Beberapa daerah di Indonesia mungkin sudah kebal dengan banjir. Boleh jadi di daerah seperti Bukit Duri, Kampung Pulo, Kampung Melayu banjir adalah agenda tahunan yang jika meleset sebentar saja dari jadwalnya bisa menjadi buah bibir bagi beberapa penduduk. Menjadi pertanyaan-pertanyaan dengan nada heran dari mulut ke mulut.

Padahal harusnya banjir adalah sesuatu yang tidak ditunggu kedatangannya, ia merugikan, menghambat aktivitas, menimbulkan penyakit, sehingga ketidakhadirannya adalah sesuatu yang patut disyukuri.

Hal tersebut bukan karena tidak adanya rasa kemanusiaan melainkan karena bencana ini sudah terjadi bertahun-tahun. Sehingga para korban terdampak banjir pun mulai bisa beradaptasi dengan keadaan tersebut.

Bencana banjir melanda daerah yang sama setiap tahun, alih-alih berkurang justru banjir makin melebar tiap tahunnya. Respons dari masyarakat terhadap banjir pun sama setiap tahunnya, baik yang terdampak langsung maupun tidak langsung.

Beberapa korban yang telah membangun rumahnya menjadi hunian tingkat dua, akan memindahkan harta bendanya ke lantai atas. Warga lain yang tidak seberuntung itu akan mengungsi di pengungsian terdekat. Relawan dalam sekejap saja sudah siaga di posko-posko untuk mengevakuasi korban dan menyalurkan bantuan.

Perusahaan-perusahaan baik BUMN maupun swasta dan partai politik akan mengirimkan bantuan berupa fasilitas maupun dana segar. Organisasi-organisasi mahasiswa juga tidak luput berpartisipasi dengan menyebar poster-poster penggalangan dana di kampus masing-masing sebelum disalurkan kepada korban.

Atas nama kemanusiaan, seluruh rakyat berpartisipasi membantu korban banjir.

Tentu saja hal semacam ini tidak luput dari perhatian media massa. Tiap kedatangannya, media massa seperti Kompas, Viva, SINDO, Liputan 6 menyiapkan rubrik khusus untuk mempublikasikan berita-berita baru. Mengundang banyak mata untuk menatap dan mengiba kepada para korban. Sungguh cerminan baik dari salah satu ideologi negara, kemanusiaan yang adil dan beradab.  

Manusia memang ciptaan yang sempurna. Diciptakan dengan memiliki perasaan dan akal sehat. Maka dari itu timbul kata kemanusiaan yang secara bahasa berarti sifat-sifat manusia. Bahkan seekor binatang yang hanya memiliki naluri pun akan iba melihat kawanannya terluka atau tertimpa musibah. Tentu manusia lebih dari itu.

Andai saja manusia tidak bisa berbuat lebih, bukan tak mungkin kalau kata kemanusiaan akan diganti dengan kehewanan atau kebinatangan atau semacamnya. Karena memang sudah fitrah seorang manusia sebagai makhluk sosial untuk saling mengasihi satu sama lain. Untuk menjunjung rasa kemanusiaan. Apalagi hal-hal semacam itu sudah dipupuk sejak kecil, untuk berbuat baik, tolong-menolong, bergotong-royong.

Sayangnya manusia sering terbuai setelah melakukan satu tindakan baik. Seolah menjadikan seseorang jauh lebih baik karena telah melakukan sesuatu atas nama kemanusiaan. Seringnya luput untuk mengingat bahwa banjir tersebut datang tiap tahun bukan tanpa alasan.

Bahwa seharusnya, jika benar-benar memiliki rasa kemanusiaan maka tidak ingin membiarkan para korban mengalami hal yang sama di tahun berikutnya. Bahwa seharusnya sesama manusia berhak memiliki tempat tinggal yang terlindung dari dingin, terbebas dari ancaman penyakit.

Tapi sayangnya lebih banyak yang menolak untuk menerima kenyataan ini. Terlalu banyak manusia yang menganggap perilaku kemanusiaannya selesai seiring surutnya luapan air. Lebih banyak manusia yang bertindak mengatasnamakan kemanusiaan tanpa disertai dengan ketulusan. Perihal yang seharusnya tidak bisa dipisahkan dari kemanusiaan.

Organisasi-organisasi mahasiswa maupun lembaga-lembaga masyarakat yang memberikan dana bantuannya akan mempublikasikan kegiatan itu sejadi-jadinya. Dengan foto simbolik yang khas ketika menyalurkan bantuan, menjabat tangan dan memberikan bantuan yang telah dilabeli dengan nama organisasi. Kemudian dalam waktu beberapa menit saja foto tersebut akan menjadi viral di kalangan masing-masing.

Ini bukan hal yang salah memang. Mendokumentasikan kegiatan sebuah organisasi adalah hal yang harus dilakukan sebagai bukti keaktifan organisasi juga acuan untuk kegiatan-kegiatan berikutnya. Namun jika hanya itu maksudnya, apakah label sebuah organisasi harus disertakan dalam sebuah foto? Juga mereka yang telah menyisihkan uangnya namun dengan santai masih membuang sampah di saluran-saluran air.

Hal itu juga berlaku bagi perusahaan dan partai-partai politik. Pada Januari 2014 kedapatan salah satu kader partai politik membagikan bantuan berupa biskuit yang  bertuliskan nama dan jabatan dalam pemerintahan serta data keikutsertaannya pada pemilu legislatif berikutnya. Bukti bahwa bantuan-bantuan tersebut tidak benar-benar tulus diberikan.

Padahal dalam buku panduan Sphere Project (2004) yang dijabarkan oleh International Committee of the Red Cross (ICRC) terdapat sepuluh substansi kententuan perilaku petugas kemanusiaan yang salah satu diantaranya, yaitu: Bantuan tidak boleh digunakan untuk kepentingan politik maupun agama. 

Tidak berhenti sampai di sana. Beberapa orang yang tergabung dalam perusahaan-perusahaan besar maupun elit politik yang mempunyai kekuatan finansial, justru menggunakan uangnya tanpa mempertimbangkan kemanusiaan.

Banjir Jakarta yang selalu dipengaruhi curah hujan di Bogor dan buka tutupnya Bendungan Katulampa misalnya. Perkebunan teh dialihfungsikan menjadi bangunan. Banyak vila didirikan di sekitar hulu Sungai Ciliwung, yang semula adalah daerah resapan air.

Tim Ekspedisi Ciliwung Kompas 2009 dalam bukunya menuturkan telah terjadi penyusutan lahan perkebunan teh sekitar 240 hektar di kawasan Puncak. Hanya untuk membangun vila atau rumah yang belum tentu ditinggali setiap hari. Termasuk sejumlah nama besar yang mengikuti bursa pemilihan calon Presiden Republik Indonesia tahun 2009, diketahui membangun vila nan megah di dalam areal perkebunan teh. 

Selain berdampak pada banjir, berkurangnya perkebunan teh juga berarti berkurangnya penghasilan para pemetik daun teh. Jika memang iba kepada korban banjir, mengapa uang itu digunakan untuk mendatangkan banjir?  Lalu di mana letak kemanusiaan yang selalu diumbar ketika bencana itu datang?

Andai saja manusia tidak memisahkan ketulusan dari kemanusiaan. Mungkin banjir itu semakin surut tiap tahunnya. Mungkin tidak ada aksi-aksi warga yang dilakukan hanya untuk menjaga satu-satunya lahan tempat bergantung hidup.

Lahan yang ingin dikuasai sebuah perusahaan, dengan lagi-lagi mengatasnamakan kemanusiaan. Menggunakan semboyan klise, untuk menaikkan taraf hidup. Baik melalui wisata maupun pembangunan pabrik yang menjanjikan menggunakan tenaga kerja lokal sebagai sumber dayanya.

Kenyataannya taraf hidup warga sekitar justru semakin terpuruk setelahnya. Mungkin tidak ada lagi industri-industri yang meracuni masyarakat dengan limbah-limbah yang seenaknya dilepas ke aliran air. Mungkin tidak ada lagi tong sampah dadakan di sudut-sudut jalan, di kolong-kolong jembatan, atau sungai sekalipun.

Jika benar manusia bertindak atas nama kemanusiaan, mengapa banyak yang merudapaksa hak hidup manusia lainnya? Lalu di mana letak kemanusiaan yang selalu diumbar ketika bencana itu datang?

#LombaEsaiKemanusiaan