Beberapa tahun terakhir, Kampung Inggris, Pare, Kediri, menjadi sangat terkenal sebagai tempat untuk belajar Bahasa Inggris. Tak terhitung lagi banyaknya orang yang tertolong, entah untuk persiapan kerja, maupun untuk study lanjut di luar negeri dari tempat ini. Studying abroad is everyone’s dream. Itulah sebabnya, Pare selalu ramai dikujungi oleh orang-orang yang ingin belajar Bahasa Inggris.

Saya akhirnya berkesempatan untuk belajar di Pare pada bulan Mei 2018. Di Pare, ada banyak lembaga kursus. Tempat kursus ada di mana-mana. Saya sendiri, menjadi siswa di Titik Nol English Course. Saya memilih lembaga tersebut, karena saya sedang persiapan untuk real test TOEFL. Alasan lain, seorang teman yang sedang belajar di Boston University, mengarahkan saya untuk belajar di Titik Nol. 

Setiap orang yang hendak datang ke Pare, sebaiknya telah mengetahui apa tujuannya datang ke Pare. Hal ini penting, agar kita bisa menentukan di lembaga mana akan bergabung. Karena, di Pare begitu banyak lembaga kursus yang memiliki kekuatan dan fokus tersendiri. Ada yang fokus pada ketrampilan speaking. Ada yang penguatannya pada grammar. Titik Nol, adalah lembaga kursus yang berfokus pada TOEFL dan IELTS.

Salah satu “mitos” yang berkembang di luar Pare adalah di tempat ini, semua orang menggunakan Bahasa Inggris. Saya bisa pastikan, itu bohong! Sejauh ini, saya hanya menemukan dua atau tiga penjual yang menggunakan Bahasa Inggris. Selebihnya, sama seperti di beberapa tempat di Indonesia, menggunakan Bahasa Indonesia.

Sekarang, saya ingin menjelaskan metode pembelajaran di kelas. Perlu saya tekankan sekali lagi bahwa ketika saya membicarakan metode, saya hanya akan berbicara sesuai pengalaman saya di Titik Nol English Course. Ini penting, karena setiap tempat kursus memiliki sistem pembelajaran yang berbeda-beda. Sekali lagi, Titik Nol bukanlah satu-satunya tempat kursus, dan saya tidak punya hak untuk mengatakan inilah tempat kursus terbaik di Pare.  

Titik Nol English Course memilki ruang belajar yang, menurut saya sendiri cukup nyaman. Kelas yang ditawarkan juga cukup beragam dan bertahap: basic, intermediate, pre-TOEFL dan IELTS. Kelas disesuaikan sesuai kemampuan dan kebutuhan kita masing-masing. Kita harus menyadari bahwa memelajari bahasa yang bukan bahasa kita sendiri adalah sesuatu yang sulit. Bahkan, jika harus jujur, menggunakan bahasa sendiri saja kita kesulitan. Embus atau hembus kita mungkin tidak tahu mana yang benar. Nah, apalagi jika harus memelajari yang bukan bahasa kita. Sudah dapat dipastikan, kesulitannya lebih parah lagi! Tak ada jalan lain, nikmatilah setiap proses yang ada. Sesederhana itu.

Setiap hari, di Titik Nol, ada lima kelas yang saya ikuti. Bagi yang malas bangun pagi, di tempat inilah kita belajar untuk bangun lebih awal, karena kelas biasanya dimulai pada pukul 06:00 pagi. Perlu diketahui, di sini juga ada pembagian kelas sesuai tahapan. Setiap tahapan, tentu memiliki program dan metoe belajar yang berbeda. Misalnya, untuk kelas basic, awal kelas akan dimulai dengan percakapan menggunakan Bahasa Inggris, dan, wajib menyetor hafalan. Lalu, biasanya akan dilanjutkan dengan kelas lain seperti: grammar, reading, speaking and vocabulary. Di kelas Pre-TOEFL atau IELTS, grammar tinggal diterapkan dalam soal structure, writing, dan speaking.

Selain belajar Bahasa Inggris, hal penting yang tidak boleh dilewatkan di Pare adalah kesempatan belajar banyak hal dari orang-orang yang kita jumpai. Pare adalah tempat berkumpulnya banyak anak muda. Entah yang masih kuliah ataupun yang telah menyelasaikan tugas belajarnya di universitas dalam negeri maupun luar negeri. Dalam pada itu, kita akan banyak menjumpai banyak anak muda yang memilki visi yang segar untuk membangun masa depan Indonesia untuk jauh lebih baik.

Ruang diskusi tercipta entah di kelas ataupun di warung kopi. Tetapi, justeru dari situlah, saya melihat masa depan Indonesia yang jauh lebih baik. Ada yang bergumul ingin memajukan pendidikan. Ada yang bergumul ingin memajukan pelayanan kesehatan. Intinya, banyak anak muda yang sedang belajar di Pare, ingin melihat dan membangun masa depan bangsa ini menjadi jauh lebih baik.

Ruang untuk berjumpa dengan orang yang beragama lain, juga terbuka lebar di Pare. Saya sendiri mengalami langsung hal ini. Sebagai seorang Kristen, saya banyak berjumpa dengan teman-teman yang bukan beragama Kristen. Kami saling belajar. Bahkan, bukan hanya sekadar pada hal-hal yang praktis, tetapi juga mendiskusikan hal-hal yang bersifat doktriner. Tak ada ruang yang merasa agamanya paling superior. Menurut saya, hal ini perlu menjadi perhatian serius, mengingat di masa yang akan datang, nasib Indonesia akan ditentukan oleh anak-anak muda, yang mungkin saat ini sedang belajar di Pare.

 Saya melihat, gesekan antar umat beragama selain karena kurangnya pengetahuan akan teologi lintas agama, juga disebabkan karena sikap para pemimpin dan orang yang memiliki pengaruh terhadap umat, yang tidak terbiasa berjumpa dengan orang yang beragama lain. Hal tersebut, bisa saja karena sebelum menjadi pemimpin, seseorang tidak terbiasa berjumpa dengan orang yang beragama lain. Saya selalu membayangkan, jika ke depan Indonesia dipimpin oleh beberapa orang yang saya jumpai, lagi-lagi, saya percaya bahwa di masa yang akan datang, Indonesia akan jauh lebih baik.

Tentu, selain hal yang menarik, Pare juga memilki kekurangan. Layaknya beberapa tempat lain, ketika belajar, kita mungkin akan mudah sekali dirundung galau. Tugas banyak. Perasaan yang selalu merasa seperti tidak ada kemajuan dalam berbahasa selalu ada, sehingga hal tersebut membuat seseorang merasa tertekan. 

Beberapa teman, khususnya yang berasal dari luar Jawa, mengeluhkan sulit menyesuaikan makanan. Saya justeru melihat, hal tersebut jangan ditolak. Melalui hal itulah, sesungguhnya orang bisa belajar. Belajar menerima. Belajar tegar. Belajar mengatasi masalah sendiri, maupun belajar mengatasi masalah bersama tanpa memandang agama, suku atau kelompok.

Terakhir, saya hanya ingin berkata, Pare bukan hanya tempat untuk meningkatkan kemampuan intelektual. Pare juga  adalah tempat menempah karakter, jati diri dan spiritualitas. Karena intelektual harus dibarengi dengan keseimbangan spiritual. Dan spiritual, itu mewujud dalam laku hidup sehari-hari, termasuk dalam merespon keadaan yang ada. Karena pintar saja tidak cukup!