Keutuhan. Saya lebih suka untuk menyebut tujuan manusia itu dengan kata keutuhan. Aristoteles berpendapat bahwa tujuan manusia adalah kebahagiaan, dan beberapa orang-orang bijak pun mengatakan bahwa tujuan manusia adalah kebahagiaan. Menurut saya kata kebahagiaan saja tidak cukup, karena kebahagiaan sangat terkait dengan suatu perasaan yang dimana perasaan itu menjadi state of mind, yang dimana perasaan itu timbul dari sebuah state of completeness. Kata kebahagiaan seperti masih terlalu abstrak.  Jadi, menjadi utuh adalah sebuah tujuan manusia mengapa dia hidup dan juga alasan mengapa Sang Maha Sempurna itu memberi kita hidup.

Keutuhan menjadi sangat amat penting disetiap lini kehidupan.  Mengapa? Karena apa yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa keutuhan adalah suatu tujuan besar manusia. Bisa kita gunakan juga kata kesempurnaan untuk lebih menjelaskan makna keutuhan itu. Memang terdengar seperti utopia. Seperti hal itu tidak akan pernah tercapai. Teringat apa yang diucapkan oleh Voltaire, “ keraguan itu tidak bagus, tetapi kepastian itu absurd “. 

Sebuah kepastian itu adalah absurd dan bagaikan sebuah angan-angan belaka. Bagaimana mencapai sebuah keutuhan dengan semua keterbatasan dalam diri manusia, ini suatu hal yang tidak dapat disangkal. Tetapi filsuf ini melupakan suatu potensi dalam diri manusia untuk mencapai kesempurnaan itu. Semua kepercayaan-kepercayaan yang mempercayai akan adanya reinkarnasi pasti meyakini adanya suatu keterlepasan dalam lingkaran hidup, atau biasa disebut Moksha. Sang Buddha telah melihat dan bertemu dengan keutuhan itu. Begitu juga oleh para Nabi. Nabi Muhammad lebih jauh lagi telah menerapkan secara real arti kesempurnaan dan keutuhan itu. Logika materialistik memang tidak akan selalu bisa menggapai statement seperti ini.

Jika membagi manusia itu menjadi dua bagian, menjadi sisi hewani dan sisi manusia. Penyatuan kedua hal ini menjadi manusia sangat amat unik. Disisi lain dia terlihat sangat terbatas dalam hal pengetahuan dan keinginannya, dan juga kemampuannya untuk menangkap konsep kesempurnaan yang oleh Descartes, adanya konsep kesempurnaan ini di dalam pikiran manusia disebabkan oleh  Sang Maha Sempurna telah menaruhnya di dalam setiap diri manusia. 

Dalam filsafat Hindu pun telah dijelaskan dibalik realitas ini terdapat jiwa yang melingkupinya, atau disebut juga dengan Brahman. Tak hanya sampai disitu, dalam diri manusia pun disebutkan bahwa terdapat jiwa yang juga sempurna dan lengkap, yaitu Atman. Brahman dan Atman adalah suatu konsep yang oleh Prof Jay Lakhani disarankan untuk memahaminya jika terdapat kekecewaan dalam konsep tuhan-tuhan yang bersemayam diatas awan. Atman sebenarnya juga bagian dari pada Brahman, yang mana diri manusia ini juga bagian dari diri alam semesta. Diri yang terdapat dalam diri manusia ini sudah lengkap dan tidak memerlukan apa-apa lagi untuk dikonsumsi dan dicari.

Kedua sifat dalam diri manusia, sifat hewani dan sifat manusia, saling berkesinambungan untuk mencapai sebuah keutuhan. Diri manusia membutuhkan berbagai potensi-potensi seperti indra, akal, hati, dan juga insting, yang pertama dan terakhir biasa dikaitkan dengan sifat-sifat hewani dan juga di dalamnya terdapat nafsu. Kedua sifat ini pun tidak hanya bersinambungan, tetapi sifat manusia harus tetap mengontrol jalan kerjanya sifat hewani ini. Jika tidak, keegoisan, keserakahan, kebatilan, kedzaliman, dan kemunafikan merajalela di dunia.

Spiritualitas yang sekarang sering dilupakan bahkan oleh dunia agama sendiri yang katanya adalah bapak dari spiritualitas. Spiritualitas adalah cara untuk menjadi manusia yang utuh. Aktifitas ekonomi, bisnis, politik dan berbagai aktifitas lainnya jika didalamnya tidak terdapat spiritualitas maka hasil akhirnya akan mengalami kerusakan dan kehancuran. Topik keutuhan ini adalah topik inti dari spiritualitas, bagaimana manusia mencapai keutuhan itu, yang pastinya tidak akan hanya berdiam dan berkutak-katik dalam dimensi materialitik dan eksklusif apalagi hedonistik, tapi mempertimbangkan dan juga mengembangkan sisi akal dan hati manusia yang dengannya akan tercapainya sebuah kesempurnaan.

Adalagi yang akan lahir dari kekuatan spiritualitas, yaitu kebijaksanaan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan keutuhan atau kesempurnaan. Kebijaksanaan menampilkan keutuhan itu dalam perbuatan, perkataan dan hubungannya dengan dunia di luar dirinya. Perbuatan yang bijak akan selalu bersifat tepat, bukan hanya soal benar dan salah. Kata tepat tidak ada antonim katanya. Ada benar karena ada salah, begitu juga sebaliknya. Tetapi kata tepat, itu adalah sangat bijak dan tidak ada lawan katanya selain kita menambahkan kata “tidak” sebelumnya.

Keutuhan yang menjadi tujuan inilah yang hilang dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap radikal dan tidak mau sedikit bersabar akan proses manusia lainnya untuk memahami apa yang menjadi keyakinan bagi dirinya itu adalah efek dari hilangnya sisi spiritualitas dalam beragama dan dalam bidang apapun. Berpolitik tanpa mempertimbangkan sisi spiritualitas akan sangat amat menghancurkan masyarakat. Begitu juga aspek-aspek kehidupan lainnya, tak terkecuali bisnis dan pendidikan.