini menjadi pokok perselisihan kepemilikan dan pengelolaan hingga Rapaport kemudian mengambil alih.

Bisnis air mineral Rapaport banyak mengalami kendala di bidang transportasi sehingga harga jual yang ditawarkan tidak terjangkau oleh para pembeli. Belum lagi bisnis es krim oleh sejumlah orang Tionghoa mulai menarik konsumen.

Rapaport kemudian mengusulkan ke pihak pengelola Staat Sporwagen untuk membangun jalur kereta api dari Gombong ke Sempor, sebagaimana disebutkan dalam berita koran sbb: 

“Ini bukan bisnis seperti perusahaan Apollinaris di Neuenahr di wilayah Rhine, tetapi operator berusaha untuk memperoleh pasar yang lebih besar untuk Sempor-ajerblanda. Bagaimanapun, sangat sulit di perusahaannya karena tidak adanya jalur kereta api antara Sempor dan Gombong.”

Ketika kita membaca penggalan berita di atas ada sebuah istilah yang mungkin membuat kita bingung, yaitu “Sempor ajerblanda” atau “ajer-blanda”. Istilah “ajer-blanda” artinya “air Belanda”, yaitu sebuah istilah untuk “air mineral”.

Bisnis Hotel

Koran De Preangerbode (1 November 1915) melaporkan sebuah iklan keberadaan hotel bernama Hotel Rapaport dan diberikan keterangan, “In de Onmiddellijke Nabijheid van toko Rapaport” (di sekitar Toko Rappaport).

Namun demikian, sebelum tahun 1915 sebagaimana laporan iklan koran Het Nieuws (14 Oktober 1910), nama Rapaport muncul sebagai sebuah pengelola hotel (tanpa menyebutkan nama hotelnya) dengan menyediakan sebuah keistimewaan, yaitu pemandian air panas untuk proses kesembuhan penyakit. Selengkapnya iklan tersebut berbunyi:

“Pemandian Air Panas Berkarbonasi di SEMPOR

Sangat luar biasa untuk penderita saraf dan asam urat, serta meningkatkan nafsu makan. Penginapan mandi ini, yang juga terhubung ke sebuah hotelL, terletak pada jarak 4 1/2 paal (4 1/2 x 1.705= 6,781,5 (6,8 km) dari Gombong. Informasi dapat diperoleh dari Ch. RAPAPORT Pemilik di Gombong.”

Hotel milik Rapaport tampaknya ada yang berlokasi di pusat kota Gombong dan tidak berjauhan dengan Toko Rapaport, sementara hotel yang satu lagi yang berada di kawasan Sempor dengan fasilitas pemandian air panas sebagaimana disebutkan dalam iklan.

Keberadaan hotel ini telah dimulai sejak tahun 1910 sebagaimana disebutkan dalam sebuah artikel dengan judul Het Sempor Hotel Nabij Gombong (Hotel Sempor Dekat Gombong) yang diterbitkan koran De Locomotief (07-04-1910) yang menuliskan kunjungan beberapa orang Cilacap yang membaca iklan Rapaport di sebuah majalah sebagaimana dikatakan:

“Tertarik oleh iklan di majalah Anda, beberapa keluarga memutuskan untuk melakukan perjalanan ke hotel dan pemandian air panas yang baru dibuka ini bersamaan dengan Hari Paskah. Berangkat dari Tjilatjap pada pukul 7.30, kami tiba di Gombong pada pukul 10 pagi.”

Menariknya, dalam artikel ini diberikan sebuah deskripsi yang cukup lengkap mengenai lokasi dan isi bangunan hotel dan pemandian air panas ini sbb:

“Kami berharap melihat semacam pasanggrahan dan karenanya kami kagum melihat bangunan batu yang indah di depan kami. Bangunan itu dibangun tinggi di atas tanah. Di tengah ada ruang biliar dengan biliar yang bisa dimainkan dan piano, dan kami disambut di sana oleh manajer, Tuan Dirks, yang segera menjadi pria yang sangat membantu.

Di kedua sisi ruang biliar ada 4 kamar tamu, yang dilengkapi dengan baik. Bahkan di kamar tidur ada mata air dan Anda hanya perlu membuka keran di atas meja cuci untuk memberi Anda air cuci.”

Demikianlah sekelumit gambaran mengenai kehidupan dan bisnis Rapaport yang cukup berkembang dengan tidak hanya memiliki toko melainkan hotel dan kolam mata air dan pemandian air panas di sebuah hotel di Sempor.

Pewaris Rapaport

Toko Rapaport dijalankan oleh Chaskel Rapaport namun saat putrinya menikah dengan Josef (Rapaport) (kakek Uri Rapaport) sekitar tahun 1919, kelak Josef menjadi manajer baru dan setelah Chaskel meninggal pada tahun 1920, Josef (Rapaport) mengembangkan bisnis lebih banyak lagi.

Ch. Rapaport meninggal pada tanggal 28 Februari 1920 di Gombong namun menurut pengakuan Uri Rapaport beliau dikebumikan di Semarang. Karena beliau seorang Yahudi dan di Semarang ada pekuburan Yahudi maka beliau dikebumikan di sana.

Mengenai keberadaan orang Yahudi di Gombong dapat membaca artikel saya, Orang Yahudi di Gombong Era Kolonial.

Suatu ketika Josef menjual hotel dimana ada mata air panasnya ke seorang tentara KNIL. Keluarga mereka meninggalkan Gombong dengan tiga orang anak kecil sekitar tahun 1930. Mereka pindah ke Bandung dan Josef bekerja sebagai penjual seperti yang dia lakukan di Gombong.

Dia memiliki sebuah perusahaan bernama Eigen Hulp dan sebuah Restoran Hotel di bernama Shanhai di Djalan Braga 67, yang dibelinya bersama orang-orang Tionghoa dari Gombong yang bekerja dengannya sebelumnya. Josef sebenarnya adalah putra saudara lelaki Chaskel yang bernama Moses Rapaport (1896-1956).

Sejumlah iklan barang antik berupa botol minuman mineral dengan nama “J. Rapaport” tersemat di bawah botol kaca masih dapat ditemukan menjadi jejak perjalanan bisnis air mineral putra Ch. Rapaport yaitu Josef Rapaport (kakek Uri Rapaport).

Sampai di sini kisah Ch. Rapaport berakhir. Namun sejumlah data dan fakta lain yang belum ditemukan menunggu disingkapkan untuk melengkapi sketsa historis Rapaport dan kehidupan sosial ekonomi di Gombong tahun 1900-an yang kala itu masih menjadi sebuah distrik dari Kabupaten Karanganyar.