Salah satu aturan main di dunia ini adalah, makin banyak jumlahnya, makin murah bayarannya. Setidaknya itu berlaku untuk dunia buruh—jenis pekerjaan mayoritas dunia. Aturan main kedua adalah, makin banyak jumlahnya, maka makin menentukan kelangsungan hidup.

Karena kebelum-sanggupan kita dalam merumuskan aturan cara hidup yang baru, maka kita belum dapat membayangkan bagaimana bumi ini tanpa buruh? 

Tanpa seniman, dunia akan tetap berjalan. Meskipun mungkin akan terkesan tidak hidup. Tanpa penulis, dunia masih sanggup memberi pangan. Meskipun mungkin tidak ada lagi bahan percakapan yang bermutu.

Tapi tanpa buruh, sudah pasti dunia kelaparan. Ekonomi adalah basis struktur, dan basis struktur adalah yang menentukan segalanya. Begitu kata Marx

Adalah alur yang dipahami betul: ribuan buruh bekerja pada sebuah pabrik dan menghasilkan untung. Untung tersebut dialirkan ke gaji buruh, sebagian besar kantong pemilik pabrik, ke pemerintah, perawatan alat produksi. 

Dan tentu saja ke dana CSR (Corporate Social Responbility) yang biasanya akan dihabiskan oleh para mahasiswa untuk membuat kegiatan, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) untuk memuluskan program kerjanya yang altruistik, serta seniman untuk menggelar pertujukan.

Buruh menghasilkan barang kebutuhan. Itulah mengapa mereka berada di basis. Seniman, penulis, akademisi menghasilkan barang yang tidak terlalu penting untuk tubuh, melainkan untuk ruh—sesuatu yang Marx ragukan keberadaannya. Itulah mengapa mereka mengapung di atas basis.

Sesuatu yang di atas basis itulah selalu jadi cita-cita dan incaran orang-orang. Setidaknya penulis belum pernah mendengar anak-anak yang jika ditanya ingin jadi apa dia akan menjawab ingin jadi buruh. Mungkin sudah jadi kodrat manusia untuk lebih suka memilih sesuatu yang jumlahnya sedikit.

Mengapa tak ada cita-cita menjadi buruh? Karena gajinya kecil? Karena jumlahnya begitu banyak? Atau karena pandangan kurang menghargai dunia terhadapnya? Atau karena pekerjaan buruh adalah sesuatu yang begitu pasti? 

Karena ketika seseorang jadi buruh, dia betul-betul akan mendapat kepastian tentang besaran gajinya, tanggal berapa dia menerimanya, apa jobdesk-nya serta bagaimana rupa seragamnya.

Tapi bukankah itu sama saja dengan Tentara serta Polisi? Tetapi mengapa dua pekerjaan itu bisa lolos dan  menjadi incaran anak-anak kala kecil dulu? Karena mereka memegang senjata—ujung tombak hukum? Sedangkan buruh hanya bersenjatakan tangannya—ujung tombak ekonomi, yang, ‘hanya’ sebagai basis struktur?

Tetapi buruh bukan kepastian mutlak dan abadi. Jenis pekerjaan ini muncul karena revolusi industri. Sama seperti adanya perbudakan, Aristoteles menyebutkan bahwa tak ada manusia yang terlahir sebagai budak, tetapi mereka ada karena mereka kalah perang. Sebuah ketidakberuntungan belaka.

Namun untuk sekarang ini, buruh adalah kepastian dunia. Laksana glester di kutub utara yang menjaga suhu bumi agar tidak terlalu panas, buruh adalah gletser struktur yang menjaga suhu struktur sehingga daratan nan jauh di sana tetap sejuk. Mahasiswa dapat membuat kegiatan, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dapat merealisasikan program kerja, dan seniman dapat pamer kebolehan.

Buruh adalah juga fondasi. Itu mengapa dia jarang dilihat anak-anak yang memang sedang gemar-gemarnya menengadah. Menjadi anak-anak adalah menjadi tidak realistis. Dia belum diizinkan oleh orangtua dan gurunya untuk melihat apa yang kebanyakan terjadi pada kebanyakan orang, yaitu menjadi buruh.

Di hari buruh ini, seharusnya para buruh merayakannya, sedangkan golongan lain merenungkannya. Para buruh merayakan karena keberhasilannya sejauh ini menghidupkan kehidupan. Golongan lain merenungkan karena sampai saat ini belum ada gletser baru bagi dunia kehidupan ini.

Gletser bumi runtuh karena kebodohan manusia dalam memperlakukan lingkungan. Manusia membuang sampah sembarangan, menggunakan energi tak ramah lingkungan, membakari hutan dan sebagainya. Maka jika selama ini buruh selalu berunjuk rasa dan selalu berada di sisi berlainan dengan kekuasaan, mungkin karena manusia belum memperlakukan dunia kehidupan ini dengan baik.

Itulah mengapa gletser struktur selalu meruntuhkan diri. Unjuk rasa dan mogok kerja sama saja dengan fenomena runtuhnya gletser di kutub utara. Mereka seakan berlaku merugikan diri sendiri, untuk memberi peringatan, agar orang-orang melihat. Karena memang tak ada cara lain lagi yang lebih pantas.

Buruh tak rugi apapun jika penulis tak menghasilkan karya sastra agung, seniman tidak menggelar pertunjukan, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) tidak mempunyai program kerja maupun jika mahasiswa tidak aktif menyelenggarakan kegiatan. Jika dan hanya jika manusia memperbaiki cara hidup, alam selalu mempunyai cara untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

Sama saja, buruh akan selalu tahu cara menjaga gletser struktur agar tetap membeku agar dunia kehidupan nan jauh di sana tetap sejuk, jika dan hanya jika kita memperlakukannya dengan baik.

Sekali lagi, mengapa tak ada cita-cita menjadi buruh? Jawaban yang pantas adalah karena tidak banyak manusia yang siap untuk tidak dilihat dan dikagumi, tak peduli betapa menentukannya gletser struktur itu. Meskipun pada kenyataannya mayoritas golongan adalah buruh.

Buruh dan cita-cita masa kecil adalah salah satu paradoks tanpa selesai di dunia kehidupan ini. Selamat Hari Buruh!